Roh tidak
hanya kehilangan kehidupan esensialnya; roh juga sadar akan kehilangannya ini,
juga sadar akan keterbatasan yang merupakan muatannya sendiri. Dan kini
tuntutan-tuntutan filsafat hidup bukanlah pengetahuan tentang what is – apa
yang sesungguhnya, apalagi penemuan kembali melalui keagenannya tentang
pengertian yang hilang mengenai ada (being) yang solid dan substansial. (G. W.
F. Hegel, 1807)
Di pagi yang
masih perawan itu, tepatnya di hari sabtu dan semoga saja saya tidak lupa. Saya
merasa tersesat diromantisme embun dan remang-remang. Tiba-tiba saya terbangun
dari tidur yang kadang tak bisa saya rencanakan sebelumnya. Mungkin karena
semalam rutinitas ngopi tak bisa saya selenggarakan –
akhirnya ada waktu senggang untuk bisa tidur lama. Lumayanlah buat tubuh bisa
berbaring pasrah dan pulas.
Padahal, ngopi bagi saya seperti mencium bibir
perempuan – selalu ada ketagihan (candu) untuk mengulanginya. Mungkin ada
benarnya kritikan Karl Marx terhadap agama – yang menganggap agama
adalah candu rakyat. (Seperti saya) yang selalu candu pada kopi.
Memang
sekitar beberapa hari yang lalu, saya sempat tidak banyak mengenal suasana
pagi. Maklum pagi saya dihabiskan dengan mencari mimpi yang tak menemukan
alurnya. Alhasil saya sudah bangun menatap nyata, meski tidak seutuhnya
kesadaranku kembali menyatu. Minimal cukuplah saya bisa kembali mengenal pagi
dengan mesra dan seksi.
Lalu, saya
keluar kamar dari apartemen Telang Indah pojok untuk sekedar menghirup udara
seger dan mengintip hari. Tak lama, setelah berapa menit saya manjakan tubuh
saya. Saya melihat ada seorang kakek tua dari arah barat sambil membawa plastik
merah di bahunya. Sepintas dalam benak saya – mungkin barang berharga.
Saya semakin
serius mengikuti langkahnya. Langkah yang mulai berat dan kaku, membuat seorang
kakek menarik nafas panjang, (mungkin sedang lelah). Dari jauh depan halaman
rumah, saya pura-pura sebagai pemuda yang sedang menikmati pagi.
Dalam batin
saya – saya takut dianggap mengawasi gerak-gerik kakek itu, seperti di hantui
cemas yang pada nantninya ada kesalahan yang tak membuat saya terengah. Saya
jadi ingat apa yang dilontarkan teman saya yang biasa dipanggil ‘mbah’, teman
yang selalu mengundang gelak tawa karena makannya yang lama tapi banyak dan
penuh dengan menu. ‘Menghargai
orang lain siapa pun itu adalah upaya sebagai bentuk mengabdi dan ber-Tuhan’.
Seperti saya menjaga perasaan kakek itu dengan berpura-pura membuang pandangan
saya padanya.
Tak lama
kemudian, kakek itu melanjutkan langkah demi langkahnya. Kalau pun ini dipahami
sebagai jeda yang tak terduga. Saya percaya bahwa segala yang tak
disangka-sangka akan menimbulkan pertanyaan yang tak akan selesai. Hari itu
saya benar-benar tidak menyangka bertemu dan memandangi kakek dari arah jauh.
Tapi, semakin saya menapik pandangan saya pada kakek – justru mata saya semakin
gelisah untuk memandanginya.
Entah kenapa kakek itu membuat saya
ingin banyak tahu tentangnya. Saya sadar, jika rasa penasaran saya sangat agam
pada kakek itu, atau pikiran saya yang sedang tidak beres.
Dengan terpaksa
saya tetap mengikuti kemana saja kakek melangkah. Setelah beberapa langkah
dituduhkan pada tanah, lalu kakek mendekati tempat sampah yang berwarna hitam
di depan rumah yang biasa ditaruk oleh penghuninya. Saya mencoba menerka-nerka
apa yang dilakukan kakek itu di tempat sampah. Masak ia sendang memungut
sampah. Ah, dalam pikiran saya tidak mungkin kakek itu melakukannya. Bukannya
setiap satu minggu dalam dua kali sehari memang ada petugas pemungut sampah.
Saya tetap
berperasangka baik pada kakek itu, karena saya menganggap kakek itu adalah
potret orang tua yang gigih. Tidak seperti kebanyakan orang tua yang sering
kita jumpai di lampu merah. Mungkin saja saya juga tidak bisa menyalahkannya,
mestinya hal semacam ini sudah tidak ada di negeri kita. Jika pemerintah mau
perhatian sedikit saja dan melepaskan kepentingan pribadi dan kelompoknya.
Mungkin semuanya sudah selesai dan tak perlu ada pembicaraan mengenai
orang-orang yang ada di lampu merah.
Oh, saya
sedang lupa. Jika bumi pertiwi kita sudah beranjak dari masa lalu yang kelam.
Persoalan kemiskinan dan diskriminasi seperti yang sering terjadi di lampu
merah adalah kenangan yang tak diharapkan. Dulu, barangkali saya boleh
mengatakan itu bagian dari kenangan pahit. Setelah beberap deret perjalanan
yang dilalui oleh bumi pertiwi. Dan hari ini, bukankah kita sudah menjadi
bangsa yang kaya dan murah hati. Dengan banyaknya orang-orang bumi pertiwi
meninggalkan tempat tidurnya dan berbagi kemurahan dengan bangsa lain.
Se-misal;
Para TKI, Profesor, Dosen, Tukang Kuli Bangunan, Pedagang Es Degan, Pembantu
Rumah Tangga dengan jumlah yang banyak – mereka adalah rakyat Indonesia yang
mau merelakan sebagian hidupnya untuk bangsa lain. Mereka adalah orang yang
murah hati dan memiliki kedalaman yang tidak banyak dimiliki bangsa lain.
Kadang pemerintah merasa sedih dan gundah jika tidak memperkerjakan rakyatnya
sebagai jongos di negeri orang. Buktinya pemerintah menyediakan fasilitas dan
tempat kuburan bagi para TKI yang sedikit agak nakal disana, hingga di hukum
mati karena ulahnya yang brilian.
Dan
kerennya, hal ini mendapatkan apresiasi dari pemerintah kita.
Sekurang-kurangnya bisa tahlilan bersama di rumah korban dan untungnya pula ada
bantuan uang dari pemerintah untuk keluarga yang sedang memiliki kemurahan hati
di negeri orang. Percayalah, bahwa pemerintah sekarang sangat baik. Jujur,
selalu peduli pada nasib rakyatnya. Kalau pun rakyat sering mendapatkan
getahnya, lalu marah dan benci. Paling itu hanya sementara. Setelah itu, ia
akan memaafkan kok.
Mungkin juga
sama apa yang sedang dirasakan kakek itu. Dalam dugaan saya, paling ia sudah
memaafkankan. Setelah beberapa saat saya tahu, jika kakek itu ternyata sedang
memungut barang-barang bekas. Mencari barang bekas di tempat sampah adalah cara
untuk bertahan hidup bagi kakek, sangkaanku.
Buktinya ia
tidak menuntuk apa-apa, meski ia berprofesi sebagai pemungut barang bekas.
Karena peluh yang bercucuran dari tubuhnya adalah bentuk kecintaannya pada bumi
pertiwi. Ia menghilangkan sesuatu yang semestinya ada; kelayakan, kebahagian
dan bahkan kemampuan untuk menjadi ‘manusia Indonesia’ pada umumnya. Barangkali
menurut (tafsir) saya dari berbagai kitab hidup dan empiris keperpihakan – ia
sedang mendahulukan aktor-aktor pasak kunci memperkaya dan menebalkan isi
dompetnya dari pada dirinya sendiri.
Saya sangat
yakin dengan semangat dan senyum lepasmu, kek. Kakek begitu besar hati dan tak
mengeluh apa-apa. Percayalah, kek! Peluhmu hari ini adalah saksi atas segala
hal yang membawamu pada satu titik kebahagian, dan selamanya.
Bangkalan,
17 November 2014
Dafir Falah



0 comments:
Post a Comment