Pages

Labels

Monday, 17 November 2014

P.E.L.U.H

Roh tidak hanya kehilangan kehidupan esensialnya; roh juga sadar akan kehilangannya ini, juga sadar akan keterbatasan yang merupakan muatannya sendiri. Dan kini tuntutan-tuntutan filsafat hidup bukanlah pengetahuan tentang what is – apa yang sesungguhnya, apalagi penemuan kembali melalui keagenannya tentang pengertian yang hilang mengenai ada (being) yang solid dan substansial. (G. W. F. Hegel, 1807)

Di pagi yang masih perawan itu, tepatnya di hari sabtu dan semoga saja saya tidak lupa. Saya merasa tersesat diromantisme embun dan remang-remang. Tiba-tiba saya terbangun dari tidur yang kadang tak bisa saya rencanakan sebelumnya. Mungkin karena semalam rutinitas ngopi tak bisa saya selenggarakan – akhirnya ada waktu senggang untuk bisa tidur lama. Lumayanlah buat tubuh bisa berbaring pasrah dan pulas.
Padahal, ngopi bagi saya seperti mencium bibir perempuan – selalu ada ketagihan (candu) untuk mengulanginya. Mungkin ada benarnya kritikan Karl Marx terhadap agama – yang menganggap agama adalah candu rakyat. (Seperti saya) yang selalu candu pada kopi.
Memang sekitar beberapa hari yang lalu, saya sempat tidak banyak mengenal suasana pagi. Maklum pagi saya dihabiskan dengan mencari mimpi yang tak menemukan alurnya. Alhasil saya sudah bangun menatap nyata, meski tidak seutuhnya kesadaranku kembali menyatu. Minimal cukuplah saya bisa kembali mengenal pagi dengan mesra dan seksi.
Lalu, saya keluar kamar dari apartemen Telang Indah pojok untuk sekedar menghirup udara seger dan mengintip hari. Tak lama, setelah berapa menit saya manjakan tubuh saya. Saya melihat ada seorang kakek tua dari arah barat sambil membawa plastik merah di bahunya. Sepintas dalam benak saya – mungkin barang berharga.
Saya semakin serius mengikuti langkahnya. Langkah yang mulai berat dan kaku, membuat seorang kakek menarik nafas panjang, (mungkin sedang lelah). Dari jauh depan halaman rumah, saya pura-pura sebagai pemuda yang sedang menikmati pagi.
Dalam batin saya – saya takut dianggap mengawasi gerak-gerik kakek itu, seperti di hantui cemas yang pada nantninya ada kesalahan yang tak membuat saya terengah. Saya jadi ingat apa yang dilontarkan teman saya yang biasa dipanggil ‘mbah’, teman yang selalu mengundang gelak tawa karena makannya yang lama tapi banyak dan penuh dengan menu. ‘Menghargai orang lain siapa pun itu adalah upaya sebagai bentuk mengabdi dan ber-Tuhan’. Seperti saya menjaga perasaan kakek itu dengan berpura-pura membuang pandangan saya padanya.
Tak lama kemudian, kakek itu melanjutkan langkah demi langkahnya. Kalau pun ini dipahami sebagai jeda yang tak terduga. Saya percaya bahwa segala yang tak disangka-sangka akan menimbulkan pertanyaan yang tak akan selesai. Hari itu saya benar-benar tidak menyangka bertemu dan memandangi kakek dari arah jauh. Tapi, semakin saya menapik pandangan saya pada kakek – justru mata saya semakin gelisah untuk memandanginya.
Entah kenapa kakek itu membuat saya ingin banyak tahu tentangnya. Saya sadar, jika rasa penasaran saya sangat agam pada kakek itu, atau pikiran saya yang sedang tidak beres.
Dengan terpaksa saya tetap mengikuti kemana saja kakek melangkah. Setelah beberapa langkah dituduhkan pada tanah, lalu kakek mendekati tempat sampah yang berwarna hitam di depan rumah yang biasa ditaruk oleh penghuninya. Saya mencoba menerka-nerka apa yang dilakukan kakek itu di tempat sampah. Masak ia sendang memungut sampah. Ah, dalam pikiran saya tidak mungkin kakek itu melakukannya. Bukannya setiap satu minggu dalam dua kali sehari memang ada petugas pemungut sampah.
Saya tetap berperasangka baik pada kakek itu, karena saya menganggap kakek itu adalah potret orang tua yang gigih. Tidak seperti kebanyakan orang tua yang sering kita jumpai di lampu merah. Mungkin saja saya juga tidak bisa menyalahkannya, mestinya hal semacam ini sudah tidak ada di negeri kita. Jika pemerintah mau perhatian sedikit saja dan melepaskan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Mungkin semuanya sudah selesai dan tak perlu ada pembicaraan mengenai orang-orang yang ada di lampu merah.
Oh, saya sedang lupa. Jika bumi pertiwi kita sudah beranjak dari masa lalu yang kelam. Persoalan kemiskinan dan diskriminasi seperti yang sering terjadi di lampu merah adalah kenangan yang tak diharapkan. Dulu, barangkali saya boleh mengatakan itu bagian dari kenangan pahit. Setelah beberap deret perjalanan yang dilalui oleh bumi pertiwi. Dan hari ini, bukankah kita sudah menjadi bangsa yang kaya dan murah hati. Dengan banyaknya orang-orang bumi pertiwi meninggalkan tempat tidurnya dan berbagi kemurahan dengan bangsa lain.
Se-misal; Para TKI, Profesor, Dosen, Tukang Kuli Bangunan, Pedagang Es Degan, Pembantu Rumah Tangga dengan jumlah yang banyak – mereka adalah rakyat Indonesia yang mau merelakan sebagian hidupnya untuk bangsa lain. Mereka adalah orang yang murah hati dan memiliki kedalaman yang tidak banyak dimiliki bangsa lain. Kadang pemerintah merasa sedih dan gundah jika tidak memperkerjakan rakyatnya sebagai jongos di negeri orang. Buktinya pemerintah menyediakan fasilitas dan tempat kuburan bagi para TKI yang sedikit agak nakal disana, hingga di hukum mati karena ulahnya yang brilian.
Dan kerennya, hal ini mendapatkan apresiasi dari pemerintah kita. Sekurang-kurangnya bisa tahlilan bersama di rumah korban dan untungnya pula ada bantuan uang dari pemerintah untuk keluarga yang sedang memiliki kemurahan hati di negeri orang. Percayalah, bahwa pemerintah sekarang sangat baik. Jujur, selalu peduli pada nasib rakyatnya. Kalau pun rakyat sering mendapatkan getahnya, lalu marah dan benci. Paling itu hanya sementara. Setelah itu, ia akan memaafkan kok.
Mungkin juga sama apa yang sedang dirasakan kakek itu. Dalam dugaan saya, paling ia sudah memaafkankan. Setelah beberapa saat saya tahu, jika kakek itu ternyata sedang memungut barang-barang bekas. Mencari barang bekas di tempat sampah adalah cara untuk bertahan hidup bagi kakek, sangkaanku.
Buktinya ia tidak menuntuk apa-apa, meski ia berprofesi sebagai pemungut barang bekas. Karena peluh yang bercucuran dari tubuhnya adalah bentuk kecintaannya pada bumi pertiwi. Ia menghilangkan sesuatu yang semestinya ada; kelayakan, kebahagian dan bahkan kemampuan untuk menjadi ‘manusia Indonesia’ pada umumnya. Barangkali menurut (tafsir) saya dari berbagai kitab hidup dan empiris keperpihakan – ia sedang mendahulukan aktor-aktor pasak kunci memperkaya dan menebalkan isi dompetnya dari pada dirinya sendiri.
Saya sangat yakin dengan semangat dan senyum lepasmu, kek. Kakek begitu besar hati dan tak mengeluh apa-apa. Percayalah, kek! Peluhmu hari ini adalah saksi atas segala hal yang membawamu pada satu titik kebahagian, dan selamanya.

  
Bangkalan, 17 November 2014
Dafir Falah

0 comments: