Pages

Labels

Monday, 17 March 2014

Menyoal Keadaan Klasik

Di hari yang tua. Saya sempat bertanya pada kehausan nama yang telah banyak memberikan saya arti akan perjalanan dan pengabdian. Di tempat teduh, masih saja ada hangat menyapa tentang kedzaliman.
Dari segala keyakinan dan tak terbantahkan oleh kemunafikan, saya menulis kolom ini dengan sangat sederhana untuk lembaga pendidikan “Mahwil Ummiyah” lebih baik dari sejarah silam. Yang jelas, kolom yang saya tulis berdasarkan buah pikiran-pikiran sesaat yang melintas di kepala tentang suatu tema "Mahwil Ummiyah".  
Entah karena membaca keadaan, karena omong-omongan dengan teman ngopi, mendengarkan khotbah atau pidato seseorang, atau karena pertanyaan dari orang gila, semuanya mengarah pada hakikat kecintaan saya pada lembaga ini.
Saya masih ingat waktu kecil dulu, ketika saya berusia kurang lebih 16 tahun. Dimana pada saat itu, saya menghabiskan kebodohan saya di suatu lembaga yang letaknya di ujung timur pulau Madura.
Iya sebut saja, Lembaga “Mahwil Ummiyah”. Ada banyak torehan sejarah yang saya dapat dari lembaga ini.
Di satu sisi, saya banyak belajar tentang kajian ilmu, lebih-lebih ilmu agama. Namun, disisi lain saya juga banyak belajar tentang arti kehidupan yang tak mesti akrab dengan saya.
Semuanya saya lewati, meski dirasa jenuh dan marah pada keadaan tidak membuat saya runtuh  mengakar pada keputus-asaan.
Saya tetap berjalan, mengitari semangat penuh telanjang. Tak peduli apa kata orang tentang lembaga ini, biarlah banyak kalimat menjatuhkan, saya tetap yakin bahwa kelak lembaga ini pasti punya alat kelamin.
Kegetiran yang menyelinap di antara cerita-cerita yang berhamburan dari perkampungan. “Mahwil Ummiyah”, tetap tegak berdiri menjawab zaman dengan sahaja.
Setiap kali saya pulang kampung, saya jadi ingat kembali untuk sekedar bercerita pada dusun: kultur pendidikan lembaga ini, dulu masih dari gubuk ke gubuk, dari telinga ke telinga, dari mata ke mata dan dari kontak batin ke kontak batin.
Saat itu saya merekam lampau dengan sangat jelas, bahwa lembaga ini belum punya apa-apa, belum punya gedung sekolah yang baik, belum punya perpustakaan yang layak, belum punya tempat parkir, belum punya kamar mandi yang bersih dan juga belum bisa bebas menyuarakan kegelisahan nurani untuk seorang guru yang tidak profesioanal, datang hanya ngisi absen honor, bajingan bukan!.
Bahkan dulu belum bisa “membohongi” siswa mengenai bantuan apapun. Entah, Bantuan Operational Siswa (BOS), Bantuan Siswa Miskin (BSM) dan apalah namanya.
Kemudian seringnya seorang guru tidak masuk, apa pun itu alasannya. PADAHAL hanya untuk memberikan petuah di dalam kelas, sehingga membuat siswa tidak sungkan-sungkan untuk nongkrong di area parkir, dan ini masih saya lihat.
Saya heran, mengapa persoalaan klasik yang seharusnya sudah tidak ada masih saja tetap terjadi sekarang.
Terus siapa yang harus disalahkan?  Bukankah peran seorang guru memiliki tanggung jawab yang sangat besar, tidak hanya di dunia melainkan di akhirat, barangkali semuanya sudah tahu, dan tak perlu rasanya saya memberikan khotbah agama lebih serius lagi.
Saya tidak menyalahkan, tapi ayolah sadar akan perannya. Dimana seharusnya menjadi seorang guru dan menjadi masyarakat biasa.
Atau memang sudah tidak pantas makna simbolik “Guru Sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” mending dijadikan jargon saja, biar tidak mengganggu celoteh saya dalam menelaah kembali figur seorang guru. Saya paham, bahwa siswa tetaplah polos menerima kepicikan.
Saya cuma ingin menyoal keadaan yang tak berpihak pada kebenaran. Jika pikiran saya dianggap ngelantur kemana-mana, tapi iya inilah siklus wacana dan harapan saya.
Saya hanya memiliki “do’a”, kepedulian dan tanggung jawab sosial sebagai mantan siswa yang ingin mengajak untuk melakukan penyadaran-penyadaran kolektif, yang pada akhirnya akan terbentuk dikalangan generasi muda “Mahwil Ummiyah” lahir sebagai satu komitmen-Mahwil Ummiyah bersatu dan bersih dari kepicikan.
Oleh karena itu, di hari yang tua ini. Kecelakaan sosial seringkali terjadi dimana-mana, kepicikan tetaplah picik, politik pragmatis tetaplah politik, dan pembodohan tetaplah pembodohan.
Profesionalisme tidak lagi agresif terhadap kemaslahatan peserta didik. Tak ada lagi kearifan hakiki suatu lembaga dalam mempertahankan logika kepatuhan dan batin kulturalisme pengabdian.
Diakui atau tidak, sepertinya terlalu asyik berburu sertivikasi. Akhirnya lupa pangkat yang disandangnya dan tujuan mulia untuk menjadikan peserta didik cerdas dan berwawasan tinggi.
Atau karena sudah disibukkan untuk memperkaya dirinya, bukan sejatinya untuk memperkaya pengabdian dalam mentransfer ilmu-ilmunya.
Tapi lupakan sajalah, bagi yang sudah berpangkat sertivikasi, lekaslah bermanja-manja menikmati keterlenaan keinginannya. Sebab Tuhan sudah mengabulkan impiannya, sebelum Tuhan mencabut kembali.
Maaf, jika celoteh saya terlalu pedas. Sebab hari sudah mulai tua, dan ini sebagai bentuk kritik sosial saya terhadap peradaban pendidikan, terutama bagi lembaga pendidikan yang dulu pernah saya kendarai.
Dengan rasa tulus, ikhlas dan lewat segenap “tangisan batin” yang menyejukkan, melalui kolom ini saya memiliki segenap kepedulian untuk membangun harmoni kehidupan dalam menyoal keadaan.

Bangkalan, 19 Desember 2013
Dafir Falah


0 comments: