Di
hari yang tua. Saya sempat bertanya pada kehausan nama yang telah banyak
memberikan saya arti akan perjalanan dan pengabdian. Di tempat teduh, masih
saja ada hangat menyapa tentang kedzaliman.
Dari
segala keyakinan dan tak terbantahkan oleh kemunafikan, saya menulis kolom ini
dengan sangat sederhana untuk lembaga pendidikan “Mahwil Ummiyah” lebih baik
dari sejarah silam. Yang jelas, kolom yang saya tulis berdasarkan buah
pikiran-pikiran sesaat yang melintas di kepala tentang suatu tema "Mahwil
Ummiyah".
Entah
karena membaca keadaan, karena omong-omongan dengan teman ngopi, mendengarkan
khotbah atau pidato seseorang, atau karena pertanyaan dari orang gila, semuanya
mengarah pada hakikat kecintaan saya pada lembaga ini.
Saya
masih ingat waktu kecil dulu, ketika saya berusia kurang lebih 16 tahun. Dimana
pada saat itu, saya menghabiskan kebodohan saya di suatu lembaga yang letaknya
di ujung timur pulau Madura.
Iya
sebut saja, Lembaga “Mahwil Ummiyah”. Ada banyak torehan sejarah yang saya
dapat dari lembaga ini.
Di
satu sisi, saya banyak belajar tentang kajian ilmu, lebih-lebih ilmu agama.
Namun, disisi lain saya juga banyak belajar tentang arti kehidupan yang tak
mesti akrab dengan saya.
Semuanya
saya lewati, meski dirasa jenuh dan marah pada keadaan tidak membuat saya
runtuh mengakar pada keputus-asaan.
Saya
tetap berjalan, mengitari semangat penuh telanjang. Tak peduli apa kata orang
tentang lembaga ini, biarlah banyak kalimat menjatuhkan, saya tetap yakin bahwa
kelak lembaga ini pasti punya alat kelamin.
Kegetiran
yang menyelinap di antara cerita-cerita yang berhamburan dari perkampungan.
“Mahwil Ummiyah”, tetap tegak berdiri menjawab zaman dengan sahaja.
Setiap
kali saya pulang kampung, saya jadi ingat kembali untuk sekedar bercerita pada
dusun: kultur pendidikan lembaga ini, dulu masih dari gubuk ke gubuk, dari
telinga ke telinga, dari mata ke mata dan dari kontak batin ke kontak batin.
Saat
itu saya merekam lampau dengan sangat jelas, bahwa lembaga ini belum punya
apa-apa, belum punya gedung sekolah yang baik, belum punya perpustakaan yang
layak, belum punya tempat parkir, belum punya kamar mandi yang bersih dan juga
belum bisa bebas menyuarakan kegelisahan nurani untuk seorang guru yang tidak
profesioanal, datang hanya ngisi absen honor, bajingan bukan!.
Bahkan
dulu belum bisa “membohongi” siswa mengenai bantuan apapun. Entah, Bantuan
Operational Siswa (BOS), Bantuan Siswa Miskin (BSM)
dan apalah namanya.
Kemudian
seringnya seorang guru tidak masuk, apa pun itu alasannya. PADAHAL hanya untuk
memberikan petuah di dalam kelas, sehingga membuat siswa tidak sungkan-sungkan
untuk nongkrong di area parkir, dan ini masih saya lihat.
Saya
heran, mengapa persoalaan klasik yang seharusnya sudah tidak ada masih saja
tetap terjadi sekarang.
Terus
siapa yang harus disalahkan? Bukankah peran seorang guru memiliki
tanggung jawab yang sangat besar, tidak hanya di dunia melainkan di akhirat,
barangkali semuanya sudah tahu, dan tak perlu rasanya saya memberikan khotbah
agama lebih serius lagi.
Saya
tidak menyalahkan, tapi ayolah sadar akan perannya. Dimana seharusnya menjadi
seorang guru dan menjadi masyarakat biasa.
Atau
memang sudah tidak pantas makna simbolik “Guru Sebagai Pahlawan Tanpa
Tanda Jasa” mending dijadikan jargon saja, biar tidak mengganggu
celoteh saya dalam menelaah kembali figur seorang guru. Saya paham, bahwa siswa
tetaplah polos menerima kepicikan.
Saya
cuma ingin menyoal keadaan yang tak berpihak pada kebenaran. Jika pikiran saya
dianggap ngelantur kemana-mana, tapi iya inilah siklus wacana dan harapan saya.
Saya
hanya memiliki “do’a”, kepedulian dan tanggung jawab sosial sebagai mantan
siswa yang ingin mengajak untuk melakukan penyadaran-penyadaran kolektif, yang
pada akhirnya akan terbentuk dikalangan generasi muda “Mahwil Ummiyah” lahir
sebagai satu komitmen-Mahwil Ummiyah bersatu dan bersih dari
kepicikan.
Oleh
karena itu, di hari yang tua ini. Kecelakaan sosial seringkali
terjadi dimana-mana, kepicikan tetaplah picik, politik pragmatis tetaplah
politik, dan pembodohan tetaplah pembodohan.
Profesionalisme
tidak lagi agresif terhadap kemaslahatan peserta didik. Tak ada lagi kearifan
hakiki suatu lembaga dalam mempertahankan logika kepatuhan dan batin
kulturalisme pengabdian.
Diakui
atau tidak, sepertinya terlalu asyik berburu sertivikasi. Akhirnya lupa pangkat
yang disandangnya dan tujuan mulia untuk menjadikan peserta didik cerdas dan
berwawasan tinggi.
Atau
karena sudah disibukkan untuk memperkaya dirinya, bukan sejatinya untuk memperkaya
pengabdian dalam mentransfer ilmu-ilmunya.
Tapi
lupakan sajalah, bagi yang sudah berpangkat sertivikasi, lekaslah
bermanja-manja menikmati keterlenaan keinginannya. Sebab Tuhan sudah
mengabulkan impiannya, sebelum Tuhan mencabut kembali.
Maaf,
jika celoteh saya terlalu pedas. Sebab hari sudah mulai tua, dan ini sebagai
bentuk kritik sosial saya terhadap peradaban pendidikan,
terutama bagi lembaga pendidikan yang dulu pernah saya kendarai.
Dengan
rasa tulus, ikhlas dan lewat segenap “tangisan batin” yang menyejukkan, melalui
kolom ini saya memiliki segenap kepedulian untuk membangun harmoni kehidupan
dalam menyoal keadaan.
Bangkalan,
19 Desember 2013
Dafir Falah



0 comments:
Post a Comment