Pages

Labels

Wednesday, 26 November 2014

Madura dan Harapan Yang Tak Selesai

Setelah beberapa saat pikiran digenangi perenungan, halusisnasi, angan-angan, khayalan, mimpi dan bahkan harapan-harapan yang cukup meletihkan. Madura seakan-akan seperti istana yang dipenuhi beranekaragam melodrama baru. Saya masih ingat betul sekitar tahun 2009 jembatan Suramadu telah resmi sebagai jembatan terpanjang di Indonesia.
Perihal pro-kontra mengenai jembatan Suramadu telah dilalui – dan kini, seperti memulai kehidupan baru dan mestinya Madura adalah sebagai region yang bisa menawarkan banyak hal; budaya, industri dan lebih-lebih objek wisata, misalnya.
Hari kemarin, mungkin saja Madura tidak begitu banyak dipandang. Fanatisme tentang ke-Maduraannya membuat sebagian orang di luar Madura merasa ciut dan mengalami traumatik yang tak selesai. Kenakalan-kenakalan yang sering dilakukan orang madura di kota-kota besar menyeret stigma tentang Madura sebagai anomali sebuah kultur yang membeludak. Tapi, saya percaya – semenjak jembatan suramadu berani tegak, madura mulai mengalami perubahan yang sangat cantik. Meski tidak sepenuhnya menjadi sebuah aforisme yang membikin saya tidak lupa – jika Madura harus berani mengambil sikap sebagai objek wisata.
Oleh karena itu, setiap kali saya mencoba berdialog dengan diri sendiri. Jawabannya mungkin sama – mengapa Madura hanya begini-begini saja? Padahal, jembatan Suramadu telah banyak menghiasi perjalanan Madura dengan waktu yang sangat lama, kurang lebih hampir enam tahun. Jika ditarik dalam logika yang sadar dan asah. Sebenarnya potensi wisata yang dimiliki pulau Madura sangat mampu memberikan daya tarik dan nilai tawar untuk menjadikan Madura sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW).
Pantai Camplong, Pantai Lombang, Gunung Gegger, Talang Siring, Api Abadi dan masih banyak potensi wisata yang lain, misalnya, pulau Gili Labak yang baru-baru ini menjadi tempat wisata yang bisa memuaskan pandangan mata dan sesekali bercengkrama dengan keindahan pantai dan karangnya. Semestinya Madura sudah bisa menjadi ‘Bali’ sebagai tujuan parawisata. Bukan tidak mungkin – jika memang ada bentuk kognisi dan keseriusan untuk mengelola objek-objek wisata yang ada di Madura dengan tangan terbuka, dan tidak dibumbui kepentingan-kepentingan pragmatik. Saya yakin Madura (sangat bisa).
Namun, apakah hal demikian sudah pernah tersentuh? Mungkin sudah pernah menjadi bagan dan bahkan menjadi program jangka panjang disetiap kabupaten, baik pihak pemerintah maupun kesadaran masyarakat akan wisata. Tapi, sampai kapan?
Awalnya saya sangat percaya dan selalu menaruh prasangka baik terhadap Madura tentang memoles wisata yang sejatinya mampu memikat daya tarik para pengunjung. Entah kenapa, rasa percaya itu bias dalam seketika dan mengalami degradasi kreativitas yang mendalam. Setelah beberapa pekan saya sering bersantai ria di pantai Talang Siring (Pamekasan). Biasanya saya lakukan, ketika saya mau balik ke perantauan menuju salah satu perguruan tinggi di Bangkalan. Saya melihat potensi wisata ini sangat besar, jika saja ada yang merawatnya dengan serius.
Pada saat itu, sebelumnya saya sangat menikmati panorama pantai di sore hari. Genitnya ombak yang membuat saya tertegun manja sejenak. Lalu, pikiran yang mulai imajinatif dan bahkan ekstase yang tinggi– tak menghiraukan ‘malam’ yang sebentar lagi akan bertamu. Waktu itu perjalanan saya masih jauh, bahkan untuk menempuhnya mungkin butuh kiloan meter.
Saya tak peduli; waktu itu adalah saya dan pantai Talang Siring. Sungguh sangat ambisius. Namun, tiba-tiba saya dikejutkan dengan banyaknya tahi kambing yang berkeliaran seperti tak ada rencana dan kebetulan saja. Di pantai itu – saya sungguh sangat gusar. Pantai yang semestinya memiliki potensi untuk dikembangkan, dipercantik dan dihiasi oleh bingkai-bingkai kesadaran. Serius dalam membangun dan mengelola pariwisata yang ada di Madura, mungkin ceritanya akan berbeda.
Selain itu, misalnya, pantai Lombang yang cukup dikenal. Sesekali setiap hari minggu, saya sering menyapa pagi disana. Kebetulan tempat tinggal saya tidak terlalu jauh dengan pantai cemara udang itu. Ya, lumayanlah! Bermanja-manja diri, lalu memuaskan kegelisahan tubuh.  Seketika dengan peristiwa yang sama, saya juga dikagetkan dengan tumpukan tahi kuda yang berserakan. Dan tidak hanya itu, sampah-sampah disetiap sudut pantai memiliki atribut pemandangan tersendiri. Dalam pikiran saya; mungkin pihak terkait (pemerintah dan masyarakat sekitar) sudah lelah mengelolanya atau sedang kaut. Tentu hal itu akan berdampak ciut terhadap para pengunjung untuk kembali, dan bisa saja enggan untuk memberikan informasi pada yang lain.
Padahal potensi pariwisata di Madura sangat bisa dijual dan bahkan bisa mempercepat perekonomian masyarakat Madura dengan keindahan alamnya yang seksi. Kemudian, memiliki kesadaran penuh untuk merawat dan menjaganya – baik pemerintah atau masyarakat sekitar. Saya cukup yakin. Jika semua sektor yang terkait memiliki kesadaran – entah dengan melakukan pembenahan, pengelolaan yang serius, promosi yang baik. Tujuannya sangat sederhana; untuk memikat kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke objek-objek wisata di Madura.
Akhirnya dengan tenang, saya seperti menaruh mimpi dan harapan besar untuk pariwisata di Madura. Sekurang-kurangnya kegenitan pemerintah dan masyarakat untuk lebih peduli dan sadar pada pariwisata – harus segera dituntaskan. Karena memang sudah saatnya Madura menyambut esok dengan membenahi ulang potensi wisata yang semestinya akan berimplisit pada pertumbuhan ekonomi secara utuh. Bagi saya, membuang permasalahan pariwisata yang klise adalah kunci untuk mengembalikan harapan-harapan nyata tentang wisata di Madura.
 Ah, itu kan hanya fantasi saya saja. Mana mungkin Madura bisa menjadi daerah tujuan wisata? Jika persoalan semacam itu belum ada yang greget. Paling-paling saya dan pengunjung yang lain akan sering berjumpa ria dengan tahi-tahi yang tak terawat itu.

Bangkalan, 27 November 2014
Dafir Falah

0 comments: