Pages

Labels

Saturday, 12 July 2014

BADUT-BADUT Lembaga Penipu Perampok dan Maling (LPPM)


Di tempat ini; tempat yang jauh dari kampungku dan halamanku. Mengingat bulan puasa kemaren aku bermanja diri di rumah sampai lupa pada nama-nama kota yang mesti aku bertandang. Sepintas, di bulan puasa yang sama dengan tahun yang berbeda, aku menjumpai dan bertempat tinggal di suatu desa yang memiliki kultur yang berbeda dengan desa-desa lain.
Aku belajar banyak hal tentang rangkuman yang cukup menyisahkan pori-pori kehidupan yang harus aku titi. “Desa Tlangoh”, sebuah desa yang unik menurutku. Meski kedatanganku tidak cukup sehaluan dengan suasana hati dan pikiran yang masih mempertanyakan esensi pengabdian.
Katakanlah “kuliah kerja norak (KKN)”, dimana pengabdian semacam ini – aku menyaksikan sendiri bahwa hal tersebut sangat dijunjung tinggi banyak mahasiswa dan bahkan program ini menjadi sorotan paling digemari. Sebelum akhirnya aku harus terlibat di dalamnya, dan melakukan hal bodoh sama-sama.
Aku sudah menduga jauh-jauh hari. Fase ini memang harus dilewati, walau pun harus melawan nurani. Aku kadang berpikir dan merasa malu untuk menatap wajahku sendiri.
LPPM yang dianggap sebagai dewa – telah mampu membikin linglung badut-badut mahasiswa. Seperti kehilangan akal sehat yang terjerumus pada godaan menyesatkan. Sederhana sekali pertanyaan itu sering muncul dalam pikiranku; mengapa bentuk ‘pengabdian’ harus diprogram?
Dan sampai saat ini, mahasiswa seakan-akan dibuai oleh rayuan maut LPPM. Kita dibuat tak sadarkan diri dan mengamini apa yang keluar dari mulut LPPM, menerima dan patuh sebagai bentuk penistaan terhadap identitas mahasiswa. Bukankah begitu, kawan?
Aku semakin tidak mengerti, mengapa peradaban pendidikan semakin lama – semakin di luar nalar? Dan memang sangat miris sistem pendidikan hari ini, entah sampai kapan kita akan diperbudak oleh bisnisman pendidikan.
Mungkin saatnya konspirasi mulai diminati sampai harus melibatkan dunia pendidikan. “Bukankah mengabdi adalah cara seseorang untuk melakukan sesuatu yang cukup dirasakan sendiri, tidak perlu diprogram apalagi dipamer-pamerkan”.
Dan yang lebih menjengkelkan dan membuatku gusar, mengapa wacana ini tidak pernah disentuh oleh mahasiswa yang jelas-jelas sebagai kaum intelek? Semestinya pengabdian semacam ini diurungkan dan bahkan ditiadakan kalau perlu.
Paling tidak, kita wajib menolak perbudakan yang berindikasi pada pembunuhan langkah seseorang dalam menterjamahkan pengabdian dan kebaikan. Melakukan sesuatu bukan karena siapa-siapa, tapi berangkat dari hati dan keikhlasan.
Kemudian, lenyapnya nilai dan ketulusan didasari pada prilaku yang absurd dan hyperrealitas yang dilakoni mahasiswa. Bukti yang paling porno dan goblok adalah mahasiswa dijadikan alat LPPM demi mengaut sumber-sumber kekayaan pribadi dan kelompok tertentu yang berindikasi pada keserakahan.
Dengan dalih mahasiswa disuruh bikin ini itu  yang konon katanya menyentuh langsung kepada masyarkat. Padahal posisi kita ini siapa? Kita punya waktu dan berani bayar berapa untuk melibatkan masyarakat ikut andil dalam program gila kita?
Memangnya kita punya apa yang mau diberikan kepada masyarakat? Mau menggurui mereka, mentang-mentang kita punya segudang teori yang sok-sok-an itu. Lantas mau mengajarin mereka bertani yang baik seperti apa, atau mengajari menangkap ikan yang benar seperti apa?
Bikin aku mules saja melihat pendidikan hari ini. Memandang realitas hidup secara sempit, dan tidak mau membuka lebar tentang pengetahuan masyarakat yang jelas-jelas tidak sama dengan masyarakat tempo dulu. Masyarakat sekarang sudah mengerti dan bahkan lebih pintar dari kita, kawan. “kok seperti pahlawan kesiangan saja”, geramku.
Ayolah, lekas sadar dan kembali pada yang benar. Masak masih mau ditipu oleh LPPM, dan semestinya kita sudah  dewasa memandang itu. Apalagi kita digadang-gadang sebagai kaum pemikir. Dan sangat tidak gapah, jika produk-produk LPPM diamini segampang itu tanpa adanya perundingan kembali mengenai hakikat “kuliah kerja norak (KKN)”.
Di akui atau tidak, LPPM sudah membuat otak waras kita mandul.  Padahal tujuan dari segalanya adalah proyek. Sekilas kita harus sadar betul dan jangan mau dibodoh-bodohin. Mengapa kita masih nurut saja? Tolong segera dikencingi rumah dinas LPPM dan mahasiswa pula yang menganggap LPPM adalah jembatan pembelajaran.

Selamat mengabdi untuk badut-badut mahasiswa “Kuliah Kerja Norak” (KKN),
Selamat menjadi orang mayak,
Selamat pula untuk menjadi babu LPPM,
Dan, selamat untuk LPPM yang sudah berhasil membikin mahasiswa lupa diri.


Tlangoh, 13 Juli 2014
Dafir Falah

0 comments: