Kala itu; sore
yang masih seperti biasa, hari jumat menghiasi pembicaraan di kantin Kopma yang
telah menjadi rutinitasku. Maklum, pada saat itu aku tidak sengaja berkumpul
dengan kaum-kaum intelek pencari keadilan dan pejuang bangsa, “katanya sih
begitu.
Dan memang sudah seperti
biasa kantin Kopma adalah tempat yang paling sering aku singgahi, karena sangat
sesuai dengan isi dompet yang notabene
sebagai mahasiswa kelas proletar.
Meskipun hanya
sekedar ngopi dan menghindar dari sebutan istilah mahasiswa ‘‘kuliah
pulang-kuliah pulang’’ (kupu-kupu). Iya sekali-kali biar kelihatan keren,
layaknya aktivis garang yang acap kali berdiskusi tentang hal-hal tidak penting
bin melambung.
Mungkin inilah
kondisi akademisi hari ini. Suasana kampus yang sudah mulai di ninabobokan oleh pemikiran-pemikiran skeptis dan mayak. Hanya memaknai
sesuatu yang kadang memandulkan gundahan-gundahan pikiran yang relatif cuma
retorika.
Tentu, aku anggap
kurang lebih sama-lah dengan orang-orang Multi
Level Marketing. Mimpi yang terlalu menjulang tinggi, sampai pada halusinasi
yang kebablasan. Hasilnya, ya proyek deal-dealan sebagai dalih perjuangan. Ya, itu
pun kalau perutnya tidak lapar, sebab perjuangan hari ini tergantung pada
posisi perut.
Kemudian, aku
masih ingat jelas tentang obrolanku dengan kawan-kawan yang tidak bosan-bosanya
mengguncing brengseknya pemerintah. Sampai pada taraf pembicaraan masa depan
bangsa yang bersih, dan seharusnya bentuk perjuangan seperti apa yang perlu
disuntik kepada pemerintah?
Dalam hatiku memberi
sinyal karikatural. Ah, obrolan apa sih nggak penting amat? Lalu tiba-tiba,
batinku berbisik ciut. Aku sadar,
sejatinya sosok mahasiswa adalah untuk perlawanan demi perubahan yang lebih
baik untuk bangsa dan negara.
Dan memang
semestinya pangkat itu menjadi baju dinas bagi mahasiswa sejak dini. Dari hulu
sampai hilir, mahasiswa adalah pijakan yang dirindukan rakyat untuk membela
hak-haknya.
Lantas,
pertanyaan paling dungu sekali pun; jika ditanya tentang mahasiswa hari ini.
Apakah masih melekat jiwa perjuangan yang tidak berembel-embel kepentingan suatu
kelompok dan isi perut.
Sudahlah!
Urungkan saja niatmu yang bertopeng itu. Sebelum aku beberkan pangjang lebar
tentang kenakalanmu dan perjuanganmu yang diidam-idamkan itu. Perjuangan yang
tidak kalah rendahnya dengan jongos yang perlu pangkuan.
Hey kawan! Hakikat
perjuangan tidak segampang kita pahami secara kulit ular, butuh kajian dan
pengamalan yang keluar dari naluri dan kejujuran paling dalam. Tidak pamrih dan
tidak melihat proyek berapa besar nominalnya.
Jika perjuangan
hanya dimaknai dan dipahami serendah itu, mending urus saja alat kelaminmu ke
tukang tambal ban. Biar pikiranmu yang kempos itu tidak bawel dan tidak
berambisi.
Kalau pun
sekarang perjuangan dialibikan pada pergerakan mahasiswa untuk melawan rezim
parokial, tentu sudah tidak laku dan tidak seksi lagi.
Dan aku akui, memang
semestinya mahasiswa turun langsung dan lebih peduli untuk sekedar mengkaji
ulang posisi tawar mahasiswa dalam melakukan kontrol sosial. Meski aku tahu situasi
dan waktu telah banyak menghabiskan kemerdekaan yang dipaksa untuk menyala
akhir-akhir ini.
Hari ini sudah
klise bicara tentang perjuangan dan
gerakan sosial. Dulu, mungkin masih berlaku dan relevan. Tapi tidak dengan
sekarang.
Kalau pun
perjuangan historis kemerdekaan di Indonesia adalah “pergerakan” untuk
menggulingkan rezim yang tidak beres. Aku mungkin masih satu haluan, jika
melihat goresan sejarah tempo dulu.
Sekarang, ya mohon
maaf! Aku tidak bisa percaya. Demonstrasi dan suara perlawanan yang katanya
membela rakyat kecil, semua omong kosong. Perjuangan mahasiswa tidak ubahnya tai kambing yang kadang bisa digunakan
untuk pupuk. Menjijikkan tapi berguna untuk perutnya sendiri. Iya begitulan
wajah aktivis gerakan hari ini.
Bangkalan, 27
Juni 2014
Dafir Falah



0 comments:
Post a Comment