Pages

Labels

Wednesday, 26 November 2014

Madura dan Harapan Yang Tak Selesai

Setelah beberapa saat pikiran digenangi perenungan, halusisnasi, angan-angan, khayalan, mimpi dan bahkan harapan-harapan yang cukup meletihkan. Madura seakan-akan seperti istana yang dipenuhi beranekaragam melodrama baru. Saya masih ingat betul sekitar tahun 2009 jembatan Suramadu telah resmi sebagai jembatan terpanjang di Indonesia.
Perihal pro-kontra mengenai jembatan Suramadu telah dilalui – dan kini, seperti memulai kehidupan baru dan mestinya Madura adalah sebagai region yang bisa menawarkan banyak hal; budaya, industri dan lebih-lebih objek wisata, misalnya.
Hari kemarin, mungkin saja Madura tidak begitu banyak dipandang. Fanatisme tentang ke-Maduraannya membuat sebagian orang di luar Madura merasa ciut dan mengalami traumatik yang tak selesai. Kenakalan-kenakalan yang sering dilakukan orang madura di kota-kota besar menyeret stigma tentang Madura sebagai anomali sebuah kultur yang membeludak. Tapi, saya percaya – semenjak jembatan suramadu berani tegak, madura mulai mengalami perubahan yang sangat cantik. Meski tidak sepenuhnya menjadi sebuah aforisme yang membikin saya tidak lupa – jika Madura harus berani mengambil sikap sebagai objek wisata.
Oleh karena itu, setiap kali saya mencoba berdialog dengan diri sendiri. Jawabannya mungkin sama – mengapa Madura hanya begini-begini saja? Padahal, jembatan Suramadu telah banyak menghiasi perjalanan Madura dengan waktu yang sangat lama, kurang lebih hampir enam tahun. Jika ditarik dalam logika yang sadar dan asah. Sebenarnya potensi wisata yang dimiliki pulau Madura sangat mampu memberikan daya tarik dan nilai tawar untuk menjadikan Madura sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW).
Pantai Camplong, Pantai Lombang, Gunung Gegger, Talang Siring, Api Abadi dan masih banyak potensi wisata yang lain, misalnya, pulau Gili Labak yang baru-baru ini menjadi tempat wisata yang bisa memuaskan pandangan mata dan sesekali bercengkrama dengan keindahan pantai dan karangnya. Semestinya Madura sudah bisa menjadi ‘Bali’ sebagai tujuan parawisata. Bukan tidak mungkin – jika memang ada bentuk kognisi dan keseriusan untuk mengelola objek-objek wisata yang ada di Madura dengan tangan terbuka, dan tidak dibumbui kepentingan-kepentingan pragmatik. Saya yakin Madura (sangat bisa).
Namun, apakah hal demikian sudah pernah tersentuh? Mungkin sudah pernah menjadi bagan dan bahkan menjadi program jangka panjang disetiap kabupaten, baik pihak pemerintah maupun kesadaran masyarakat akan wisata. Tapi, sampai kapan?
Awalnya saya sangat percaya dan selalu menaruh prasangka baik terhadap Madura tentang memoles wisata yang sejatinya mampu memikat daya tarik para pengunjung. Entah kenapa, rasa percaya itu bias dalam seketika dan mengalami degradasi kreativitas yang mendalam. Setelah beberapa pekan saya sering bersantai ria di pantai Talang Siring (Pamekasan). Biasanya saya lakukan, ketika saya mau balik ke perantauan menuju salah satu perguruan tinggi di Bangkalan. Saya melihat potensi wisata ini sangat besar, jika saja ada yang merawatnya dengan serius.
Pada saat itu, sebelumnya saya sangat menikmati panorama pantai di sore hari. Genitnya ombak yang membuat saya tertegun manja sejenak. Lalu, pikiran yang mulai imajinatif dan bahkan ekstase yang tinggi– tak menghiraukan ‘malam’ yang sebentar lagi akan bertamu. Waktu itu perjalanan saya masih jauh, bahkan untuk menempuhnya mungkin butuh kiloan meter.
Saya tak peduli; waktu itu adalah saya dan pantai Talang Siring. Sungguh sangat ambisius. Namun, tiba-tiba saya dikejutkan dengan banyaknya tahi kambing yang berkeliaran seperti tak ada rencana dan kebetulan saja. Di pantai itu – saya sungguh sangat gusar. Pantai yang semestinya memiliki potensi untuk dikembangkan, dipercantik dan dihiasi oleh bingkai-bingkai kesadaran. Serius dalam membangun dan mengelola pariwisata yang ada di Madura, mungkin ceritanya akan berbeda.
Selain itu, misalnya, pantai Lombang yang cukup dikenal. Sesekali setiap hari minggu, saya sering menyapa pagi disana. Kebetulan tempat tinggal saya tidak terlalu jauh dengan pantai cemara udang itu. Ya, lumayanlah! Bermanja-manja diri, lalu memuaskan kegelisahan tubuh.  Seketika dengan peristiwa yang sama, saya juga dikagetkan dengan tumpukan tahi kuda yang berserakan. Dan tidak hanya itu, sampah-sampah disetiap sudut pantai memiliki atribut pemandangan tersendiri. Dalam pikiran saya; mungkin pihak terkait (pemerintah dan masyarakat sekitar) sudah lelah mengelolanya atau sedang kaut. Tentu hal itu akan berdampak ciut terhadap para pengunjung untuk kembali, dan bisa saja enggan untuk memberikan informasi pada yang lain.
Padahal potensi pariwisata di Madura sangat bisa dijual dan bahkan bisa mempercepat perekonomian masyarakat Madura dengan keindahan alamnya yang seksi. Kemudian, memiliki kesadaran penuh untuk merawat dan menjaganya – baik pemerintah atau masyarakat sekitar. Saya cukup yakin. Jika semua sektor yang terkait memiliki kesadaran – entah dengan melakukan pembenahan, pengelolaan yang serius, promosi yang baik. Tujuannya sangat sederhana; untuk memikat kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke objek-objek wisata di Madura.
Akhirnya dengan tenang, saya seperti menaruh mimpi dan harapan besar untuk pariwisata di Madura. Sekurang-kurangnya kegenitan pemerintah dan masyarakat untuk lebih peduli dan sadar pada pariwisata – harus segera dituntaskan. Karena memang sudah saatnya Madura menyambut esok dengan membenahi ulang potensi wisata yang semestinya akan berimplisit pada pertumbuhan ekonomi secara utuh. Bagi saya, membuang permasalahan pariwisata yang klise adalah kunci untuk mengembalikan harapan-harapan nyata tentang wisata di Madura.
 Ah, itu kan hanya fantasi saya saja. Mana mungkin Madura bisa menjadi daerah tujuan wisata? Jika persoalan semacam itu belum ada yang greget. Paling-paling saya dan pengunjung yang lain akan sering berjumpa ria dengan tahi-tahi yang tak terawat itu.

Bangkalan, 27 November 2014
Dafir Falah

Monday, 17 November 2014

P.E.L.U.H

Roh tidak hanya kehilangan kehidupan esensialnya; roh juga sadar akan kehilangannya ini, juga sadar akan keterbatasan yang merupakan muatannya sendiri. Dan kini tuntutan-tuntutan filsafat hidup bukanlah pengetahuan tentang what is – apa yang sesungguhnya, apalagi penemuan kembali melalui keagenannya tentang pengertian yang hilang mengenai ada (being) yang solid dan substansial. (G. W. F. Hegel, 1807)

Di pagi yang masih perawan itu, tepatnya di hari sabtu dan semoga saja saya tidak lupa. Saya merasa tersesat diromantisme embun dan remang-remang. Tiba-tiba saya terbangun dari tidur yang kadang tak bisa saya rencanakan sebelumnya. Mungkin karena semalam rutinitas ngopi tak bisa saya selenggarakan – akhirnya ada waktu senggang untuk bisa tidur lama. Lumayanlah buat tubuh bisa berbaring pasrah dan pulas.
Padahal, ngopi bagi saya seperti mencium bibir perempuan – selalu ada ketagihan (candu) untuk mengulanginya. Mungkin ada benarnya kritikan Karl Marx terhadap agama – yang menganggap agama adalah candu rakyat. (Seperti saya) yang selalu candu pada kopi.
Memang sekitar beberapa hari yang lalu, saya sempat tidak banyak mengenal suasana pagi. Maklum pagi saya dihabiskan dengan mencari mimpi yang tak menemukan alurnya. Alhasil saya sudah bangun menatap nyata, meski tidak seutuhnya kesadaranku kembali menyatu. Minimal cukuplah saya bisa kembali mengenal pagi dengan mesra dan seksi.
Lalu, saya keluar kamar dari apartemen Telang Indah pojok untuk sekedar menghirup udara seger dan mengintip hari. Tak lama, setelah berapa menit saya manjakan tubuh saya. Saya melihat ada seorang kakek tua dari arah barat sambil membawa plastik merah di bahunya. Sepintas dalam benak saya – mungkin barang berharga.
Saya semakin serius mengikuti langkahnya. Langkah yang mulai berat dan kaku, membuat seorang kakek menarik nafas panjang, (mungkin sedang lelah). Dari jauh depan halaman rumah, saya pura-pura sebagai pemuda yang sedang menikmati pagi.
Dalam batin saya – saya takut dianggap mengawasi gerak-gerik kakek itu, seperti di hantui cemas yang pada nantninya ada kesalahan yang tak membuat saya terengah. Saya jadi ingat apa yang dilontarkan teman saya yang biasa dipanggil ‘mbah’, teman yang selalu mengundang gelak tawa karena makannya yang lama tapi banyak dan penuh dengan menu. ‘Menghargai orang lain siapa pun itu adalah upaya sebagai bentuk mengabdi dan ber-Tuhan’. Seperti saya menjaga perasaan kakek itu dengan berpura-pura membuang pandangan saya padanya.
Tak lama kemudian, kakek itu melanjutkan langkah demi langkahnya. Kalau pun ini dipahami sebagai jeda yang tak terduga. Saya percaya bahwa segala yang tak disangka-sangka akan menimbulkan pertanyaan yang tak akan selesai. Hari itu saya benar-benar tidak menyangka bertemu dan memandangi kakek dari arah jauh. Tapi, semakin saya menapik pandangan saya pada kakek – justru mata saya semakin gelisah untuk memandanginya.
Entah kenapa kakek itu membuat saya ingin banyak tahu tentangnya. Saya sadar, jika rasa penasaran saya sangat agam pada kakek itu, atau pikiran saya yang sedang tidak beres.
Dengan terpaksa saya tetap mengikuti kemana saja kakek melangkah. Setelah beberapa langkah dituduhkan pada tanah, lalu kakek mendekati tempat sampah yang berwarna hitam di depan rumah yang biasa ditaruk oleh penghuninya. Saya mencoba menerka-nerka apa yang dilakukan kakek itu di tempat sampah. Masak ia sendang memungut sampah. Ah, dalam pikiran saya tidak mungkin kakek itu melakukannya. Bukannya setiap satu minggu dalam dua kali sehari memang ada petugas pemungut sampah.
Saya tetap berperasangka baik pada kakek itu, karena saya menganggap kakek itu adalah potret orang tua yang gigih. Tidak seperti kebanyakan orang tua yang sering kita jumpai di lampu merah. Mungkin saja saya juga tidak bisa menyalahkannya, mestinya hal semacam ini sudah tidak ada di negeri kita. Jika pemerintah mau perhatian sedikit saja dan melepaskan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Mungkin semuanya sudah selesai dan tak perlu ada pembicaraan mengenai orang-orang yang ada di lampu merah.
Oh, saya sedang lupa. Jika bumi pertiwi kita sudah beranjak dari masa lalu yang kelam. Persoalan kemiskinan dan diskriminasi seperti yang sering terjadi di lampu merah adalah kenangan yang tak diharapkan. Dulu, barangkali saya boleh mengatakan itu bagian dari kenangan pahit. Setelah beberap deret perjalanan yang dilalui oleh bumi pertiwi. Dan hari ini, bukankah kita sudah menjadi bangsa yang kaya dan murah hati. Dengan banyaknya orang-orang bumi pertiwi meninggalkan tempat tidurnya dan berbagi kemurahan dengan bangsa lain.
Se-misal; Para TKI, Profesor, Dosen, Tukang Kuli Bangunan, Pedagang Es Degan, Pembantu Rumah Tangga dengan jumlah yang banyak – mereka adalah rakyat Indonesia yang mau merelakan sebagian hidupnya untuk bangsa lain. Mereka adalah orang yang murah hati dan memiliki kedalaman yang tidak banyak dimiliki bangsa lain. Kadang pemerintah merasa sedih dan gundah jika tidak memperkerjakan rakyatnya sebagai jongos di negeri orang. Buktinya pemerintah menyediakan fasilitas dan tempat kuburan bagi para TKI yang sedikit agak nakal disana, hingga di hukum mati karena ulahnya yang brilian.
Dan kerennya, hal ini mendapatkan apresiasi dari pemerintah kita. Sekurang-kurangnya bisa tahlilan bersama di rumah korban dan untungnya pula ada bantuan uang dari pemerintah untuk keluarga yang sedang memiliki kemurahan hati di negeri orang. Percayalah, bahwa pemerintah sekarang sangat baik. Jujur, selalu peduli pada nasib rakyatnya. Kalau pun rakyat sering mendapatkan getahnya, lalu marah dan benci. Paling itu hanya sementara. Setelah itu, ia akan memaafkan kok.
Mungkin juga sama apa yang sedang dirasakan kakek itu. Dalam dugaan saya, paling ia sudah memaafkankan. Setelah beberapa saat saya tahu, jika kakek itu ternyata sedang memungut barang-barang bekas. Mencari barang bekas di tempat sampah adalah cara untuk bertahan hidup bagi kakek, sangkaanku.
Buktinya ia tidak menuntuk apa-apa, meski ia berprofesi sebagai pemungut barang bekas. Karena peluh yang bercucuran dari tubuhnya adalah bentuk kecintaannya pada bumi pertiwi. Ia menghilangkan sesuatu yang semestinya ada; kelayakan, kebahagian dan bahkan kemampuan untuk menjadi ‘manusia Indonesia’ pada umumnya. Barangkali menurut (tafsir) saya dari berbagai kitab hidup dan empiris keperpihakan – ia sedang mendahulukan aktor-aktor pasak kunci memperkaya dan menebalkan isi dompetnya dari pada dirinya sendiri.
Saya sangat yakin dengan semangat dan senyum lepasmu, kek. Kakek begitu besar hati dan tak mengeluh apa-apa. Percayalah, kek! Peluhmu hari ini adalah saksi atas segala hal yang membawamu pada satu titik kebahagian, dan selamanya.

  
Bangkalan, 17 November 2014
Dafir Falah

Saturday, 12 July 2014

BADUT-BADUT Lembaga Penipu Perampok dan Maling (LPPM)


Di tempat ini; tempat yang jauh dari kampungku dan halamanku. Mengingat bulan puasa kemaren aku bermanja diri di rumah sampai lupa pada nama-nama kota yang mesti aku bertandang. Sepintas, di bulan puasa yang sama dengan tahun yang berbeda, aku menjumpai dan bertempat tinggal di suatu desa yang memiliki kultur yang berbeda dengan desa-desa lain.
Aku belajar banyak hal tentang rangkuman yang cukup menyisahkan pori-pori kehidupan yang harus aku titi. “Desa Tlangoh”, sebuah desa yang unik menurutku. Meski kedatanganku tidak cukup sehaluan dengan suasana hati dan pikiran yang masih mempertanyakan esensi pengabdian.
Katakanlah “kuliah kerja norak (KKN)”, dimana pengabdian semacam ini – aku menyaksikan sendiri bahwa hal tersebut sangat dijunjung tinggi banyak mahasiswa dan bahkan program ini menjadi sorotan paling digemari. Sebelum akhirnya aku harus terlibat di dalamnya, dan melakukan hal bodoh sama-sama.
Aku sudah menduga jauh-jauh hari. Fase ini memang harus dilewati, walau pun harus melawan nurani. Aku kadang berpikir dan merasa malu untuk menatap wajahku sendiri.
LPPM yang dianggap sebagai dewa – telah mampu membikin linglung badut-badut mahasiswa. Seperti kehilangan akal sehat yang terjerumus pada godaan menyesatkan. Sederhana sekali pertanyaan itu sering muncul dalam pikiranku; mengapa bentuk ‘pengabdian’ harus diprogram?
Dan sampai saat ini, mahasiswa seakan-akan dibuai oleh rayuan maut LPPM. Kita dibuat tak sadarkan diri dan mengamini apa yang keluar dari mulut LPPM, menerima dan patuh sebagai bentuk penistaan terhadap identitas mahasiswa. Bukankah begitu, kawan?
Aku semakin tidak mengerti, mengapa peradaban pendidikan semakin lama – semakin di luar nalar? Dan memang sangat miris sistem pendidikan hari ini, entah sampai kapan kita akan diperbudak oleh bisnisman pendidikan.
Mungkin saatnya konspirasi mulai diminati sampai harus melibatkan dunia pendidikan. “Bukankah mengabdi adalah cara seseorang untuk melakukan sesuatu yang cukup dirasakan sendiri, tidak perlu diprogram apalagi dipamer-pamerkan”.
Dan yang lebih menjengkelkan dan membuatku gusar, mengapa wacana ini tidak pernah disentuh oleh mahasiswa yang jelas-jelas sebagai kaum intelek? Semestinya pengabdian semacam ini diurungkan dan bahkan ditiadakan kalau perlu.
Paling tidak, kita wajib menolak perbudakan yang berindikasi pada pembunuhan langkah seseorang dalam menterjamahkan pengabdian dan kebaikan. Melakukan sesuatu bukan karena siapa-siapa, tapi berangkat dari hati dan keikhlasan.
Kemudian, lenyapnya nilai dan ketulusan didasari pada prilaku yang absurd dan hyperrealitas yang dilakoni mahasiswa. Bukti yang paling porno dan goblok adalah mahasiswa dijadikan alat LPPM demi mengaut sumber-sumber kekayaan pribadi dan kelompok tertentu yang berindikasi pada keserakahan.
Dengan dalih mahasiswa disuruh bikin ini itu  yang konon katanya menyentuh langsung kepada masyarkat. Padahal posisi kita ini siapa? Kita punya waktu dan berani bayar berapa untuk melibatkan masyarakat ikut andil dalam program gila kita?
Memangnya kita punya apa yang mau diberikan kepada masyarakat? Mau menggurui mereka, mentang-mentang kita punya segudang teori yang sok-sok-an itu. Lantas mau mengajarin mereka bertani yang baik seperti apa, atau mengajari menangkap ikan yang benar seperti apa?
Bikin aku mules saja melihat pendidikan hari ini. Memandang realitas hidup secara sempit, dan tidak mau membuka lebar tentang pengetahuan masyarakat yang jelas-jelas tidak sama dengan masyarakat tempo dulu. Masyarakat sekarang sudah mengerti dan bahkan lebih pintar dari kita, kawan. “kok seperti pahlawan kesiangan saja”, geramku.
Ayolah, lekas sadar dan kembali pada yang benar. Masak masih mau ditipu oleh LPPM, dan semestinya kita sudah  dewasa memandang itu. Apalagi kita digadang-gadang sebagai kaum pemikir. Dan sangat tidak gapah, jika produk-produk LPPM diamini segampang itu tanpa adanya perundingan kembali mengenai hakikat “kuliah kerja norak (KKN)”.
Di akui atau tidak, LPPM sudah membuat otak waras kita mandul.  Padahal tujuan dari segalanya adalah proyek. Sekilas kita harus sadar betul dan jangan mau dibodoh-bodohin. Mengapa kita masih nurut saja? Tolong segera dikencingi rumah dinas LPPM dan mahasiswa pula yang menganggap LPPM adalah jembatan pembelajaran.

Selamat mengabdi untuk badut-badut mahasiswa “Kuliah Kerja Norak” (KKN),
Selamat menjadi orang mayak,
Selamat pula untuk menjadi babu LPPM,
Dan, selamat untuk LPPM yang sudah berhasil membikin mahasiswa lupa diri.


Tlangoh, 13 Juli 2014
Dafir Falah

Tuesday, 1 July 2014

PERJUANGAN = PERUT

Kala itu; sore yang masih seperti biasa, hari jumat menghiasi pembicaraan di kantin Kopma yang telah menjadi rutinitasku. Maklum, pada saat itu aku tidak sengaja berkumpul dengan kaum-kaum intelek pencari keadilan dan pejuang bangsa, “katanya sih begitu.
Dan memang sudah seperti biasa kantin Kopma adalah tempat yang paling sering aku singgahi, karena sangat sesuai dengan isi dompet yang notabene sebagai mahasiswa kelas proletar.
Meskipun hanya sekedar ngopi dan menghindar dari sebutan istilah mahasiswa ‘‘kuliah pulang-kuliah pulang’’ (kupu-kupu). Iya sekali-kali biar kelihatan keren, layaknya aktivis garang yang acap kali berdiskusi tentang hal-hal tidak penting bin melambung.
Mungkin inilah kondisi akademisi hari ini. Suasana kampus yang sudah mulai di ninabobokan oleh  pemikiran-pemikiran skeptis dan mayak. Hanya memaknai sesuatu yang kadang memandulkan gundahan-gundahan pikiran yang relatif cuma retorika.
Tentu, aku anggap kurang lebih sama-lah dengan orang-orang Multi Level Marketing. Mimpi yang terlalu menjulang tinggi, sampai pada halusinasi yang kebablasan. Hasilnya, ya proyek deal-dealan sebagai dalih perjuangan. Ya, itu pun kalau perutnya tidak lapar, sebab perjuangan hari ini tergantung pada posisi perut.
Kemudian, aku masih ingat jelas tentang obrolanku dengan kawan-kawan yang tidak bosan-bosanya mengguncing brengseknya pemerintah. Sampai pada taraf pembicaraan masa depan bangsa yang bersih, dan seharusnya bentuk perjuangan seperti apa yang perlu disuntik kepada pemerintah?
Dalam hatiku memberi sinyal karikatural. Ah, obrolan apa sih nggak penting amat? Lalu tiba-tiba, batinku berbisik  ciut. Aku sadar, sejatinya sosok mahasiswa adalah untuk perlawanan demi perubahan yang lebih baik untuk bangsa dan negara.
Dan memang semestinya pangkat itu menjadi baju dinas bagi mahasiswa sejak dini. Dari hulu sampai hilir, mahasiswa adalah pijakan yang dirindukan rakyat untuk membela hak-haknya.
Lantas, pertanyaan paling dungu sekali pun; jika ditanya tentang mahasiswa hari ini. Apakah masih melekat jiwa perjuangan yang tidak berembel-embel kepentingan suatu kelompok dan isi perut.
Sudahlah! Urungkan saja niatmu yang bertopeng itu. Sebelum aku beberkan pangjang lebar tentang kenakalanmu dan perjuanganmu yang diidam-idamkan itu. Perjuangan yang tidak kalah rendahnya dengan jongos yang perlu pangkuan.
Hey kawan! Hakikat perjuangan tidak segampang kita pahami secara kulit ular, butuh kajian dan pengamalan yang keluar dari naluri dan kejujuran paling dalam. Tidak pamrih dan tidak melihat proyek berapa besar nominalnya.
Jika perjuangan hanya dimaknai dan dipahami serendah itu, mending urus saja alat kelaminmu ke tukang tambal ban. Biar pikiranmu yang kempos itu tidak bawel dan tidak berambisi.
Kalau pun sekarang perjuangan dialibikan pada pergerakan mahasiswa untuk melawan rezim parokial, tentu sudah tidak laku dan tidak seksi lagi.
Dan aku akui, memang semestinya mahasiswa turun langsung dan lebih peduli untuk sekedar mengkaji ulang posisi tawar mahasiswa dalam melakukan kontrol sosial. Meski aku tahu situasi dan waktu telah banyak menghabiskan kemerdekaan yang dipaksa untuk menyala akhir-akhir ini.
Hari ini sudah klise bicara tentang  perjuangan dan gerakan sosial. Dulu, mungkin masih berlaku dan relevan. Tapi tidak dengan sekarang.
Kalau pun perjuangan historis kemerdekaan di Indonesia adalah “pergerakan” untuk menggulingkan rezim yang tidak beres. Aku mungkin masih satu haluan, jika melihat goresan sejarah tempo dulu.
Sekarang, ya mohon maaf! Aku tidak bisa percaya. Demonstrasi dan suara perlawanan yang katanya membela rakyat kecil, semua omong kosong. Perjuangan mahasiswa tidak ubahnya tai kambing yang kadang bisa digunakan untuk pupuk. Menjijikkan tapi berguna untuk perutnya sendiri. Iya begitulan wajah aktivis gerakan hari ini.

Bangkalan, 27 Juni 2014
Dafir Falah


Saturday, 14 June 2014

Kampret itu ‘Demokrasi’

Sejarah negeri ini memang kelam, dik. “kata penyair Madura yang waktu itu saya habiskan rokoknya di warung kopi.
Persoalan budaya, ekonomi dan bahkan politik menjadi tontonan paling sedap bagi bangsa Indonesia. Demokrasi yang digadang-gadang sebagai senjata paling ampuh untuk mengubah negeri ini lebih baik dan mengurangi angka-angka. Yang saya maksud angka adalah kemiskinan, diskriminasi dan ketidak-adilan yang semakin bertambah, dan bisa saja bertambahnya angka koruptor-koruptor baru. Semoga saja lekas sadar.
Tentu hanya sekedar bualan praktis para elit penguasa yang gelojoh. Sisa kemerdekaan telah membuat penghuni negeri ini menaruh mimpi dan harapan palsu. Apalagi transisi demokrasi yang selalu disinggung soal reformasi politik, yang konon katanya telah berhasil menggulingkan kontruksi politik rezim lama.
Dan hari ini, setelah beberapa batang rokok saya hisap. Saya ingat tentang pemilu demokrasi yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Gemuruh dan hiruk pikuk kampanye politik telah membuat mata dan pendengaran saya serasa di hujani janji-janji.
Awalnya saya ingin berprasangka baik, tapi saya masih tidak lupa dengan janji yang diamanahkan itu. Kalau pun kepercayaan rakyat Indonesia tentang pesta demokrasi dianggap sebagai keberlangsungan masa depan bangsa Indonesia selama satu priode. 
Apalagi dengan anekdot yang berkembang dan menggiurkan; “satu suara menentukan nasib bangsa Indonesia selama lima tahun ke depan”. Itu kan cuma anekdot, dik. “lagi-lagi kata penyair sekaligus mas senior.
Kemudian, hak-hak politik rakyat dan partisipasi politik yang sangat memiliki kontribusi besar, disulut kembali untuk momentum diselenggaranya pemilihan calon presiden dan wakil presiden. Meski semuanya bersumber kepentingan-kepentingan yang terus terang bukan rahasia umum lagi.
“Tukang ojek dan penjual nasi pecel kalau ditanya mengenai Indonesia – jawabannya sangat simpel, ya tentu ‘korupsi’. Jawaban yang sangat sederhana, tapi mengalami regresif kepercayaan yang mendera bangsa kita. Seharusnya bangsa Indonesia merasa jengah dengan situasi yang semakin menyedihkan. 
Kalau pun organisasi politik sebagai medium menuju pemikiran yang demokratis, yang pada akhirnya partai politik ditempatkan sebagai institusi paling penting dalam percaturan demokrasi.
Saya sih iya-iya saja, tapi jangan sampai dipaksa untuk mempercayai itu, apalagi dijadikan rujukan harga mati untuk terlibat dalam perebutan kekuasaan. Bagi saya ‘demokrasi’ sudah mati.
Lantas, masih berartikah demokrasi di negeri ini?
Kalau pun segala macam cara partai politik memainkan taringnya untuk meraih dan mencapai tujuan yang akan dikehendakinya. Mungkin indikasi berkiprahnya partai politik yang paling akrab didengar adalah demi tujuan perubahan. Mungkin saja saya bisa percaya dan mungkin saja saya juga tidak percaya. Tapi untuk kali ini, kepercayaan saya sudah habis di makan waktu.
Jika saya bersikap seperti itu – dianggap telah menghianati undang-undang; di senayan sana, dan di gedung terhormat yang kata orang sebagai penyambung lidah rakyat. Bukan hanya menghianati undang-undang – tapi kitab suci yang ditaruk di atas kepalanya, hanya dijadikan seremonial yang tidak memiliki pengaruh apa-apa. 
Padahal, jika ditarik dalam kamus besar bahasa guyonan di warung-warung kopi – berani amat si-botak itu bersumpah alih-alih ingin mengemban amanah, nggak takut disambar petir kali biar tahu rasanya.
Perubahan kampreeet. Legitimasi panggung kekuasaan sebagai bentuk oligarki demi capaian-capaian yang akan mengkerucut pada kekuatan imperium kekuasaan yang bisa melanggengkan.
Bukan tidak mungkin dan karena itulah, kepercayaan masyarakat terhadap partai politik dan politikus akan mengalami kebencian yang sampai saat ini belum bisa dijawab dengan rumus-rumus politik. 
Kemudian, banyaknya daftar nama yang menyeret petinggi-petinggi berdasi yang tersandung korupsi, maka tidak cukup untuk mengembalikan restorasi kepercayaan masyarakat kembali seperti semula, apalagi saya.

Sekret_SM, 14 Juni 2014
Dafir falah







Friday, 4 April 2014

Tentang Pemilu dan Cerita Kepalsuan


Sekitar beberapa hari yang lalu disaat aktivitas berdebu tak terlihat ngeceng. Mungkin saja kecurigaan saya ada benarnya, jika hari senin tanggal 31 Maret ada angka tanggal yang di stabilo warna merah.
Saya tidak tahu pasti dibalik tanggal merah tersebut tersimpan momen apa? Namun, saya meyakini — biasanya ada kegiatan sosial yang penting bagi bangsa ini.
Wajar kala itu, saya tidak sempat merapati kalender lusuh di dinding kediaman pak Mannan, “pemilik warung kopi depan kontrakan. 
Tapi, seingat saya waktu kecil dulu, tanggal merah berlangsung, kalau tidak upacara keagamaan, ya biasanya peringatan hari-hari bersejarah.
Pada saat itu di sore yang mendung, teman perempuan saya mendatangi saya dengan muka sumringa tanpa bahara. Entah kenapa, mungkin dia lagi minum obat mujur.
Kebetulan, selama dua hari saya tidak masuk kerajaan kampus (yang biasa teman-teman panggil istilah itu). Maklum, jika informasi mengenai apapun saya tidak tahu sama sekali.
Sangkaanku, pasti teman saya ingin ngasik tahu soal tugas-tugas kuliah yang kadang menjengkelkan — yang dianggap banyak orang jalan yang paling benar.
Dari sangkaan yang ngawur; saya mencoba menepisnya dengan sangkaan yang salah, dan ternyata dia memberitahu saya — bahwa tanggal merah tersebut adalah hari raya nyepi.
Saat itulah, saya baru tahu jika saudara saya lagi merayakan tahun baru Hindu (hari raya nyepi). Sebagai bentuk rekognisi, tidak salah jika hari itu saya bergegas mengembalikan daya ingat tentang kampung saya, kampung yang mulai disentuh pandangan modern. Namun hal itu, tidak meredupkan keinginan saya untuk pulang.
Apapun kondisinya, rupanya memang tak mengubah suasana kampung yang sempat mewariskan kenangan dalam perjalanan hidup saya, tak membuat saya benci apalagi enggan berbagi kisah yang unik.
Bagi saya, kampung adalah pelabuhan terakhir ketika perjalanan tak menemukan arah dan merasa lelah.
Tanpa pikir panjang dan mumpung liburan yang sebentar, saya harus cepat-cepat  menjumpai kampung saya yang nakal itu. Sepertinya memang sudah lama saya tidak membesuk kediaman, yang akhir-akhir ini diprovokasi rasa kangen yang membungkam.
Lalu, saya segera pulang dianter bus mini tua rentan yang biasa menjadi langganan rutin. Wajar waktu itu, kenapa saya tidak memilih angkutan yang lebih cepat dan modern, iya bukan karna apa, tapi karna saya belum mampu membayar ongkos untuk menyetop bus yang lebih gede.
Terlepas dari ketidak-mampuan saya, Kali ini justru ada yang berbeda dari suasana angkot, yang tak biasa saya temui sebelum-sebelumnya. Semua penumpang termasuk sopir yang seharusnya fokus pada jalan dan keselamatan penumpang, ternyata ngoceh soal politik, caleg dan pemilu. Pikirku, tumben si sopir dan si penumpang lainnya, membicarakan layaknya orang-orang politikus yang doyan duit.
Oh iya, tiba-tiba saya ingat tentang pesta demokrasi (pemilu) yang tanggal enam belas kemaren dikumandangkan bagi semua partai untuk melakukan janji sucinya. Resep-resep kampanye mulai diracik; mulai dari iklan yang berkeliaran di tong media, tentu juga tidak terlupa dalam bentuk pengajian dan pemberian sembako bagi rakyat yang kurang mampu.
Aneh tapi mengerikan sekali, semua berubah 100 derajat menjadi orang baik; orang yang peduli pada kemiskinan, kesengsaraan, dan berlomba-lomba mengeksploitasi wajah-wajah malaikat yang jujur dan dermawan.
Semoga saja Tuhan tidak salah melihat manusia-manusia yang beranjak ingin jadi malaikat dan segera dikabulkan mimpinya.
Tadinya, saya mau berprasangka baik. Tapi, karena ingatan saya masih stabil untuk mengingat perjalanan pemilu dari tahun ke tahun, dari sejarah ke sejarah, tetap saja palsu dan kedok.
Pemilu yang digandang-gadang sebagai pilar demokrasi, rupanya hanya jargon belaka. Meski dirasa telah banyak dari komponen yang berkepentingan dan upaya pemerintah meyakininya dan menganggap sesuatu yang wajib dita’ati dan diikuti.
Alih-alih sebagai bentuk konkrit perwujudan kedaulatan bangsa Indonesia dalam menghasilkan pemerintahan yang demokratis.
Saya sadar dan tidak sedang sakit, hanya saja terlalu banyak rasa kecewa dan bahkan masyarakat juga begitu. Bukan tidak ingin berpartisipasi dan ikut andil dalam memilih siapa pemimpinnya (presiden) dan wakil rakyatnya (DPR).
Sekali lagi, sebetulnya saya ingin jadi peserta pemilu yang cerdas dan baik. Tapi mari saya dan rakyat kecil lainnya, jangan banyak dibohongi apalagi hanya dijadikan dalih kekuasaan dan memperkaya diri.
Jika tidak mau rakyat golput dan percaya pada pemilu, harusnya pemerintah bisa memahami dengan mata yang melek. Rakyat sudah capek bergumul dengan kemiskinan, pengangguran, kelaparan, putus sekolah dll. Yang dibutuhkan rakyat bukan bacot kemana-mana, tapi bukti.
Kalaupun rakyat harus memilih golput, itu sebagai bentuk kekesalan dan kemarahan mereka, dan itu pilihan mereka.
Dan cerita tentang kepalsuan, saat ini sudah dikumandangkan. Para calon wakil rakyat dan calon pemimpin bangsa Indonesia lagi sibuk mencabuli harapan-harapan angin.
Kampanye hanya dijadikan ajang pencarian masa kekuasaan, lorong-lorong dihiasi wajah caleg-caleg masa depan. Tidak terkecuali pohon disimpang jalan pun juga menjadi tumbal motiv si caleg.
Saya jadi tidak menyangka dan berpikiran gemas, konversi kekuasaan telah membikin banyak orang terlena hanya dengan sebatas kebaikan yang berpura-pura.
Disaat kekuasaan sementara beralih pada rakyat. Tentu banyak orang yang “haus kekuasaan” berkusu-kusu mendatanginya. Iya setelah itu pergi. Bukankah memeng demikian!
Pesta demokrasi hari ini ibarat beli es degan, habis selesai minum, ya pergi. Sementara, saya bertimbang pandang — pemilu lima tahun-an ini hanya menunggu giliran dalam proses penyelenggarakan kekuasaan. Bagi yang beruntung, mujur sudah bisa menggait mimpinya.
Kalaupun saat ini kekusaan milik rakyat, tidak akan mengubah apapun. Paling hanya dibutuhkan ketika dipemilu saja. Setelahnya, kekuasaan kembali sepenuhnya berpindah tangan ke mereka yang memenangi pemilu.
Tentu harga mati bagi mereka untuk melakoni misinya menjadi nyata. Selanjutnya, deal-dealan atau proyek hitam pun akan disikat.
Hingga kini, demokrasi hanya sekedar urusan kencing dan minum. Sedangkan kekuasaan tidak ubahnya peralihan nasib yang perlu dicari.
Bukan hal yang aneh lagi, ketika duduk di kursi empuk kekuasaan, tugas dan fungsinya yang semestinya akan terabaikan. Kemudian, mulai melupa diri siapa rakya?

*****
Sedikit terlalu keasyikan dan sampai pada pembicaraan yang tidak penting tentang pemilu.
Lalu, lupa dengan si-sopir yang tadinya sangat serius ngoceh macem-macem.
Saya pun sudah tiba di rumah dan ternyata sampai lupa pada pembicaraan si-sopir yang mengapit perjalanan, dan tak sempat ngopi pula di terminal yang seharusnya menjadi leluri peristirahatan sebelum menuju pedalaman kampung.
Mungkin lain waktu, kita bisa berdiskusi tentang itu; tentang kepalsuan. Dan biarkan saja sementara kesibukan melanda negeri ini, barangkali ada kepentingan yang perlu diurus untuk memperbaiki perut yang lapar.

*****
Sampai di sini ya, cerita perjalanan singkat saya menuju tanah muara. Anggap saja tulisan ini berkesah.

Dungkek 01 April 2014
Dafir falah





Friday, 21 March 2014

SALAH JALAN

 Berbagi kesepian adalah cara yang paling jitu dalam bertindak dan berbuat. Saat semuanya girang pada kekuasaan dan jabatan, mungkin bahasa asese melengkapi tujuan dari pada dikehendakinya 

Seketika hanya bercanda dengan waktu, dan kehidupan kampus yang terus membias dalam  diri saya. Berhari-hari disuguhi aktivitas klasik, dan itu-itu saja. 
      Mengerikan sekali saat mata dipaksa melihat kegiatan-kegiatan ulah. Tapi tidak tahu kenapa, saya tetap terima begitu saja.
Pikirku, sampai kapan aktivitas kaku ini berlanjut? Serius saya sudah muak, atau mungkin hanya perasaan saya yang salah, semoga saja saya tidak lagi gila.
Kali ini, saya tidak sedang marah. Mungkin hanya pikiran saya yang agak klenik. Dalam kepala saya, saya percaya bahwa proses tidak pernah bohong.
Kebanyakan mahasiswa, mungkin kampus merupakan prioritas utama untuk berproses.
Tapi, akhir-akhir ini saya dipenuhi ketidak-percayaan dan tentu saja kekhawatiran. Sebab, ada masalah besar yang mendorong saya untuk berpikir dan berprasangka buruk pada hunian kampus.
Sedikit saya mengalami kecurigaan, awalnya saya ingin berniat baik pada hunian kampus. Entah kenapa seketika, kepala saya nyaris tidak kuat dan nyeri, jika setiap hari saya harus mendengarkan petuah dosen, itu yang saya rasakan bertahun-tahun sampai hari ini.
Saya sadari ini kecelakaan yang saya buat atas nama kontrak jahiliyah. Masak iya, saya harus belajar teori dari orang yang sudah mati, menghamba pada pemikiran-pemikiran yang absurd.
Bagaimana mungkin, saya harus percaya betul, sedangkan saya belum tau si-tokoh warna kulitnya apa?
Tapi, tak perlu saya merasa berdosa dan rasuah, cukuplah dosen capcus menanggung semuanya, dan saya ucapkan  terimakasih telah membikin banyak manusia sesat dan bermimpi.
Di sisi lain, jujur saya kadang merasa eksklusif juga, berada di kampus peradaban. Kampus yang katanya sebagai wadah pengetahuan, yang mampu mencetak manusia-manusia  berkualitas.
Ah, omong kosong. Stigma yang terlalu overdosis kali. Tapi nggak apa-apalah, jika banyak orang menuakan pandangan tersebut. Terus terang saya agak cemas, melihat pemikiran mahasiswa hari ini.
Iya kadang emosi juga, [maaf mungkin pikiran saya lagi kotor dan terlalu berprasangka buruk].
Saya menyarankan tidak usah diambil hati apalagi sampai heboh. Saya cuma lagi ingin bermimpi, membayangkan kehidupan kampus yang dihuni mahasiswa masa depan pejuang revolusi, “katanya begitu.
Saya sengaja membiarkan waktu ini dan hari-hari saya berlalu cepat. Karena saya tidak mau lama-lama disini. Mungkin tempat ini, saya anggap musibah yang pernah saya lakukan.
Saya tidak ingin mengulang kembali. Iya, beginilah kehidupan akademisi zaman sekarang.
Tidak butuh masa yang lama, saya memang percaya; bahwa kampus hari ini banyak diminati oleh banyak orang dan laku sekali, alih-alih konon mampu mencetak generasi bangsa yang amatir, “lagi-lagi kata teman saya waktu ngopi dulu.
Tapi tidak salah juga, jika sebagian besar dari mereka masih berfantasi menjadi raja dan jagoan, sekalian jadi superhero juga nggak masalah.
Barangkali memang kampus sebagai pilihan yang paling tepat untuk merubah diri menjadi manusia perbawa.
Bagi saya, ya silahkan saja, asalkan jangan jadi tikus berdasi. Sebab setahu saya, orang besar dan peduli pada orang lain tidak harus dari kampus.
Pak becak, bu warung kopi depan kampus dan sekawannya, tidak butuh sijil untuk memperlakukan dirinya menjadi hirau. Saya pikir, mungkin cuma orang bebal yang terlalu pongah mengukur kebaikan.
Terus terang, saya mulai jenuh dengan kondisi kampus yang belakangan ini mirip kamar mandi, atau cuma pikiran saya yang konslet.
Saya tidak lagi membual, saya benar-benar menemukan titik gelisah di tempat ini  tempat yang seharusnya lebih peduli pada sesama, menguji keseriusan akan banyak hal; memperlakukan dirinya sebagai suluh solutif untuk orang lain.
Bukan berarti saya tidak yakin, selama ini saya selalu berdo’a. Semoga orang yang ada di tempat ini tidak kesurupan dan kembali pada jalan yang benar. Paling tidak mereka lebih punya empati pada kesengsaraan, memiliki kesadaran dan membangun kesahajaan.
Saya tidak memandang diri saya paling baik dan paling benar, saya hanya tidak menduga beberapa hari ini mengempik setelah kepicikan-kepicikan dibuat dalam kondisi sadar dan pura-pura blagu.
Saya tidak bisa menyebutnya satu persatu, mungkin belum ada bukti tertulis sekaligus rekaman video, dan saya juga tidak berani menyampaikan nama siapa saja yang berlakon.
Tapi, saya meyakini bahwa hal tersebut sesuat yang brengsek (cabul). Dan tidak laik dilakukan seorang “intelek” yang digadang-gadang sebagai pintu perubahan dan pembela kebenaran.
Lalu, pada saat itu saya merenung ulang. Saya mengalami rasa jengah dan gusar — sesekali ingin menukik kelakuannya. Para hunian kampus yang tidak ubahnya makhluk-makhluk setengah kerbau dicucuk hidung bermuka nabi. Semua lini tidak ada bedanya apalagi bersikap bersih, calon-calon pemimpi dan petinggi kekuasaan sama saja  sama-sama cabul. Padahal, perguruaan tinggi adalah peradaban pendidikan yang dianggap paling terhormat.
Sehingga tidak salah, jika sebagian dari mereka; menganggap sebagai pembenahan diri menuju kebajikan.
Dan seharusnya, kalaupun saat sekarang kita memposisikan diri sebagai manusia yang paling intelek (mahasiswa), yang memiliki kecendrungan untuk memahami dan mengerti kelaikan berprilaku bersih dan acuh pada sesama.
Semestinya, menyadari betul; bahwa peran dan tanggung jawab yang disandang merupakan bentuk perjuangan sosial yang mesti dilakoni.
Berharap “kini atau nanti” tentang kesadaran dan kebaikan, dan yang lalu adalah palsu.

Tengah Malam
Bangkalan, 22 Maret 2014


Monday, 17 March 2014

Demi Sarjana; Beli Ijazah Adalah Halal –ujar nabi palsu–

Sebuah potret yang menarik untuk dirundingkan dengan pikiran saya, melihat jeda yang terus berlabuh pada keadaan yang semakin gila. Olah rasa yang berangkat dari pembacaan kasus – dilakoni oleh kondom-kondom pahlawan (guru) yang tidak jelas identitasnya.
Sehingga tidak salah, jika banyak pihak tidak menerima dengan stigma saya, bahwa “jual beli ijazah seringkali terjadi dikalangan guru yang bermuka intelektual ala nabi palsu”.
Bagi saya profesi guru merupakan profesi mulia yang mesti dijaga keberadaanya, bukan malah mencedrai keabsahan profesi guru itu sendiri.
Saya tidak menyangka, belakangan ini banyak kasus beli ijazah yang dilakukan para guru, demi mendapatkan gelar sarjana sebagai penopang masa depannya.
Saya sama sekali tidak mengerti, mengapa demikian ini dijadikan rujukan prilaku yang dianggap sah-sah saja, dan tak menganggap prilaku yang dapat merugikan orang banyak –. coba bayangkan, berapa banyak yang dirugikan; jelas, pribadi orang tersebut mengajak Tuhan untuk berbohong (berbohong pada dirinya sendiri, berbohong pada Tuhannya), peserta didik dilecehkan keilmuanya, kemudian masyarakat terpacu untuk mempercayai serasa dewa kebenaran.
Padahal, saya pikir perbuatan semacam itu tidak ubahnya “maling berdinas”.
Barangkali memang ucapan demikian yang pantas saya hadiahkan untuk manusia “berengsek” itu. Tai kucing bicara kebenaran, mencerdaskan bangsa, bentuk pengabdian dan apalah namanya,  bagi saya; kesalahan tetaplah salah, tidak ada tawaran.
Karena mungkin Tuhan akan sependapat dengan saya, meski saya paham – saya masih dungu memahami kebenaran.

*****

Oh, iya maaf lagi, jika saya harus bilang [“maling berdinas”], yang jelas – kalau maling biasanya mengambil milik orang secara sembunyi-bunyi (terutama pada malam hari), atau masuk rumah/kandang sapi, kambing tanpa permisi.
Sedangkan “maling berdinas” menurut fatwa saya – mencuri ijazah melalui jalan uang dengan kompromi-kompromi terlatih, sama-sama  sembunyi, namun lebih terhormat “maling berdinas” ketimbang maling biasa, itulah yang membedakan kedua istilah tersebut, kurang lebih memiliki tujuan yang sama,  iya – sama-sama picik, menghalalkan segala cara untuk memuluskan predikat sarjana demi mengenyangkan perutnya.
Berbahagialah! bagi “maling berdinas”, karena kau lebih tinggi derajatnya dari maling biasa. Selamat, akhirnya kau terpandang.
Saya tidak peduli, mau karena tuntutan yang harus mewajibkan gelar sarjana untuk menjadi guru SMA/SMP dan sederajatnya, mau dikata ini peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), supaya cepat-cepat bergelar sarjana, agar bisa mengajar di sebuah lembaga pendidikan, atau karena untuk menambah gaji yang lebih besar dari sebelumnya, sabab setahu saya waktu masih sekolah dulu; memang tidak boleh ijazah SMA – mengajar SMA pula, begitupun perguruan tinggi dan sejenisnya.
Se-ingat saya waktu masih sekolah, dan seyogyanya memang ada banyak guru saya yang belum bergelar sarjana.
Namun, saya anggap itu sebagai bentuk pemakluman saya pada guru yang belum mendapatkan gelar sarjana.
Sekarang, saya cabut kembali – pemakluman saya hanya berlaku tempo dulu, ketika saya belum merdeka jadi manusia, sehingga membuat nalar saya mandul menerima kepatuhan jangkrek.
Kini, pandangan baru dalam ingatan saya terangsang kembali. Saat saya bermanja-manja dengan telivisi – ternyata ada sebuah tayangan yang mengingatkan saya pada kisah nalar yang mandul dulu, tentu mengenai pembelian ijazah yang dilakukan seorang guru yang belum mendapatkan gelar sarjana.
Dirasa, saya di ajak memutar kembali, bagaimana revitalisasi arah pendidikan yang tidak seharusnya berlakon demikian, namun kalau sekiranya ini cara yang bijak, silahkan! Saya tidak ingin membatasi hak orang lain, jika ini dianggap benar, monggo diteruskan.
Jika tidak terima dengan argument saya, atau mungkin ada yang salah dengan pembacaan saya, temui saya di warung kopi terdekat, kita saling jotos argument dari berbagai referensi kasus yang ada. [Sorry boss, karena saya menulis dalam kehabisan kopi dan rokok, jadinya ngelantur kemana-mana].

*****

Kembali soal “maling berdinas”. Tempo hari, saya melakukan perjalanan ke Ibu Kota (Jakarta,13). Di suatu tempat, saya di ajak ngopi oleh kawan saya yang kebetulan berdarah betawi.
Singkat saja, cuma karena kampus membuat pertemuan saya dengan kawan saya berlanjut pada almamater yang sama.
Di sana, ada semacam obrolan panjang, dari obrolan satu ke obrolan lain, seperti anak tangga yang berpindah-pindah sesekali injakan kaki yang beranjak.
Di suatu pembicaraan, tercetus dari kawan saya mengenai perguruan tinggi swasta yang menyediakan pembelian ijazah.
Sepintas, ingatan saya mendesak terenyah dalam senyum. Kemudian, “saya tanya, sambil melanjutkan suasana obrolan; memang sekarang masih menyediakan pembelian tersebut? Boro-boro, mas. Jawabnya – sekarang mah sudah gak diakui kampusnya oleh pemerintah (terutama instansi-instansi besar)”.
Tanyaku terus berlanjut pada rasa penasaran, “kok bisa begitu, iya karena ketahuan praktek jual beli ijazah, mas”. Mendengar jawaban dari kawan saya, saya merasa tambah jengkel terhadap prilaku guru yang tetap memakai paradigma “siap jadi” (instan).
Dan, yang membuat saya heran lagi; ada oknum guru yang sampai saat ini menempuh studinya ke salah satu perguruan tinggi swasta di kota apel sana, “(maaf dalam keadaan tidak sadar menyebut merek)”.
Dengan wajah sok mayak dan sok benar menambah wibawa posisi jabatan mempertaruhkan masa depan. Sehingga jalan satu-satunya mempercayai kampus kelas jauh yang siap menyediakan sarjana instan yang berkedok kompeten.
Mungkin, saya berani mengatakan; bahwa kuliah ini akan berlangsung satu bulan sekali, empat bulan sekali dan bahkan langsung prosesi wisuda tanpa tahu bangku kuliahannya warna apa, mejanya warna apa, mengerikan bukan! Akhirnya, tercetaklah guru abal-abal yang siap pakek.
Tapi, iya beginilah kondisi riil yang mesti saya lihat. Padahal, saya merasa bahwa profesi guru harus mampu dan kompeten dalam melakoni identitas sebagai penuntun moral anak bangsa,  bukan sepantasnya guru melakukan praktek beli ijazah dan menempuh pendidikan kampus kelas jauh.
Guru bukan tukang kuli bangunan, yang siap membuat bangunan rumah paling lama empat bulan atau satu tahun, tidak hanya itu – butuh proses yang harus ditempuh.
Kalau saya meminjam bahasanya, Paul Suparno; Guru bukanlah seorang tukang dan perkerjaan  ”sambilan”, tetapi seorang intelektual yang harus menyesuaikan  diri dengan situasi dan persoalan yang dihadapi.
Apabila pendidikan di Indonesia ini ingin  maju dan berhasil, maka memang para guru, yang menjadi ujung tombaknya harus sungguh profesional, baik dalam bidang keahliannya [kompetensi], dalam bidang pendampingan, dan dalam kehidupannya yang dapat dicontoh oleh sisiwa.
Profesi guru, sekarang memang menjadi dambaan paling diminati oleh banyak orang. Buktinya, di kampus saya sendiri – jurusan paling banyak adalah jurusan yang mencetak lulusan profesi guru, [termasuk, manusia di kampung saya], berbagai cara dilakukan untuk mendapatkan gelar sarjana, apalagi salah satu syarat sertifikasi adalah guru harus berpendidikan minimal starata satu atau sarjana.
Namun, apakah dengan cara picik semacam itu? Dan, jika sudah mendapat gelar sarjana, paling tidak ada peluang untuk mengikuti tes seleksi Pegawai Negeri Semprul (PNS), oh salah “Pegawai Negeri Sipil”.

*****

Saya menganggap, jangan-jangan ini hanya peralihan profesi dengan maksud menutupi statusnya sebagai pengangguran.
Melarikan diri dalam suatu profesi mulia, namun membenarkan sesuatu yang salah. Lalu, untuk apa melakukan semuanya? Saya sering kesal terhadap diri saya sendiri, bertanya pada keadaan.
Mengapa wajah pendidikan harus seperti ini? Kalau masih ada jalan menuntut kita untuk jujur – kenapa tidak berbuat jujur? Mengapa harus berbuat KKN demi menjamin hidupnya lebih aman? 
Saya tahu, dan paham; hari ini, tidak ada guru yang siap untuk tidak dibayar. Namun, saya juga mengerti; kewajiban dan hak selalu bergandeng tangan menjawab zaman.
Jika semunya diikuti sesuai poros kehidupan, tak perlu melakukan hal picik dan sejenisnya. Saya bukan nabi yang dijamin surga – kesempurnaan yang dipredikatkan padanya merupakan kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia pada umumnya, dan manusia seperti saya tidak ada apa-apanya.
Saya sadari, saya memang sering berbuat dosa sama dengan manusia lainnya. Tapi, biar dosa saya – saya tanggung sendiri dengan Tuhan saya.
Tidak perlu orang lain menanggung dosa saya, paling tidak orang-orang disekitar saya, tidak saya rugikan apalagi menjadi korban atas dosa sosial yang saya lakukan. Beli ijazah dan menempuh kuliah kampus kelas jauh demi mendapatkan gelar sarjana, tidak cukup wajah pendidikan dikencingi.
Saya sudah sangat cukup melihat negeri ini berantakan, jangan ditambah lagi dong, biarlah institusi pemerintahan sana semakin carut-marut.
Media yang selalu mempertontonkan prilaku pejabat mengantarkan pemahaman saya pada kondisi pasrah, tinggal menunggu dan melihat Indonesia kapan hancurnya.
Sekarang, harapan Indonesia, hanya butuh pada orang-orang jujur dan tidak kompromi pada kepicikan demi mengamankan dirinya dari kesejahteraan hidupnya.

Bangkalan, 13 Desember 2013
Dafir Falah