Setelah beberapa saat pikiran digenangi perenungan,
halusisnasi, angan-angan, khayalan, mimpi
dan bahkan harapan-harapan yang cukup meletihkan. Madura seakan-akan seperti
istana yang dipenuhi beranekaragam melodrama baru. Saya masih ingat betul sekitar tahun 2009 jembatan
Suramadu telah resmi sebagai jembatan terpanjang di Indonesia.
Perihal pro-kontra mengenai jembatan Suramadu telah dilalui
– dan kini, seperti memulai kehidupan baru dan mestinya Madura adalah sebagai
region yang bisa menawarkan banyak hal; budaya, industri dan lebih-lebih objek
wisata, misalnya.
Hari kemarin, mungkin saja Madura tidak begitu banyak
dipandang. Fanatisme tentang ke-Maduraannya membuat sebagian orang di luar Madura
merasa ciut dan mengalami traumatik yang tak selesai. Kenakalan-kenakalan yang
sering dilakukan orang madura di kota-kota besar menyeret stigma tentang Madura
sebagai anomali sebuah kultur yang membeludak. Tapi, saya percaya – semenjak
jembatan suramadu berani tegak, madura mulai mengalami perubahan yang sangat
cantik. Meski tidak sepenuhnya menjadi sebuah aforisme yang membikin saya tidak
lupa – jika Madura harus berani mengambil sikap sebagai objek wisata.
Oleh karena itu, setiap kali saya mencoba berdialog
dengan diri sendiri. Jawabannya mungkin sama – mengapa Madura hanya
begini-begini saja? Padahal, jembatan Suramadu telah banyak menghiasi perjalanan
Madura dengan waktu yang sangat lama, kurang lebih hampir enam tahun. Jika
ditarik dalam logika yang sadar dan asah. Sebenarnya potensi wisata yang
dimiliki pulau Madura sangat mampu memberikan daya tarik dan nilai tawar untuk
menjadikan Madura sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW).
Pantai Camplong, Pantai Lombang, Gunung Gegger, Talang
Siring, Api Abadi dan masih banyak potensi wisata yang lain, misalnya, pulau
Gili Labak yang baru-baru ini menjadi tempat wisata yang bisa memuaskan
pandangan mata dan sesekali bercengkrama dengan keindahan pantai dan karangnya.
Semestinya Madura sudah bisa menjadi ‘Bali’ sebagai tujuan parawisata. Bukan
tidak mungkin – jika memang ada bentuk kognisi dan keseriusan untuk mengelola
objek-objek wisata yang ada di Madura dengan tangan terbuka, dan tidak dibumbui
kepentingan-kepentingan pragmatik. Saya yakin Madura (sangat bisa).
Namun, apakah hal demikian sudah pernah tersentuh?
Mungkin sudah pernah menjadi bagan dan bahkan menjadi program jangka panjang
disetiap kabupaten, baik pihak pemerintah maupun kesadaran masyarakat akan
wisata. Tapi, sampai kapan?
Awalnya saya sangat percaya dan selalu menaruh
prasangka baik terhadap Madura tentang memoles wisata yang sejatinya mampu
memikat daya tarik para pengunjung. Entah kenapa, rasa percaya itu bias dalam
seketika dan mengalami degradasi kreativitas yang mendalam. Setelah beberapa
pekan saya sering bersantai ria di pantai Talang Siring (Pamekasan). Biasanya
saya lakukan, ketika saya mau balik ke perantauan menuju salah satu perguruan
tinggi di Bangkalan. Saya melihat potensi wisata ini sangat besar, jika saja
ada yang merawatnya dengan serius.
Pada saat itu, sebelumnya saya sangat menikmati
panorama pantai di sore hari. Genitnya ombak yang membuat saya tertegun manja
sejenak. Lalu, pikiran yang mulai imajinatif dan bahkan ekstase yang tinggi–
tak menghiraukan ‘malam’ yang sebentar lagi akan bertamu. Waktu itu perjalanan
saya masih jauh, bahkan untuk menempuhnya mungkin butuh kiloan meter.
Saya tak peduli; waktu itu adalah saya dan pantai
Talang Siring. Sungguh sangat ambisius. Namun, tiba-tiba saya dikejutkan dengan
banyaknya tahi kambing yang berkeliaran seperti tak ada rencana dan kebetulan
saja. Di pantai itu – saya sungguh sangat gusar. Pantai yang semestinya
memiliki potensi untuk dikembangkan, dipercantik dan dihiasi oleh
bingkai-bingkai kesadaran. Serius dalam membangun dan mengelola pariwisata yang
ada di Madura, mungkin ceritanya akan berbeda.
Selain itu, misalnya, pantai Lombang yang cukup
dikenal. Sesekali setiap hari minggu, saya sering menyapa pagi disana.
Kebetulan tempat tinggal saya tidak terlalu jauh dengan pantai cemara udang
itu. Ya, lumayanlah! Bermanja-manja diri, lalu memuaskan kegelisahan
tubuh. Seketika dengan peristiwa yang
sama, saya juga dikagetkan dengan tumpukan tahi kuda yang berserakan. Dan tidak
hanya itu, sampah-sampah disetiap sudut pantai memiliki atribut pemandangan
tersendiri. Dalam pikiran saya; mungkin pihak terkait (pemerintah dan
masyarakat sekitar) sudah lelah mengelolanya atau sedang kaut. Tentu hal itu
akan berdampak ciut terhadap para pengunjung untuk kembali, dan bisa saja
enggan untuk memberikan informasi pada yang lain.
Padahal potensi pariwisata di Madura sangat bisa
dijual dan bahkan bisa mempercepat perekonomian masyarakat Madura dengan
keindahan alamnya yang seksi. Kemudian, memiliki kesadaran penuh untuk merawat
dan menjaganya – baik pemerintah atau masyarakat sekitar. Saya cukup yakin.
Jika semua sektor yang terkait memiliki kesadaran – entah dengan melakukan
pembenahan, pengelolaan yang serius, promosi yang baik. Tujuannya sangat
sederhana; untuk memikat kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke objek-objek
wisata di Madura.
Akhirnya dengan tenang, saya seperti menaruh mimpi dan
harapan besar untuk pariwisata di Madura. Sekurang-kurangnya kegenitan pemerintah
dan masyarakat untuk lebih peduli dan sadar pada pariwisata – harus segera
dituntaskan. Karena memang sudah saatnya Madura menyambut esok dengan membenahi
ulang potensi wisata yang semestinya akan berimplisit pada pertumbuhan ekonomi
secara utuh. Bagi saya, membuang permasalahan pariwisata yang klise adalah
kunci untuk mengembalikan harapan-harapan nyata tentang wisata di Madura.
Ah, itu kan
hanya fantasi saya saja. Mana mungkin Madura bisa menjadi daerah tujuan wisata?
Jika persoalan semacam itu belum ada yang greget. Paling-paling saya dan
pengunjung yang lain akan sering berjumpa ria dengan tahi-tahi yang tak terawat
itu.
Bangkalan, 27 November 2014
Dafir Falah


