Hari ini bangsa Indonesia
SEDERHANA sekali untuk mengatakakan “merdeka”. Cukup dengan membaca sejarah dan
mempelajari pendidikan kewarganegaraan - sebagai bukti historis bahwa bangsa
ini benar-benar merdeka dan bebas dari tangan penjajah.
Apalagi didukung dari sekian
banyak kisah perjuangan pahlawan yang merelakan jiwa patreotnya untuk bangsa
ini.
Padahal semua itu tidak
sesederhana apa yang dibayangkan. Mungkin saat itu boleh kita menyebutnya bahwa
“kita adalah bangsa besar yang kuat dan berani”.
Namun pertanyaannya: apakah
sekarang tetap seperti itu? Kata “merdeka” hanya dijadikan jargon.
Pemerintah tidak punya sikap
yang jelas untuk melanjutkan warisan perjuangan nenek moyangnya, jangan-jangan
dugaan saya benar, jika pemerintah memang sudah mandul. Sehingga tidak salah -
kalau banyak tangis dan penderitaan yang dialami bangsa ini.
Hal ini semakin memperkuat
bukti konkrit dalam menelaah sejarah Indonesia mengukir kemerdekaannya.
Padahal, Cuma sekedar
coret-coret kembali sejarah perjalanan negeri ini, meski dirasa sudah bosen.
Sejatinya, saya pikir tidak seharusnya mengalami pergulatan batin yang membuat
waktu saya tersita.
Namun, sebagai bentuk rasa
hormat terhadap pahlawan yang telah banyak berkorban, tak ada salahnya jika
kalimat terimakasih saya haturkan untuk beliau. Sebab, atas keberanian dan
pengabdiannya pada negeri ini akhirnya Indonesia bisa tegak berdiri
mengkibarkan bendera merah putih di tanah nusantara.
Pahlawan Itu Dulu
Meski saya tahu – bahwa
Indonesia adalah bagian dari diri saya. Dan saya pikir, semenjak
bangsa ini menyatakan merdeka, seharusnya sisa kemerdekaan ini menjadi
barometer untuk bangsa Indonesia lebih baik dan lebih mandiri.
Namun, di usia yang hampir 70
tahun, sudah berbuat apa pemerintah negeri ini? Miskin, tetaplah miskin.
Pemerintah tetaplah dewa kebijakan.
Tapi, adakah pemerintah
memikirkan kebijakan yang bisa mensejahterakan bangsa ini dengan serius.
Buang-buang waktu saja, mending memperkaya diri sendiri dan menikmati hasil
KKN, bukankah begitu!, “ujar tukang becak saat ngopi bareng di depan kampus.
Namun, saya masih ingat betul
pada waktu kecil dulu; ketika saya berusia 16 tahun, saat itu saya kebagian
membacakan teks proklamasi waktu acara upacara seninan- bahwa Soekarno dan
Hatta telah menyatakan kemerdekaan Indonesia, “bunyinya.
Ibu saya tetap saja membuat
kopi di pagi hari untuk ayah saya yang sedang mau berangkat kerja. Saya pun
juga ikut dimanjakan dengan kasih sayang ibu saya.
Sebab apa yang diperjuangkan
pahlawan terdahulu, hanya tinggal teks-teks warisan sejarah. Miris melihat
negeri ini yang tidak lagi memiliki identitas kebangsaan.
Bangsa kita sudah tidak punya
rasa malu, bayangkan ini hanya sebagian kecil dimana tenaga kerja rendahan yang
diusir dari Negeri Jiran dan Arab Saudi, dengan jumlah ribuan, sama sekali
tidak menyinggung harga diri bangsa Indonesia. Bahkan yang lebih parah lagi,
kita malah mintak diperkerjakan kembali.
Sehingga tidak ada niat untuk
menata Indonesia lebih martabat dan dihargai. Rakyat kecil hanya menjalani
hidup di bumi Indonesia, pemimpinlah yang harus berbicara,
menentukan negeri dan bangsa ini ke depan.
Rakyat kecil sudah capek hidup
dalam kemunafikan, kemiskinan dan ketidakadilan. Mereka hanya butuh ketenangan,
kesejahteraan tanpa harus menjadi TKI di negeri orang untuk menopang hidup
sementara.
Bangkalan, 14 Februari 2014



0 comments:
Post a Comment