Sejarah negeri ini memang
kelam, dik. “kata penyair Madura yang waktu itu saya habiskan rokoknya di
warung kopi.
Persoalan budaya, ekonomi dan
bahkan politik menjadi tontonan paling sedap bagi bangsa Indonesia. Demokrasi
yang digadang-gadang sebagai senjata paling ampuh untuk mengubah negeri ini
lebih baik dan mengurangi angka-angka. Yang saya maksud angka adalah kemiskinan,
diskriminasi dan ketidak-adilan yang semakin bertambah, dan bisa saja
bertambahnya angka koruptor-koruptor baru. Semoga saja lekas sadar.
Tentu hanya sekedar bualan
praktis para elit penguasa yang gelojoh. Sisa kemerdekaan telah membuat
penghuni negeri ini menaruh mimpi dan harapan palsu. Apalagi transisi demokrasi
yang selalu disinggung soal reformasi politik, yang konon katanya telah
berhasil menggulingkan kontruksi politik rezim lama.
Dan hari ini, setelah
beberapa batang rokok saya hisap. Saya ingat tentang pemilu demokrasi yang
sebentar lagi akan dilaksanakan. Gemuruh dan hiruk pikuk kampanye politik telah
membuat mata dan pendengaran saya serasa di hujani janji-janji.
Awalnya saya ingin
berprasangka baik, tapi saya masih tidak lupa dengan janji yang diamanahkan
itu. Kalau pun kepercayaan rakyat Indonesia tentang pesta demokrasi dianggap
sebagai keberlangsungan masa depan bangsa Indonesia selama satu priode.
Apalagi dengan anekdot yang
berkembang dan menggiurkan; “satu suara menentukan nasib bangsa Indonesia
selama lima tahun ke depan”. Itu kan cuma anekdot, dik. “lagi-lagi kata penyair
sekaligus mas senior.
Kemudian, hak-hak politik
rakyat dan partisipasi politik yang sangat memiliki kontribusi besar, disulut
kembali untuk momentum diselenggaranya pemilihan calon presiden dan wakil
presiden. Meski semuanya bersumber kepentingan-kepentingan yang terus terang
bukan rahasia umum lagi.
“Tukang ojek dan penjual nasi
pecel kalau ditanya mengenai Indonesia – jawabannya sangat simpel, ya tentu
‘korupsi’. Jawaban yang sangat sederhana, tapi mengalami regresif kepercayaan
yang mendera bangsa kita. Seharusnya bangsa Indonesia merasa jengah dengan
situasi yang semakin menyedihkan.
Kalau pun organisasi politik
sebagai medium menuju pemikiran yang demokratis, yang pada akhirnya partai
politik ditempatkan sebagai institusi paling penting dalam percaturan demokrasi.
Saya sih iya-iya saja, tapi
jangan sampai dipaksa untuk mempercayai itu, apalagi dijadikan rujukan harga
mati untuk terlibat dalam perebutan kekuasaan. Bagi saya ‘demokrasi’ sudah
mati.
Lantas, masih berartikah
demokrasi di negeri ini?
Kalau pun segala macam cara
partai politik memainkan taringnya untuk meraih dan mencapai tujuan yang akan
dikehendakinya. Mungkin indikasi berkiprahnya partai politik yang paling akrab
didengar adalah demi tujuan perubahan. Mungkin saja saya bisa percaya dan
mungkin saja saya juga tidak percaya. Tapi untuk kali ini, kepercayaan saya
sudah habis di makan waktu.
Jika saya bersikap seperti
itu – dianggap telah menghianati undang-undang; di senayan sana, dan di gedung
terhormat yang kata orang sebagai penyambung lidah rakyat. Bukan hanya
menghianati undang-undang – tapi kitab suci yang ditaruk di atas kepalanya,
hanya dijadikan seremonial yang tidak memiliki pengaruh apa-apa.
Padahal, jika ditarik dalam
kamus besar bahasa guyonan di warung-warung kopi – berani amat si-botak itu
bersumpah alih-alih ingin mengemban amanah, nggak takut disambar petir kali
biar tahu rasanya.
Perubahan kampreeet.
Legitimasi panggung kekuasaan sebagai bentuk oligarki demi capaian-capaian yang
akan mengkerucut pada kekuatan imperium kekuasaan yang bisa melanggengkan.
Bukan
tidak mungkin dan karena itulah, kepercayaan masyarakat terhadap partai politik
dan politikus akan mengalami kebencian yang sampai saat ini belum bisa dijawab
dengan rumus-rumus politik.
Kemudian,
banyaknya daftar nama yang menyeret petinggi-petinggi berdasi yang tersandung
korupsi, maka tidak cukup untuk mengembalikan restorasi kepercayaan masyarakat
kembali seperti semula, apalagi saya.
Sekret_SM, 14 Juni 2014
Dafir falah


