Pages

Labels

Friday, 4 April 2014

Tentang Pemilu dan Cerita Kepalsuan


Sekitar beberapa hari yang lalu disaat aktivitas berdebu tak terlihat ngeceng. Mungkin saja kecurigaan saya ada benarnya, jika hari senin tanggal 31 Maret ada angka tanggal yang di stabilo warna merah.
Saya tidak tahu pasti dibalik tanggal merah tersebut tersimpan momen apa? Namun, saya meyakini — biasanya ada kegiatan sosial yang penting bagi bangsa ini.
Wajar kala itu, saya tidak sempat merapati kalender lusuh di dinding kediaman pak Mannan, “pemilik warung kopi depan kontrakan. 
Tapi, seingat saya waktu kecil dulu, tanggal merah berlangsung, kalau tidak upacara keagamaan, ya biasanya peringatan hari-hari bersejarah.
Pada saat itu di sore yang mendung, teman perempuan saya mendatangi saya dengan muka sumringa tanpa bahara. Entah kenapa, mungkin dia lagi minum obat mujur.
Kebetulan, selama dua hari saya tidak masuk kerajaan kampus (yang biasa teman-teman panggil istilah itu). Maklum, jika informasi mengenai apapun saya tidak tahu sama sekali.
Sangkaanku, pasti teman saya ingin ngasik tahu soal tugas-tugas kuliah yang kadang menjengkelkan — yang dianggap banyak orang jalan yang paling benar.
Dari sangkaan yang ngawur; saya mencoba menepisnya dengan sangkaan yang salah, dan ternyata dia memberitahu saya — bahwa tanggal merah tersebut adalah hari raya nyepi.
Saat itulah, saya baru tahu jika saudara saya lagi merayakan tahun baru Hindu (hari raya nyepi). Sebagai bentuk rekognisi, tidak salah jika hari itu saya bergegas mengembalikan daya ingat tentang kampung saya, kampung yang mulai disentuh pandangan modern. Namun hal itu, tidak meredupkan keinginan saya untuk pulang.
Apapun kondisinya, rupanya memang tak mengubah suasana kampung yang sempat mewariskan kenangan dalam perjalanan hidup saya, tak membuat saya benci apalagi enggan berbagi kisah yang unik.
Bagi saya, kampung adalah pelabuhan terakhir ketika perjalanan tak menemukan arah dan merasa lelah.
Tanpa pikir panjang dan mumpung liburan yang sebentar, saya harus cepat-cepat  menjumpai kampung saya yang nakal itu. Sepertinya memang sudah lama saya tidak membesuk kediaman, yang akhir-akhir ini diprovokasi rasa kangen yang membungkam.
Lalu, saya segera pulang dianter bus mini tua rentan yang biasa menjadi langganan rutin. Wajar waktu itu, kenapa saya tidak memilih angkutan yang lebih cepat dan modern, iya bukan karna apa, tapi karna saya belum mampu membayar ongkos untuk menyetop bus yang lebih gede.
Terlepas dari ketidak-mampuan saya, Kali ini justru ada yang berbeda dari suasana angkot, yang tak biasa saya temui sebelum-sebelumnya. Semua penumpang termasuk sopir yang seharusnya fokus pada jalan dan keselamatan penumpang, ternyata ngoceh soal politik, caleg dan pemilu. Pikirku, tumben si sopir dan si penumpang lainnya, membicarakan layaknya orang-orang politikus yang doyan duit.
Oh iya, tiba-tiba saya ingat tentang pesta demokrasi (pemilu) yang tanggal enam belas kemaren dikumandangkan bagi semua partai untuk melakukan janji sucinya. Resep-resep kampanye mulai diracik; mulai dari iklan yang berkeliaran di tong media, tentu juga tidak terlupa dalam bentuk pengajian dan pemberian sembako bagi rakyat yang kurang mampu.
Aneh tapi mengerikan sekali, semua berubah 100 derajat menjadi orang baik; orang yang peduli pada kemiskinan, kesengsaraan, dan berlomba-lomba mengeksploitasi wajah-wajah malaikat yang jujur dan dermawan.
Semoga saja Tuhan tidak salah melihat manusia-manusia yang beranjak ingin jadi malaikat dan segera dikabulkan mimpinya.
Tadinya, saya mau berprasangka baik. Tapi, karena ingatan saya masih stabil untuk mengingat perjalanan pemilu dari tahun ke tahun, dari sejarah ke sejarah, tetap saja palsu dan kedok.
Pemilu yang digandang-gadang sebagai pilar demokrasi, rupanya hanya jargon belaka. Meski dirasa telah banyak dari komponen yang berkepentingan dan upaya pemerintah meyakininya dan menganggap sesuatu yang wajib dita’ati dan diikuti.
Alih-alih sebagai bentuk konkrit perwujudan kedaulatan bangsa Indonesia dalam menghasilkan pemerintahan yang demokratis.
Saya sadar dan tidak sedang sakit, hanya saja terlalu banyak rasa kecewa dan bahkan masyarakat juga begitu. Bukan tidak ingin berpartisipasi dan ikut andil dalam memilih siapa pemimpinnya (presiden) dan wakil rakyatnya (DPR).
Sekali lagi, sebetulnya saya ingin jadi peserta pemilu yang cerdas dan baik. Tapi mari saya dan rakyat kecil lainnya, jangan banyak dibohongi apalagi hanya dijadikan dalih kekuasaan dan memperkaya diri.
Jika tidak mau rakyat golput dan percaya pada pemilu, harusnya pemerintah bisa memahami dengan mata yang melek. Rakyat sudah capek bergumul dengan kemiskinan, pengangguran, kelaparan, putus sekolah dll. Yang dibutuhkan rakyat bukan bacot kemana-mana, tapi bukti.
Kalaupun rakyat harus memilih golput, itu sebagai bentuk kekesalan dan kemarahan mereka, dan itu pilihan mereka.
Dan cerita tentang kepalsuan, saat ini sudah dikumandangkan. Para calon wakil rakyat dan calon pemimpin bangsa Indonesia lagi sibuk mencabuli harapan-harapan angin.
Kampanye hanya dijadikan ajang pencarian masa kekuasaan, lorong-lorong dihiasi wajah caleg-caleg masa depan. Tidak terkecuali pohon disimpang jalan pun juga menjadi tumbal motiv si caleg.
Saya jadi tidak menyangka dan berpikiran gemas, konversi kekuasaan telah membikin banyak orang terlena hanya dengan sebatas kebaikan yang berpura-pura.
Disaat kekuasaan sementara beralih pada rakyat. Tentu banyak orang yang “haus kekuasaan” berkusu-kusu mendatanginya. Iya setelah itu pergi. Bukankah memeng demikian!
Pesta demokrasi hari ini ibarat beli es degan, habis selesai minum, ya pergi. Sementara, saya bertimbang pandang — pemilu lima tahun-an ini hanya menunggu giliran dalam proses penyelenggarakan kekuasaan. Bagi yang beruntung, mujur sudah bisa menggait mimpinya.
Kalaupun saat ini kekusaan milik rakyat, tidak akan mengubah apapun. Paling hanya dibutuhkan ketika dipemilu saja. Setelahnya, kekuasaan kembali sepenuhnya berpindah tangan ke mereka yang memenangi pemilu.
Tentu harga mati bagi mereka untuk melakoni misinya menjadi nyata. Selanjutnya, deal-dealan atau proyek hitam pun akan disikat.
Hingga kini, demokrasi hanya sekedar urusan kencing dan minum. Sedangkan kekuasaan tidak ubahnya peralihan nasib yang perlu dicari.
Bukan hal yang aneh lagi, ketika duduk di kursi empuk kekuasaan, tugas dan fungsinya yang semestinya akan terabaikan. Kemudian, mulai melupa diri siapa rakya?

*****
Sedikit terlalu keasyikan dan sampai pada pembicaraan yang tidak penting tentang pemilu.
Lalu, lupa dengan si-sopir yang tadinya sangat serius ngoceh macem-macem.
Saya pun sudah tiba di rumah dan ternyata sampai lupa pada pembicaraan si-sopir yang mengapit perjalanan, dan tak sempat ngopi pula di terminal yang seharusnya menjadi leluri peristirahatan sebelum menuju pedalaman kampung.
Mungkin lain waktu, kita bisa berdiskusi tentang itu; tentang kepalsuan. Dan biarkan saja sementara kesibukan melanda negeri ini, barangkali ada kepentingan yang perlu diurus untuk memperbaiki perut yang lapar.

*****
Sampai di sini ya, cerita perjalanan singkat saya menuju tanah muara. Anggap saja tulisan ini berkesah.

Dungkek 01 April 2014
Dafir falah