Sekitar beberapa hari yang lalu disaat
aktivitas berdebu tak terlihat ngeceng. Mungkin saja kecurigaan saya ada
benarnya, jika hari senin tanggal 31 Maret ada angka tanggal yang di stabilo
warna merah.
Saya tidak tahu pasti dibalik tanggal merah
tersebut tersimpan momen apa? Namun, saya meyakini — biasanya ada kegiatan
sosial yang penting bagi bangsa ini.
Wajar kala itu, saya tidak sempat merapati
kalender lusuh di dinding kediaman pak Mannan, “pemilik warung kopi depan
kontrakan.
Tapi, seingat saya waktu kecil dulu,
tanggal merah berlangsung, kalau tidak upacara keagamaan, ya biasanya
peringatan hari-hari bersejarah.
Pada saat itu di sore yang mendung, teman
perempuan saya mendatangi saya dengan muka sumringa tanpa bahara. Entah kenapa,
mungkin dia lagi minum obat mujur.
Kebetulan, selama dua hari saya tidak masuk
kerajaan kampus (yang biasa teman-teman panggil istilah itu). Maklum, jika
informasi mengenai apapun saya tidak tahu sama sekali.
Sangkaanku, pasti teman saya ingin ngasik
tahu soal tugas-tugas kuliah yang kadang menjengkelkan — yang dianggap banyak
orang jalan yang paling benar.
Dari sangkaan yang ngawur; saya mencoba
menepisnya dengan sangkaan yang salah, dan ternyata dia memberitahu saya —
bahwa tanggal merah tersebut adalah hari raya nyepi.
Saat itulah, saya baru tahu jika saudara
saya lagi merayakan tahun baru Hindu (hari raya nyepi). Sebagai bentuk
rekognisi, tidak salah jika hari itu saya bergegas mengembalikan daya ingat
tentang kampung saya, kampung yang mulai disentuh pandangan modern. Namun hal
itu, tidak meredupkan keinginan saya untuk pulang.
Apapun kondisinya, rupanya memang tak
mengubah suasana kampung yang sempat mewariskan kenangan dalam perjalanan hidup
saya, tak membuat saya benci apalagi enggan berbagi kisah yang unik.
Bagi saya, kampung adalah pelabuhan
terakhir ketika perjalanan tak menemukan arah dan merasa lelah.
Tanpa pikir panjang dan mumpung liburan
yang sebentar, saya harus cepat-cepat menjumpai kampung saya yang nakal
itu. Sepertinya memang sudah lama saya tidak membesuk kediaman, yang
akhir-akhir ini diprovokasi rasa kangen yang membungkam.
Lalu, saya segera pulang dianter bus mini
tua rentan yang biasa menjadi langganan rutin. Wajar waktu itu, kenapa saya
tidak memilih angkutan yang lebih cepat dan modern, iya bukan karna apa, tapi
karna saya belum mampu membayar ongkos untuk menyetop bus yang lebih gede.
Terlepas dari ketidak-mampuan saya, Kali
ini justru ada yang berbeda dari suasana angkot, yang tak biasa saya temui
sebelum-sebelumnya. Semua penumpang termasuk sopir yang seharusnya fokus pada
jalan dan keselamatan penumpang, ternyata ngoceh soal politik, caleg dan
pemilu. Pikirku, tumben si sopir dan si penumpang lainnya, membicarakan
layaknya orang-orang politikus yang doyan duit.
Oh iya, tiba-tiba saya ingat tentang pesta
demokrasi (pemilu) yang tanggal enam belas kemaren dikumandangkan bagi semua
partai untuk melakukan janji sucinya. Resep-resep kampanye mulai diracik; mulai
dari iklan yang berkeliaran di tong media, tentu juga tidak terlupa dalam
bentuk pengajian dan pemberian sembako bagi rakyat yang kurang mampu.
Aneh tapi mengerikan sekali, semua berubah
100 derajat menjadi orang baik; orang yang peduli pada kemiskinan,
kesengsaraan, dan berlomba-lomba mengeksploitasi wajah-wajah malaikat yang
jujur dan dermawan.
Semoga saja Tuhan tidak salah melihat
manusia-manusia yang beranjak ingin jadi malaikat dan segera dikabulkan
mimpinya.
Tadinya, saya mau berprasangka baik. Tapi,
karena ingatan saya masih stabil untuk mengingat perjalanan pemilu dari tahun
ke tahun, dari sejarah ke sejarah, tetap saja palsu dan kedok.
Pemilu yang digandang-gadang sebagai pilar
demokrasi, rupanya hanya jargon belaka. Meski dirasa telah banyak dari komponen
yang berkepentingan dan upaya pemerintah meyakininya dan menganggap sesuatu
yang wajib dita’ati dan diikuti.
Alih-alih sebagai bentuk konkrit perwujudan
kedaulatan bangsa Indonesia dalam menghasilkan pemerintahan yang demokratis.
Saya sadar dan tidak sedang sakit, hanya
saja terlalu banyak rasa kecewa dan bahkan masyarakat juga begitu. Bukan tidak
ingin berpartisipasi dan ikut andil dalam memilih siapa pemimpinnya (presiden)
dan wakil rakyatnya (DPR).
Sekali lagi, sebetulnya saya ingin jadi
peserta pemilu yang cerdas dan baik. Tapi mari saya dan rakyat kecil lainnya,
jangan banyak dibohongi apalagi hanya dijadikan dalih kekuasaan dan memperkaya
diri.
Jika tidak mau rakyat golput dan percaya
pada pemilu, harusnya pemerintah bisa memahami dengan mata yang melek. Rakyat
sudah capek bergumul dengan kemiskinan, pengangguran, kelaparan, putus sekolah
dll. Yang dibutuhkan rakyat bukan bacot kemana-mana, tapi bukti.
Kalaupun rakyat harus memilih golput, itu
sebagai bentuk kekesalan dan kemarahan mereka, dan itu pilihan mereka.
Dan cerita tentang kepalsuan, saat ini
sudah dikumandangkan. Para calon wakil rakyat dan calon pemimpin bangsa
Indonesia lagi sibuk mencabuli harapan-harapan angin.
Kampanye hanya dijadikan ajang pencarian
masa kekuasaan, lorong-lorong dihiasi wajah caleg-caleg masa depan. Tidak
terkecuali pohon disimpang jalan pun juga menjadi tumbal motiv si caleg.
Saya jadi tidak menyangka dan berpikiran
gemas, konversi kekuasaan telah membikin banyak orang terlena hanya dengan
sebatas kebaikan yang berpura-pura.
Disaat kekuasaan sementara beralih pada
rakyat. Tentu banyak orang yang “haus kekuasaan” berkusu-kusu mendatanginya.
Iya setelah itu pergi. Bukankah memeng demikian!
Pesta demokrasi hari ini ibarat beli es
degan, habis selesai minum, ya pergi. Sementara, saya bertimbang pandang —
pemilu lima tahun-an ini hanya menunggu giliran dalam proses penyelenggarakan
kekuasaan. Bagi yang beruntung, mujur sudah bisa menggait mimpinya.
Kalaupun saat ini kekusaan milik rakyat,
tidak akan mengubah apapun. Paling hanya dibutuhkan ketika dipemilu saja.
Setelahnya, kekuasaan kembali sepenuhnya berpindah tangan ke mereka yang
memenangi pemilu.
Tentu harga mati bagi mereka untuk melakoni
misinya menjadi nyata. Selanjutnya, deal-dealan atau proyek hitam pun akan
disikat.
Hingga kini, demokrasi hanya sekedar urusan
kencing dan minum. Sedangkan kekuasaan tidak ubahnya peralihan nasib yang perlu
dicari.
Bukan hal yang aneh lagi, ketika duduk di
kursi empuk kekuasaan, tugas dan fungsinya yang semestinya akan terabaikan.
Kemudian, mulai melupa diri siapa rakya?
*** **
Sedikit terlalu keasyikan dan sampai pada
pembicaraan yang tidak penting tentang pemilu.
Lalu, lupa dengan si-sopir yang tadinya
sangat serius ngoceh macem-macem.
Saya pun sudah tiba di rumah dan ternyata
sampai lupa pada pembicaraan si-sopir yang mengapit perjalanan, dan tak sempat
ngopi pula di terminal yang seharusnya menjadi leluri peristirahatan sebelum
menuju pedalaman kampung.
Mungkin lain waktu, kita bisa berdiskusi
tentang itu; tentang kepalsuan. Dan biarkan saja sementara
kesibukan melanda negeri ini, barangkali ada kepentingan yang perlu diurus
untuk memperbaiki perut yang lapar.
*****
Sampai
di sini ya, cerita perjalanan singkat saya menuju tanah muara. Anggap saja
tulisan ini berkesah.
Dungkek 01
April 2014
Dafir falah


