Pages

Labels

Tuesday, 1 July 2014

PERJUANGAN = PERUT

Kala itu; sore yang masih seperti biasa, hari jumat menghiasi pembicaraan di kantin Kopma yang telah menjadi rutinitasku. Maklum, pada saat itu aku tidak sengaja berkumpul dengan kaum-kaum intelek pencari keadilan dan pejuang bangsa, “katanya sih begitu.
Dan memang sudah seperti biasa kantin Kopma adalah tempat yang paling sering aku singgahi, karena sangat sesuai dengan isi dompet yang notabene sebagai mahasiswa kelas proletar.
Meskipun hanya sekedar ngopi dan menghindar dari sebutan istilah mahasiswa ‘‘kuliah pulang-kuliah pulang’’ (kupu-kupu). Iya sekali-kali biar kelihatan keren, layaknya aktivis garang yang acap kali berdiskusi tentang hal-hal tidak penting bin melambung.
Mungkin inilah kondisi akademisi hari ini. Suasana kampus yang sudah mulai di ninabobokan oleh  pemikiran-pemikiran skeptis dan mayak. Hanya memaknai sesuatu yang kadang memandulkan gundahan-gundahan pikiran yang relatif cuma retorika.
Tentu, aku anggap kurang lebih sama-lah dengan orang-orang Multi Level Marketing. Mimpi yang terlalu menjulang tinggi, sampai pada halusinasi yang kebablasan. Hasilnya, ya proyek deal-dealan sebagai dalih perjuangan. Ya, itu pun kalau perutnya tidak lapar, sebab perjuangan hari ini tergantung pada posisi perut.
Kemudian, aku masih ingat jelas tentang obrolanku dengan kawan-kawan yang tidak bosan-bosanya mengguncing brengseknya pemerintah. Sampai pada taraf pembicaraan masa depan bangsa yang bersih, dan seharusnya bentuk perjuangan seperti apa yang perlu disuntik kepada pemerintah?
Dalam hatiku memberi sinyal karikatural. Ah, obrolan apa sih nggak penting amat? Lalu tiba-tiba, batinku berbisik  ciut. Aku sadar, sejatinya sosok mahasiswa adalah untuk perlawanan demi perubahan yang lebih baik untuk bangsa dan negara.
Dan memang semestinya pangkat itu menjadi baju dinas bagi mahasiswa sejak dini. Dari hulu sampai hilir, mahasiswa adalah pijakan yang dirindukan rakyat untuk membela hak-haknya.
Lantas, pertanyaan paling dungu sekali pun; jika ditanya tentang mahasiswa hari ini. Apakah masih melekat jiwa perjuangan yang tidak berembel-embel kepentingan suatu kelompok dan isi perut.
Sudahlah! Urungkan saja niatmu yang bertopeng itu. Sebelum aku beberkan pangjang lebar tentang kenakalanmu dan perjuanganmu yang diidam-idamkan itu. Perjuangan yang tidak kalah rendahnya dengan jongos yang perlu pangkuan.
Hey kawan! Hakikat perjuangan tidak segampang kita pahami secara kulit ular, butuh kajian dan pengamalan yang keluar dari naluri dan kejujuran paling dalam. Tidak pamrih dan tidak melihat proyek berapa besar nominalnya.
Jika perjuangan hanya dimaknai dan dipahami serendah itu, mending urus saja alat kelaminmu ke tukang tambal ban. Biar pikiranmu yang kempos itu tidak bawel dan tidak berambisi.
Kalau pun sekarang perjuangan dialibikan pada pergerakan mahasiswa untuk melawan rezim parokial, tentu sudah tidak laku dan tidak seksi lagi.
Dan aku akui, memang semestinya mahasiswa turun langsung dan lebih peduli untuk sekedar mengkaji ulang posisi tawar mahasiswa dalam melakukan kontrol sosial. Meski aku tahu situasi dan waktu telah banyak menghabiskan kemerdekaan yang dipaksa untuk menyala akhir-akhir ini.
Hari ini sudah klise bicara tentang  perjuangan dan gerakan sosial. Dulu, mungkin masih berlaku dan relevan. Tapi tidak dengan sekarang.
Kalau pun perjuangan historis kemerdekaan di Indonesia adalah “pergerakan” untuk menggulingkan rezim yang tidak beres. Aku mungkin masih satu haluan, jika melihat goresan sejarah tempo dulu.
Sekarang, ya mohon maaf! Aku tidak bisa percaya. Demonstrasi dan suara perlawanan yang katanya membela rakyat kecil, semua omong kosong. Perjuangan mahasiswa tidak ubahnya tai kambing yang kadang bisa digunakan untuk pupuk. Menjijikkan tapi berguna untuk perutnya sendiri. Iya begitulan wajah aktivis gerakan hari ini.

Bangkalan, 27 Juni 2014
Dafir Falah


0 comments: