Pages

Labels

Saturday, 17 January 2015

Kemolekan Tubuh Humas Yang Membanci


Sebaik-baik hidup adalah berhubungan baik dengan makhluk lain. Soal bertopeng dan memasang wajah polos; itu hanya kombinasi perihal benar dan lancung. Tapi untuk melintasi batasan-batasan yang kerap menjadi rutinitas dan kepercayaanbutuh pemanis dan rayuan kreativitas.
Hari iniberhubungan baik pada orang lain menjadi peradaban baru untuk menutupi noktah yang asli. Sebab tak ada, apalagi manusia memiliki pengalaman sejarah yang panjang. Meski terkadang manusia mengandung paras dan kelam. Seperti dalam Interaksionisme Simbolik Blumersetiap manusia memiliki cara pandang sendiri dalam urusan berinteraksi.
Seperti saya yang sedang menyusun laku untuk bermuka baik.  Karena menjaga reputasi dan membangun citra diri adalah cara manusia dengan pesonanyadan hal itu wajar. Asalkan kembali seperti se-adanya.
Karena pada hakikatnya manusia memang kerap menampilkan citra dan eksistensi. Apalagi mahasiswa di kampus saya yang sedang krisis pengakuan dan nama. Di luar keterbatasan yang tak lagi dipersoalkan dan karena saya tidak punya urusan apa pun mengenai identitas diri mahasiswaapalagi menyoalnya. Kecuali berkaitan dengan hal-hal yang dianggap berdosa kepada orang banyak.
Saya sangat memafhumikarena sejatinya mahasiswa di kampus saya sedang dalam mencari wadah untuk memuncratkan ide dan bla-bla. Kesesuaian antara keinginan yang membeludak dengan kepastian yang sering menjadi wacana. Dengan angan-angan yang tak terkendali akan memunculkan percikan-percikan yang menyulut pada pemikiran anarki. Maka tentu pihak kampus semestinya tidak hanya bergeming di dalam ruangan yang ber-AC. Perlu kiranya menempatkan segala sesuatunya yang tidak bersifat niskaladengan catatan berani bersikap terbuka dan membuang kebiasaan buruk.
Bukan malah mengambil jalan pintas dengan memberdayakan penyebaran informasi yang berpura-pura dan palsu. Biar kelihatan kerendan menutupi segala tipu daya dengan berdalih bahwa seakan-akan baik-baik saja. Tanpa melalui deretan panjang untuk berkisah dengan bukti-bukti konkrit.  
Saya jadi ingatsekitar beberapa hari yang lalu.  Memang pada saat itu matahari sedang pucat dan terik. Lalu, saya dan teman saya berteduh di tempat yang sudah dianggap milik sendiri. Sambil melanjutkan obrolan yang tadinya sempat terpotong. Analogi yang sering menjadi bahan diskusi adalah keberadaan kampusmeskipun terkadang nihil dan sangat tidak mungkin. Maklum sajakarena kampus saya adalah koservatif yang setia. 
Sepanjang menekuni diskusi yang mulai larut. Kini perhatian saya tertuju pada humas atau Puclic Relation’. Dalam hal ini saya terkesan seperti mendapatkan ilham untuk sedikit membicarakannya. Satu perkara yang tak henti-hentinya saya lupakan, dan selalu menyimpan curiga yang dalam.
Bagi saya humas memang sering bersikap baik dengan public, kedekatan humas memang sangat dijaga dan bahkan selalu melimpahkan turah. Apalagi saya menganggap pekerjaan humas adalah pekerjaan yang indah dan spesial. Kebiasaan humas yang sering menebarkan pesona lewat informasi konsumtifmembuat saya semakin bergairah untuk menelanjanginya. Tapi biasanya pekerjaan humas sering menyulap sesuatu menjadi absah. Bukahnkah begitu? Atau hanya pikiran saya yang sedang klenik.
Mereka yang pandir. Seketika terkesima dengan keberadaan humas. Sebab humas telah mampu membuat satu statmen menjadi satu kesimpulan yang benar. Menjelaskan logika hipokrit kepada public sebagai bentuk rutinitas dan ruh dalam tubuh humas. Kita selalu mendengar derunya informasi lewat apologi yang bergegas di luar kesadaran diri manusia pada umumnya.
Siapa yang tidak percaya pada humas? Mengapa setiap perusahan, organisasi, instansi, perguruan tinggi dan bahkan warung kopibutuh tangan ajaib humas? Atau mungkin keberadaan saya di kampus iniada sangkut pautnya dengan tangan ajaib humas. Sementara, mungkin saya sedang menduga-duga.
Tapi, pikiran saya sangat piawai dalam mengingat masa lalu. Kecelakaan saya berada di kampus ini murni karena kesalahan saya, bukan karena brosur yang disulap oleh humas. Dan saya masih ingat dengan jelasdalam melihat brosur mata saya sedang sehat tanpa ada gangguan sedikit pun.
Pada waktu itu sekitar tiga tahun yang lalusaya mendapati brosur yang cukup memiliki kisah romantis, hingga akhirnya saya berada di kampus ini. Dan saya sangat sadar, jika ini adalah kesalahan saya. Saya telah dibutakan dengan pemanis dan racikan masif yang ada di sela-sela kalimat di brosur dengan di sertai gambar yang cukup membuat saya tertegun dan tergiur. Apalagi dengan beberapa banyak pernyataan fasilitas yang dihidangkan dan penuh kesesatansemakin sempurnalah kepandiran saya. Tapi, saya selalu percaya. Karena kesalahan yang terbaik adalah sebuah kesadaran lalu sabar mengintip hidup selanjutnya.
Saya pikir awalnya kampus ini seperti di gambar yang ada di brosur. Maklum saja waktu itu muka saya masih polos dan imut. Jadi memikirkan yang aneh-aneh belum cukup umurapalagi sampai berfikir jauh jika hal ini adalah ulah tangan ajaib humas. Segalanya yang tidak mungkin bisa terjadi, karena humas memiliki jurus jitu dalam urusan mempercantik realitas. Ia bisa menyulap sesuatu bisa nyata dan ada.
Dalam batin saya; saya sangat salut dengan keberadaan humas hari ini. Ia berani menanam seberkas informasi dan menyebarkan kabar-kabar dengkul. Dalam momen tertentu ia juga bersikap seperti banci. Tidak berjenis dan masih abu-abu.
Kadang-kadang saya merasa; mengapa fakta yang sifatnya kepentingan public selalu disuguhkan dengan yang baik-baik saja? Tidakkah ada yang bernyali menyampaikan sesuatu yang sebenarnya. Bukannya setiap institusi selalu ada corong yang dikerumuni tikus-tikus genit, misalnya. Tikus yang tidak semestinya di hormati dan disanjung-sanjung. Dan menurut kitab pribadi saya ‘wajib’ kita mengencingi tikus itu dalam upaya apa pun.
Tapi saya sadar, bila sejarah humas akan tetap selamanya menjadi bancibanci yang di bentuk, di buat, di arahkan dan sesekali menghamba pada atasan. Setelah beberapa tahun saya menjalani layaknya sebagai mahasiswa—rasa jengkel dan gusar selalu saya tuduhkan pada humas. Bukan berarti saya menyimpan dendam dan tuah yang berkepanjangan. Tapi karena sebagai bentuk kepedulian dan rasa sayang saya pada humas hari ini.
Sejatinya, saya tidak ingin para pekerja di humas masuk neraka karena dosa yang tidak di sadari. Saya ingin membantu menyelamatkan dan mau membuka hati untuk sekedar ingat—jika yang dilakukan selama ini adalah kebohongan-kebohongan. Saya akan memposisikan sebagai manusia yang selalu membuka pintu maaf pada humas.
Memang sangat tidak mungkin. Kalau pun punya nyalipaling ia akan berfikirbesok saya mau makan apa? Betapa benar dan saya sangat mengerti. Humas hari ini lahir dari dorongan yang tidak bisa menyatakan keaslian realitas dan bersikap. Ketidakberanian untuk mengungkapkan yang ada dan sebenar-benarnya—memang menjadi konstruksi untuk keberadaan humas. Menolak kebohongan dan kemunafikan adalah anomali yang bias bagi humas.
Dalam hati; saya sedang dihantui cemas—meski perhatian saya sedikit hiperbolik pada humas. Paling tidak kepedulian saya memberikan secarik ide dan emosi untuk tidak membohongi banyak orang dengan dalih yang sangat akutmulai berbenah. Humas adalah pekerjaan mengabdi bukan untuk mendengkul.
Karena itusaya jadi ingat dengan humas di kampus saya. Humas yang selalu saya kenal lewat berita-berita seputar kampus dan juga dengan sikapnya yang sering memolek tubuh kampus hingga luput dari celah. Tak pelak membuat saya gusarsebab humas di kampus saya sangat baik dan lebih mengedepankan originalitas fakta. Buktinya, tiap bulan selalu menghadirkan berita-berita objektif dan informatif. Seakan-akan pada tiap kata, adalah jujur. Semoga kecurigaan saya cukup kepada humas yang lain.

Bangkalan, Desember 2014
Dafir Falah

Wednesday, 26 November 2014

Madura dan Harapan Yang Tak Selesai

Setelah beberapa saat pikiran digenangi perenungan, halusisnasi, angan-angan, khayalan, mimpi dan bahkan harapan-harapan yang cukup meletihkan. Madura seakan-akan seperti istana yang dipenuhi beranekaragam melodrama baru. Saya masih ingat betul sekitar tahun 2009 jembatan Suramadu telah resmi sebagai jembatan terpanjang di Indonesia.
Perihal pro-kontra mengenai jembatan Suramadu telah dilalui – dan kini, seperti memulai kehidupan baru dan mestinya Madura adalah sebagai region yang bisa menawarkan banyak hal; budaya, industri dan lebih-lebih objek wisata, misalnya.
Hari kemarin, mungkin saja Madura tidak begitu banyak dipandang. Fanatisme tentang ke-Maduraannya membuat sebagian orang di luar Madura merasa ciut dan mengalami traumatik yang tak selesai. Kenakalan-kenakalan yang sering dilakukan orang madura di kota-kota besar menyeret stigma tentang Madura sebagai anomali sebuah kultur yang membeludak. Tapi, saya percaya – semenjak jembatan suramadu berani tegak, madura mulai mengalami perubahan yang sangat cantik. Meski tidak sepenuhnya menjadi sebuah aforisme yang membikin saya tidak lupa – jika Madura harus berani mengambil sikap sebagai objek wisata.
Oleh karena itu, setiap kali saya mencoba berdialog dengan diri sendiri. Jawabannya mungkin sama – mengapa Madura hanya begini-begini saja? Padahal, jembatan Suramadu telah banyak menghiasi perjalanan Madura dengan waktu yang sangat lama, kurang lebih hampir enam tahun. Jika ditarik dalam logika yang sadar dan asah. Sebenarnya potensi wisata yang dimiliki pulau Madura sangat mampu memberikan daya tarik dan nilai tawar untuk menjadikan Madura sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW).
Pantai Camplong, Pantai Lombang, Gunung Gegger, Talang Siring, Api Abadi dan masih banyak potensi wisata yang lain, misalnya, pulau Gili Labak yang baru-baru ini menjadi tempat wisata yang bisa memuaskan pandangan mata dan sesekali bercengkrama dengan keindahan pantai dan karangnya. Semestinya Madura sudah bisa menjadi ‘Bali’ sebagai tujuan parawisata. Bukan tidak mungkin – jika memang ada bentuk kognisi dan keseriusan untuk mengelola objek-objek wisata yang ada di Madura dengan tangan terbuka, dan tidak dibumbui kepentingan-kepentingan pragmatik. Saya yakin Madura (sangat bisa).
Namun, apakah hal demikian sudah pernah tersentuh? Mungkin sudah pernah menjadi bagan dan bahkan menjadi program jangka panjang disetiap kabupaten, baik pihak pemerintah maupun kesadaran masyarakat akan wisata. Tapi, sampai kapan?
Awalnya saya sangat percaya dan selalu menaruh prasangka baik terhadap Madura tentang memoles wisata yang sejatinya mampu memikat daya tarik para pengunjung. Entah kenapa, rasa percaya itu bias dalam seketika dan mengalami degradasi kreativitas yang mendalam. Setelah beberapa pekan saya sering bersantai ria di pantai Talang Siring (Pamekasan). Biasanya saya lakukan, ketika saya mau balik ke perantauan menuju salah satu perguruan tinggi di Bangkalan. Saya melihat potensi wisata ini sangat besar, jika saja ada yang merawatnya dengan serius.
Pada saat itu, sebelumnya saya sangat menikmati panorama pantai di sore hari. Genitnya ombak yang membuat saya tertegun manja sejenak. Lalu, pikiran yang mulai imajinatif dan bahkan ekstase yang tinggi– tak menghiraukan ‘malam’ yang sebentar lagi akan bertamu. Waktu itu perjalanan saya masih jauh, bahkan untuk menempuhnya mungkin butuh kiloan meter.
Saya tak peduli; waktu itu adalah saya dan pantai Talang Siring. Sungguh sangat ambisius. Namun, tiba-tiba saya dikejutkan dengan banyaknya tahi kambing yang berkeliaran seperti tak ada rencana dan kebetulan saja. Di pantai itu – saya sungguh sangat gusar. Pantai yang semestinya memiliki potensi untuk dikembangkan, dipercantik dan dihiasi oleh bingkai-bingkai kesadaran. Serius dalam membangun dan mengelola pariwisata yang ada di Madura, mungkin ceritanya akan berbeda.
Selain itu, misalnya, pantai Lombang yang cukup dikenal. Sesekali setiap hari minggu, saya sering menyapa pagi disana. Kebetulan tempat tinggal saya tidak terlalu jauh dengan pantai cemara udang itu. Ya, lumayanlah! Bermanja-manja diri, lalu memuaskan kegelisahan tubuh.  Seketika dengan peristiwa yang sama, saya juga dikagetkan dengan tumpukan tahi kuda yang berserakan. Dan tidak hanya itu, sampah-sampah disetiap sudut pantai memiliki atribut pemandangan tersendiri. Dalam pikiran saya; mungkin pihak terkait (pemerintah dan masyarakat sekitar) sudah lelah mengelolanya atau sedang kaut. Tentu hal itu akan berdampak ciut terhadap para pengunjung untuk kembali, dan bisa saja enggan untuk memberikan informasi pada yang lain.
Padahal potensi pariwisata di Madura sangat bisa dijual dan bahkan bisa mempercepat perekonomian masyarakat Madura dengan keindahan alamnya yang seksi. Kemudian, memiliki kesadaran penuh untuk merawat dan menjaganya – baik pemerintah atau masyarakat sekitar. Saya cukup yakin. Jika semua sektor yang terkait memiliki kesadaran – entah dengan melakukan pembenahan, pengelolaan yang serius, promosi yang baik. Tujuannya sangat sederhana; untuk memikat kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke objek-objek wisata di Madura.
Akhirnya dengan tenang, saya seperti menaruh mimpi dan harapan besar untuk pariwisata di Madura. Sekurang-kurangnya kegenitan pemerintah dan masyarakat untuk lebih peduli dan sadar pada pariwisata – harus segera dituntaskan. Karena memang sudah saatnya Madura menyambut esok dengan membenahi ulang potensi wisata yang semestinya akan berimplisit pada pertumbuhan ekonomi secara utuh. Bagi saya, membuang permasalahan pariwisata yang klise adalah kunci untuk mengembalikan harapan-harapan nyata tentang wisata di Madura.
 Ah, itu kan hanya fantasi saya saja. Mana mungkin Madura bisa menjadi daerah tujuan wisata? Jika persoalan semacam itu belum ada yang greget. Paling-paling saya dan pengunjung yang lain akan sering berjumpa ria dengan tahi-tahi yang tak terawat itu.

Bangkalan, 27 November 2014
Dafir Falah

Monday, 17 November 2014

P.E.L.U.H

Roh tidak hanya kehilangan kehidupan esensialnya; roh juga sadar akan kehilangannya ini, juga sadar akan keterbatasan yang merupakan muatannya sendiri. Dan kini tuntutan-tuntutan filsafat hidup bukanlah pengetahuan tentang what is – apa yang sesungguhnya, apalagi penemuan kembali melalui keagenannya tentang pengertian yang hilang mengenai ada (being) yang solid dan substansial. (G. W. F. Hegel, 1807)

Di pagi yang masih perawan itu, tepatnya di hari sabtu dan semoga saja saya tidak lupa. Saya merasa tersesat diromantisme embun dan remang-remang. Tiba-tiba saya terbangun dari tidur yang kadang tak bisa saya rencanakan sebelumnya. Mungkin karena semalam rutinitas ngopi tak bisa saya selenggarakan – akhirnya ada waktu senggang untuk bisa tidur lama. Lumayanlah buat tubuh bisa berbaring pasrah dan pulas.
Padahal, ngopi bagi saya seperti mencium bibir perempuan – selalu ada ketagihan (candu) untuk mengulanginya. Mungkin ada benarnya kritikan Karl Marx terhadap agama – yang menganggap agama adalah candu rakyat. (Seperti saya) yang selalu candu pada kopi.
Memang sekitar beberapa hari yang lalu, saya sempat tidak banyak mengenal suasana pagi. Maklum pagi saya dihabiskan dengan mencari mimpi yang tak menemukan alurnya. Alhasil saya sudah bangun menatap nyata, meski tidak seutuhnya kesadaranku kembali menyatu. Minimal cukuplah saya bisa kembali mengenal pagi dengan mesra dan seksi.
Lalu, saya keluar kamar dari apartemen Telang Indah pojok untuk sekedar menghirup udara seger dan mengintip hari. Tak lama, setelah berapa menit saya manjakan tubuh saya. Saya melihat ada seorang kakek tua dari arah barat sambil membawa plastik merah di bahunya. Sepintas dalam benak saya – mungkin barang berharga.
Saya semakin serius mengikuti langkahnya. Langkah yang mulai berat dan kaku, membuat seorang kakek menarik nafas panjang, (mungkin sedang lelah). Dari jauh depan halaman rumah, saya pura-pura sebagai pemuda yang sedang menikmati pagi.
Dalam batin saya – saya takut dianggap mengawasi gerak-gerik kakek itu, seperti di hantui cemas yang pada nantninya ada kesalahan yang tak membuat saya terengah. Saya jadi ingat apa yang dilontarkan teman saya yang biasa dipanggil ‘mbah’, teman yang selalu mengundang gelak tawa karena makannya yang lama tapi banyak dan penuh dengan menu. ‘Menghargai orang lain siapa pun itu adalah upaya sebagai bentuk mengabdi dan ber-Tuhan’. Seperti saya menjaga perasaan kakek itu dengan berpura-pura membuang pandangan saya padanya.
Tak lama kemudian, kakek itu melanjutkan langkah demi langkahnya. Kalau pun ini dipahami sebagai jeda yang tak terduga. Saya percaya bahwa segala yang tak disangka-sangka akan menimbulkan pertanyaan yang tak akan selesai. Hari itu saya benar-benar tidak menyangka bertemu dan memandangi kakek dari arah jauh. Tapi, semakin saya menapik pandangan saya pada kakek – justru mata saya semakin gelisah untuk memandanginya.
Entah kenapa kakek itu membuat saya ingin banyak tahu tentangnya. Saya sadar, jika rasa penasaran saya sangat agam pada kakek itu, atau pikiran saya yang sedang tidak beres.
Dengan terpaksa saya tetap mengikuti kemana saja kakek melangkah. Setelah beberapa langkah dituduhkan pada tanah, lalu kakek mendekati tempat sampah yang berwarna hitam di depan rumah yang biasa ditaruk oleh penghuninya. Saya mencoba menerka-nerka apa yang dilakukan kakek itu di tempat sampah. Masak ia sendang memungut sampah. Ah, dalam pikiran saya tidak mungkin kakek itu melakukannya. Bukannya setiap satu minggu dalam dua kali sehari memang ada petugas pemungut sampah.
Saya tetap berperasangka baik pada kakek itu, karena saya menganggap kakek itu adalah potret orang tua yang gigih. Tidak seperti kebanyakan orang tua yang sering kita jumpai di lampu merah. Mungkin saja saya juga tidak bisa menyalahkannya, mestinya hal semacam ini sudah tidak ada di negeri kita. Jika pemerintah mau perhatian sedikit saja dan melepaskan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Mungkin semuanya sudah selesai dan tak perlu ada pembicaraan mengenai orang-orang yang ada di lampu merah.
Oh, saya sedang lupa. Jika bumi pertiwi kita sudah beranjak dari masa lalu yang kelam. Persoalan kemiskinan dan diskriminasi seperti yang sering terjadi di lampu merah adalah kenangan yang tak diharapkan. Dulu, barangkali saya boleh mengatakan itu bagian dari kenangan pahit. Setelah beberap deret perjalanan yang dilalui oleh bumi pertiwi. Dan hari ini, bukankah kita sudah menjadi bangsa yang kaya dan murah hati. Dengan banyaknya orang-orang bumi pertiwi meninggalkan tempat tidurnya dan berbagi kemurahan dengan bangsa lain.
Se-misal; Para TKI, Profesor, Dosen, Tukang Kuli Bangunan, Pedagang Es Degan, Pembantu Rumah Tangga dengan jumlah yang banyak – mereka adalah rakyat Indonesia yang mau merelakan sebagian hidupnya untuk bangsa lain. Mereka adalah orang yang murah hati dan memiliki kedalaman yang tidak banyak dimiliki bangsa lain. Kadang pemerintah merasa sedih dan gundah jika tidak memperkerjakan rakyatnya sebagai jongos di negeri orang. Buktinya pemerintah menyediakan fasilitas dan tempat kuburan bagi para TKI yang sedikit agak nakal disana, hingga di hukum mati karena ulahnya yang brilian.
Dan kerennya, hal ini mendapatkan apresiasi dari pemerintah kita. Sekurang-kurangnya bisa tahlilan bersama di rumah korban dan untungnya pula ada bantuan uang dari pemerintah untuk keluarga yang sedang memiliki kemurahan hati di negeri orang. Percayalah, bahwa pemerintah sekarang sangat baik. Jujur, selalu peduli pada nasib rakyatnya. Kalau pun rakyat sering mendapatkan getahnya, lalu marah dan benci. Paling itu hanya sementara. Setelah itu, ia akan memaafkan kok.
Mungkin juga sama apa yang sedang dirasakan kakek itu. Dalam dugaan saya, paling ia sudah memaafkankan. Setelah beberapa saat saya tahu, jika kakek itu ternyata sedang memungut barang-barang bekas. Mencari barang bekas di tempat sampah adalah cara untuk bertahan hidup bagi kakek, sangkaanku.
Buktinya ia tidak menuntuk apa-apa, meski ia berprofesi sebagai pemungut barang bekas. Karena peluh yang bercucuran dari tubuhnya adalah bentuk kecintaannya pada bumi pertiwi. Ia menghilangkan sesuatu yang semestinya ada; kelayakan, kebahagian dan bahkan kemampuan untuk menjadi ‘manusia Indonesia’ pada umumnya. Barangkali menurut (tafsir) saya dari berbagai kitab hidup dan empiris keperpihakan – ia sedang mendahulukan aktor-aktor pasak kunci memperkaya dan menebalkan isi dompetnya dari pada dirinya sendiri.
Saya sangat yakin dengan semangat dan senyum lepasmu, kek. Kakek begitu besar hati dan tak mengeluh apa-apa. Percayalah, kek! Peluhmu hari ini adalah saksi atas segala hal yang membawamu pada satu titik kebahagian, dan selamanya.

  
Bangkalan, 17 November 2014
Dafir Falah

Saturday, 12 July 2014

BADUT-BADUT Lembaga Penipu Perampok dan Maling (LPPM)


Di tempat ini; tempat yang jauh dari kampungku dan halamanku. Mengingat bulan puasa kemaren aku bermanja diri di rumah sampai lupa pada nama-nama kota yang mesti aku bertandang. Sepintas, di bulan puasa yang sama dengan tahun yang berbeda, aku menjumpai dan bertempat tinggal di suatu desa yang memiliki kultur yang berbeda dengan desa-desa lain.
Aku belajar banyak hal tentang rangkuman yang cukup menyisahkan pori-pori kehidupan yang harus aku titi. “Desa Tlangoh”, sebuah desa yang unik menurutku. Meski kedatanganku tidak cukup sehaluan dengan suasana hati dan pikiran yang masih mempertanyakan esensi pengabdian.
Katakanlah “kuliah kerja norak (KKN)”, dimana pengabdian semacam ini – aku menyaksikan sendiri bahwa hal tersebut sangat dijunjung tinggi banyak mahasiswa dan bahkan program ini menjadi sorotan paling digemari. Sebelum akhirnya aku harus terlibat di dalamnya, dan melakukan hal bodoh sama-sama.
Aku sudah menduga jauh-jauh hari. Fase ini memang harus dilewati, walau pun harus melawan nurani. Aku kadang berpikir dan merasa malu untuk menatap wajahku sendiri.
LPPM yang dianggap sebagai dewa – telah mampu membikin linglung badut-badut mahasiswa. Seperti kehilangan akal sehat yang terjerumus pada godaan menyesatkan. Sederhana sekali pertanyaan itu sering muncul dalam pikiranku; mengapa bentuk ‘pengabdian’ harus diprogram?
Dan sampai saat ini, mahasiswa seakan-akan dibuai oleh rayuan maut LPPM. Kita dibuat tak sadarkan diri dan mengamini apa yang keluar dari mulut LPPM, menerima dan patuh sebagai bentuk penistaan terhadap identitas mahasiswa. Bukankah begitu, kawan?
Aku semakin tidak mengerti, mengapa peradaban pendidikan semakin lama – semakin di luar nalar? Dan memang sangat miris sistem pendidikan hari ini, entah sampai kapan kita akan diperbudak oleh bisnisman pendidikan.
Mungkin saatnya konspirasi mulai diminati sampai harus melibatkan dunia pendidikan. “Bukankah mengabdi adalah cara seseorang untuk melakukan sesuatu yang cukup dirasakan sendiri, tidak perlu diprogram apalagi dipamer-pamerkan”.
Dan yang lebih menjengkelkan dan membuatku gusar, mengapa wacana ini tidak pernah disentuh oleh mahasiswa yang jelas-jelas sebagai kaum intelek? Semestinya pengabdian semacam ini diurungkan dan bahkan ditiadakan kalau perlu.
Paling tidak, kita wajib menolak perbudakan yang berindikasi pada pembunuhan langkah seseorang dalam menterjamahkan pengabdian dan kebaikan. Melakukan sesuatu bukan karena siapa-siapa, tapi berangkat dari hati dan keikhlasan.
Kemudian, lenyapnya nilai dan ketulusan didasari pada prilaku yang absurd dan hyperrealitas yang dilakoni mahasiswa. Bukti yang paling porno dan goblok adalah mahasiswa dijadikan alat LPPM demi mengaut sumber-sumber kekayaan pribadi dan kelompok tertentu yang berindikasi pada keserakahan.
Dengan dalih mahasiswa disuruh bikin ini itu  yang konon katanya menyentuh langsung kepada masyarkat. Padahal posisi kita ini siapa? Kita punya waktu dan berani bayar berapa untuk melibatkan masyarakat ikut andil dalam program gila kita?
Memangnya kita punya apa yang mau diberikan kepada masyarakat? Mau menggurui mereka, mentang-mentang kita punya segudang teori yang sok-sok-an itu. Lantas mau mengajarin mereka bertani yang baik seperti apa, atau mengajari menangkap ikan yang benar seperti apa?
Bikin aku mules saja melihat pendidikan hari ini. Memandang realitas hidup secara sempit, dan tidak mau membuka lebar tentang pengetahuan masyarakat yang jelas-jelas tidak sama dengan masyarakat tempo dulu. Masyarakat sekarang sudah mengerti dan bahkan lebih pintar dari kita, kawan. “kok seperti pahlawan kesiangan saja”, geramku.
Ayolah, lekas sadar dan kembali pada yang benar. Masak masih mau ditipu oleh LPPM, dan semestinya kita sudah  dewasa memandang itu. Apalagi kita digadang-gadang sebagai kaum pemikir. Dan sangat tidak gapah, jika produk-produk LPPM diamini segampang itu tanpa adanya perundingan kembali mengenai hakikat “kuliah kerja norak (KKN)”.
Di akui atau tidak, LPPM sudah membuat otak waras kita mandul.  Padahal tujuan dari segalanya adalah proyek. Sekilas kita harus sadar betul dan jangan mau dibodoh-bodohin. Mengapa kita masih nurut saja? Tolong segera dikencingi rumah dinas LPPM dan mahasiswa pula yang menganggap LPPM adalah jembatan pembelajaran.

Selamat mengabdi untuk badut-badut mahasiswa “Kuliah Kerja Norak” (KKN),
Selamat menjadi orang mayak,
Selamat pula untuk menjadi babu LPPM,
Dan, selamat untuk LPPM yang sudah berhasil membikin mahasiswa lupa diri.


Tlangoh, 13 Juli 2014
Dafir Falah

Tuesday, 1 July 2014

PERJUANGAN = PERUT

Kala itu; sore yang masih seperti biasa, hari jumat menghiasi pembicaraan di kantin Kopma yang telah menjadi rutinitasku. Maklum, pada saat itu aku tidak sengaja berkumpul dengan kaum-kaum intelek pencari keadilan dan pejuang bangsa, “katanya sih begitu.
Dan memang sudah seperti biasa kantin Kopma adalah tempat yang paling sering aku singgahi, karena sangat sesuai dengan isi dompet yang notabene sebagai mahasiswa kelas proletar.
Meskipun hanya sekedar ngopi dan menghindar dari sebutan istilah mahasiswa ‘‘kuliah pulang-kuliah pulang’’ (kupu-kupu). Iya sekali-kali biar kelihatan keren, layaknya aktivis garang yang acap kali berdiskusi tentang hal-hal tidak penting bin melambung.
Mungkin inilah kondisi akademisi hari ini. Suasana kampus yang sudah mulai di ninabobokan oleh  pemikiran-pemikiran skeptis dan mayak. Hanya memaknai sesuatu yang kadang memandulkan gundahan-gundahan pikiran yang relatif cuma retorika.
Tentu, aku anggap kurang lebih sama-lah dengan orang-orang Multi Level Marketing. Mimpi yang terlalu menjulang tinggi, sampai pada halusinasi yang kebablasan. Hasilnya, ya proyek deal-dealan sebagai dalih perjuangan. Ya, itu pun kalau perutnya tidak lapar, sebab perjuangan hari ini tergantung pada posisi perut.
Kemudian, aku masih ingat jelas tentang obrolanku dengan kawan-kawan yang tidak bosan-bosanya mengguncing brengseknya pemerintah. Sampai pada taraf pembicaraan masa depan bangsa yang bersih, dan seharusnya bentuk perjuangan seperti apa yang perlu disuntik kepada pemerintah?
Dalam hatiku memberi sinyal karikatural. Ah, obrolan apa sih nggak penting amat? Lalu tiba-tiba, batinku berbisik  ciut. Aku sadar, sejatinya sosok mahasiswa adalah untuk perlawanan demi perubahan yang lebih baik untuk bangsa dan negara.
Dan memang semestinya pangkat itu menjadi baju dinas bagi mahasiswa sejak dini. Dari hulu sampai hilir, mahasiswa adalah pijakan yang dirindukan rakyat untuk membela hak-haknya.
Lantas, pertanyaan paling dungu sekali pun; jika ditanya tentang mahasiswa hari ini. Apakah masih melekat jiwa perjuangan yang tidak berembel-embel kepentingan suatu kelompok dan isi perut.
Sudahlah! Urungkan saja niatmu yang bertopeng itu. Sebelum aku beberkan pangjang lebar tentang kenakalanmu dan perjuanganmu yang diidam-idamkan itu. Perjuangan yang tidak kalah rendahnya dengan jongos yang perlu pangkuan.
Hey kawan! Hakikat perjuangan tidak segampang kita pahami secara kulit ular, butuh kajian dan pengamalan yang keluar dari naluri dan kejujuran paling dalam. Tidak pamrih dan tidak melihat proyek berapa besar nominalnya.
Jika perjuangan hanya dimaknai dan dipahami serendah itu, mending urus saja alat kelaminmu ke tukang tambal ban. Biar pikiranmu yang kempos itu tidak bawel dan tidak berambisi.
Kalau pun sekarang perjuangan dialibikan pada pergerakan mahasiswa untuk melawan rezim parokial, tentu sudah tidak laku dan tidak seksi lagi.
Dan aku akui, memang semestinya mahasiswa turun langsung dan lebih peduli untuk sekedar mengkaji ulang posisi tawar mahasiswa dalam melakukan kontrol sosial. Meski aku tahu situasi dan waktu telah banyak menghabiskan kemerdekaan yang dipaksa untuk menyala akhir-akhir ini.
Hari ini sudah klise bicara tentang  perjuangan dan gerakan sosial. Dulu, mungkin masih berlaku dan relevan. Tapi tidak dengan sekarang.
Kalau pun perjuangan historis kemerdekaan di Indonesia adalah “pergerakan” untuk menggulingkan rezim yang tidak beres. Aku mungkin masih satu haluan, jika melihat goresan sejarah tempo dulu.
Sekarang, ya mohon maaf! Aku tidak bisa percaya. Demonstrasi dan suara perlawanan yang katanya membela rakyat kecil, semua omong kosong. Perjuangan mahasiswa tidak ubahnya tai kambing yang kadang bisa digunakan untuk pupuk. Menjijikkan tapi berguna untuk perutnya sendiri. Iya begitulan wajah aktivis gerakan hari ini.

Bangkalan, 27 Juni 2014
Dafir Falah


Saturday, 14 June 2014

Kampret itu ‘Demokrasi’

Sejarah negeri ini memang kelam, dik. “kata penyair Madura yang waktu itu saya habiskan rokoknya di warung kopi.
Persoalan budaya, ekonomi dan bahkan politik menjadi tontonan paling sedap bagi bangsa Indonesia. Demokrasi yang digadang-gadang sebagai senjata paling ampuh untuk mengubah negeri ini lebih baik dan mengurangi angka-angka. Yang saya maksud angka adalah kemiskinan, diskriminasi dan ketidak-adilan yang semakin bertambah, dan bisa saja bertambahnya angka koruptor-koruptor baru. Semoga saja lekas sadar.
Tentu hanya sekedar bualan praktis para elit penguasa yang gelojoh. Sisa kemerdekaan telah membuat penghuni negeri ini menaruh mimpi dan harapan palsu. Apalagi transisi demokrasi yang selalu disinggung soal reformasi politik, yang konon katanya telah berhasil menggulingkan kontruksi politik rezim lama.
Dan hari ini, setelah beberapa batang rokok saya hisap. Saya ingat tentang pemilu demokrasi yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Gemuruh dan hiruk pikuk kampanye politik telah membuat mata dan pendengaran saya serasa di hujani janji-janji.
Awalnya saya ingin berprasangka baik, tapi saya masih tidak lupa dengan janji yang diamanahkan itu. Kalau pun kepercayaan rakyat Indonesia tentang pesta demokrasi dianggap sebagai keberlangsungan masa depan bangsa Indonesia selama satu priode. 
Apalagi dengan anekdot yang berkembang dan menggiurkan; “satu suara menentukan nasib bangsa Indonesia selama lima tahun ke depan”. Itu kan cuma anekdot, dik. “lagi-lagi kata penyair sekaligus mas senior.
Kemudian, hak-hak politik rakyat dan partisipasi politik yang sangat memiliki kontribusi besar, disulut kembali untuk momentum diselenggaranya pemilihan calon presiden dan wakil presiden. Meski semuanya bersumber kepentingan-kepentingan yang terus terang bukan rahasia umum lagi.
“Tukang ojek dan penjual nasi pecel kalau ditanya mengenai Indonesia – jawabannya sangat simpel, ya tentu ‘korupsi’. Jawaban yang sangat sederhana, tapi mengalami regresif kepercayaan yang mendera bangsa kita. Seharusnya bangsa Indonesia merasa jengah dengan situasi yang semakin menyedihkan. 
Kalau pun organisasi politik sebagai medium menuju pemikiran yang demokratis, yang pada akhirnya partai politik ditempatkan sebagai institusi paling penting dalam percaturan demokrasi.
Saya sih iya-iya saja, tapi jangan sampai dipaksa untuk mempercayai itu, apalagi dijadikan rujukan harga mati untuk terlibat dalam perebutan kekuasaan. Bagi saya ‘demokrasi’ sudah mati.
Lantas, masih berartikah demokrasi di negeri ini?
Kalau pun segala macam cara partai politik memainkan taringnya untuk meraih dan mencapai tujuan yang akan dikehendakinya. Mungkin indikasi berkiprahnya partai politik yang paling akrab didengar adalah demi tujuan perubahan. Mungkin saja saya bisa percaya dan mungkin saja saya juga tidak percaya. Tapi untuk kali ini, kepercayaan saya sudah habis di makan waktu.
Jika saya bersikap seperti itu – dianggap telah menghianati undang-undang; di senayan sana, dan di gedung terhormat yang kata orang sebagai penyambung lidah rakyat. Bukan hanya menghianati undang-undang – tapi kitab suci yang ditaruk di atas kepalanya, hanya dijadikan seremonial yang tidak memiliki pengaruh apa-apa. 
Padahal, jika ditarik dalam kamus besar bahasa guyonan di warung-warung kopi – berani amat si-botak itu bersumpah alih-alih ingin mengemban amanah, nggak takut disambar petir kali biar tahu rasanya.
Perubahan kampreeet. Legitimasi panggung kekuasaan sebagai bentuk oligarki demi capaian-capaian yang akan mengkerucut pada kekuatan imperium kekuasaan yang bisa melanggengkan.
Bukan tidak mungkin dan karena itulah, kepercayaan masyarakat terhadap partai politik dan politikus akan mengalami kebencian yang sampai saat ini belum bisa dijawab dengan rumus-rumus politik. 
Kemudian, banyaknya daftar nama yang menyeret petinggi-petinggi berdasi yang tersandung korupsi, maka tidak cukup untuk mengembalikan restorasi kepercayaan masyarakat kembali seperti semula, apalagi saya.

Sekret_SM, 14 Juni 2014
Dafir falah







Friday, 4 April 2014

Tentang Pemilu dan Cerita Kepalsuan


Sekitar beberapa hari yang lalu disaat aktivitas berdebu tak terlihat ngeceng. Mungkin saja kecurigaan saya ada benarnya, jika hari senin tanggal 31 Maret ada angka tanggal yang di stabilo warna merah.
Saya tidak tahu pasti dibalik tanggal merah tersebut tersimpan momen apa? Namun, saya meyakini — biasanya ada kegiatan sosial yang penting bagi bangsa ini.
Wajar kala itu, saya tidak sempat merapati kalender lusuh di dinding kediaman pak Mannan, “pemilik warung kopi depan kontrakan. 
Tapi, seingat saya waktu kecil dulu, tanggal merah berlangsung, kalau tidak upacara keagamaan, ya biasanya peringatan hari-hari bersejarah.
Pada saat itu di sore yang mendung, teman perempuan saya mendatangi saya dengan muka sumringa tanpa bahara. Entah kenapa, mungkin dia lagi minum obat mujur.
Kebetulan, selama dua hari saya tidak masuk kerajaan kampus (yang biasa teman-teman panggil istilah itu). Maklum, jika informasi mengenai apapun saya tidak tahu sama sekali.
Sangkaanku, pasti teman saya ingin ngasik tahu soal tugas-tugas kuliah yang kadang menjengkelkan — yang dianggap banyak orang jalan yang paling benar.
Dari sangkaan yang ngawur; saya mencoba menepisnya dengan sangkaan yang salah, dan ternyata dia memberitahu saya — bahwa tanggal merah tersebut adalah hari raya nyepi.
Saat itulah, saya baru tahu jika saudara saya lagi merayakan tahun baru Hindu (hari raya nyepi). Sebagai bentuk rekognisi, tidak salah jika hari itu saya bergegas mengembalikan daya ingat tentang kampung saya, kampung yang mulai disentuh pandangan modern. Namun hal itu, tidak meredupkan keinginan saya untuk pulang.
Apapun kondisinya, rupanya memang tak mengubah suasana kampung yang sempat mewariskan kenangan dalam perjalanan hidup saya, tak membuat saya benci apalagi enggan berbagi kisah yang unik.
Bagi saya, kampung adalah pelabuhan terakhir ketika perjalanan tak menemukan arah dan merasa lelah.
Tanpa pikir panjang dan mumpung liburan yang sebentar, saya harus cepat-cepat  menjumpai kampung saya yang nakal itu. Sepertinya memang sudah lama saya tidak membesuk kediaman, yang akhir-akhir ini diprovokasi rasa kangen yang membungkam.
Lalu, saya segera pulang dianter bus mini tua rentan yang biasa menjadi langganan rutin. Wajar waktu itu, kenapa saya tidak memilih angkutan yang lebih cepat dan modern, iya bukan karna apa, tapi karna saya belum mampu membayar ongkos untuk menyetop bus yang lebih gede.
Terlepas dari ketidak-mampuan saya, Kali ini justru ada yang berbeda dari suasana angkot, yang tak biasa saya temui sebelum-sebelumnya. Semua penumpang termasuk sopir yang seharusnya fokus pada jalan dan keselamatan penumpang, ternyata ngoceh soal politik, caleg dan pemilu. Pikirku, tumben si sopir dan si penumpang lainnya, membicarakan layaknya orang-orang politikus yang doyan duit.
Oh iya, tiba-tiba saya ingat tentang pesta demokrasi (pemilu) yang tanggal enam belas kemaren dikumandangkan bagi semua partai untuk melakukan janji sucinya. Resep-resep kampanye mulai diracik; mulai dari iklan yang berkeliaran di tong media, tentu juga tidak terlupa dalam bentuk pengajian dan pemberian sembako bagi rakyat yang kurang mampu.
Aneh tapi mengerikan sekali, semua berubah 100 derajat menjadi orang baik; orang yang peduli pada kemiskinan, kesengsaraan, dan berlomba-lomba mengeksploitasi wajah-wajah malaikat yang jujur dan dermawan.
Semoga saja Tuhan tidak salah melihat manusia-manusia yang beranjak ingin jadi malaikat dan segera dikabulkan mimpinya.
Tadinya, saya mau berprasangka baik. Tapi, karena ingatan saya masih stabil untuk mengingat perjalanan pemilu dari tahun ke tahun, dari sejarah ke sejarah, tetap saja palsu dan kedok.
Pemilu yang digandang-gadang sebagai pilar demokrasi, rupanya hanya jargon belaka. Meski dirasa telah banyak dari komponen yang berkepentingan dan upaya pemerintah meyakininya dan menganggap sesuatu yang wajib dita’ati dan diikuti.
Alih-alih sebagai bentuk konkrit perwujudan kedaulatan bangsa Indonesia dalam menghasilkan pemerintahan yang demokratis.
Saya sadar dan tidak sedang sakit, hanya saja terlalu banyak rasa kecewa dan bahkan masyarakat juga begitu. Bukan tidak ingin berpartisipasi dan ikut andil dalam memilih siapa pemimpinnya (presiden) dan wakil rakyatnya (DPR).
Sekali lagi, sebetulnya saya ingin jadi peserta pemilu yang cerdas dan baik. Tapi mari saya dan rakyat kecil lainnya, jangan banyak dibohongi apalagi hanya dijadikan dalih kekuasaan dan memperkaya diri.
Jika tidak mau rakyat golput dan percaya pada pemilu, harusnya pemerintah bisa memahami dengan mata yang melek. Rakyat sudah capek bergumul dengan kemiskinan, pengangguran, kelaparan, putus sekolah dll. Yang dibutuhkan rakyat bukan bacot kemana-mana, tapi bukti.
Kalaupun rakyat harus memilih golput, itu sebagai bentuk kekesalan dan kemarahan mereka, dan itu pilihan mereka.
Dan cerita tentang kepalsuan, saat ini sudah dikumandangkan. Para calon wakil rakyat dan calon pemimpin bangsa Indonesia lagi sibuk mencabuli harapan-harapan angin.
Kampanye hanya dijadikan ajang pencarian masa kekuasaan, lorong-lorong dihiasi wajah caleg-caleg masa depan. Tidak terkecuali pohon disimpang jalan pun juga menjadi tumbal motiv si caleg.
Saya jadi tidak menyangka dan berpikiran gemas, konversi kekuasaan telah membikin banyak orang terlena hanya dengan sebatas kebaikan yang berpura-pura.
Disaat kekuasaan sementara beralih pada rakyat. Tentu banyak orang yang “haus kekuasaan” berkusu-kusu mendatanginya. Iya setelah itu pergi. Bukankah memeng demikian!
Pesta demokrasi hari ini ibarat beli es degan, habis selesai minum, ya pergi. Sementara, saya bertimbang pandang — pemilu lima tahun-an ini hanya menunggu giliran dalam proses penyelenggarakan kekuasaan. Bagi yang beruntung, mujur sudah bisa menggait mimpinya.
Kalaupun saat ini kekusaan milik rakyat, tidak akan mengubah apapun. Paling hanya dibutuhkan ketika dipemilu saja. Setelahnya, kekuasaan kembali sepenuhnya berpindah tangan ke mereka yang memenangi pemilu.
Tentu harga mati bagi mereka untuk melakoni misinya menjadi nyata. Selanjutnya, deal-dealan atau proyek hitam pun akan disikat.
Hingga kini, demokrasi hanya sekedar urusan kencing dan minum. Sedangkan kekuasaan tidak ubahnya peralihan nasib yang perlu dicari.
Bukan hal yang aneh lagi, ketika duduk di kursi empuk kekuasaan, tugas dan fungsinya yang semestinya akan terabaikan. Kemudian, mulai melupa diri siapa rakya?

*****
Sedikit terlalu keasyikan dan sampai pada pembicaraan yang tidak penting tentang pemilu.
Lalu, lupa dengan si-sopir yang tadinya sangat serius ngoceh macem-macem.
Saya pun sudah tiba di rumah dan ternyata sampai lupa pada pembicaraan si-sopir yang mengapit perjalanan, dan tak sempat ngopi pula di terminal yang seharusnya menjadi leluri peristirahatan sebelum menuju pedalaman kampung.
Mungkin lain waktu, kita bisa berdiskusi tentang itu; tentang kepalsuan. Dan biarkan saja sementara kesibukan melanda negeri ini, barangkali ada kepentingan yang perlu diurus untuk memperbaiki perut yang lapar.

*****
Sampai di sini ya, cerita perjalanan singkat saya menuju tanah muara. Anggap saja tulisan ini berkesah.

Dungkek 01 April 2014
Dafir falah