Pages

Labels

Monday, 17 March 2014

INDONESIA – Ternyata – (Belum Punya Alat Kelamin)

Hari ini bangsa Indonesia SEDERHANA sekali untuk mengatakakan “merdeka”. Cukup dengan membaca sejarah dan mempelajari pendidikan kewarganegaraan - sebagai bukti historis bahwa bangsa ini benar-benar merdeka dan bebas dari tangan penjajah.
Apalagi didukung dari sekian banyak kisah perjuangan pahlawan yang merelakan jiwa patreotnya untuk bangsa ini.
Padahal semua itu tidak sesederhana apa yang dibayangkan. Mungkin saat itu boleh kita menyebutnya bahwa “kita adalah bangsa besar yang kuat dan berani”.
Namun pertanyaannya: apakah sekarang tetap seperti itu? Kata “merdeka” hanya dijadikan jargon.
Pemerintah tidak punya sikap yang jelas untuk melanjutkan warisan perjuangan nenek moyangnya, jangan-jangan dugaan saya benar, jika pemerintah memang sudah mandul. Sehingga tidak salah - kalau banyak tangis dan penderitaan yang dialami bangsa ini.
Maka cukuplah sepuluh November sebagai hari bersejarah, dimana rakyat Indonesia mengenang kembali perjuangan pahlawan yang telah menorehkan banyak nyawa dan darah untuk merah putih.
Hal ini semakin memperkuat bukti konkrit dalam menelaah sejarah Indonesia mengukir kemerdekaannya.
Saya jadi tertarik untuk merundingkan pikiran saya mengenai Indonesia, meski dengan segala kejenuhan dan kepalsuan  penguasa (pemerintah). Dan ada untungnya juga, sedikit banyak mengurangi hutangan langganan saya di warung depan kampus, sebab rutinitas ngopi ditunda hanya untuk menulis kolom ini di aparteman SM.
Padahal, Cuma sekedar coret-coret kembali sejarah perjalanan negeri ini, meski dirasa sudah bosen. Sejatinya, saya pikir tidak seharusnya mengalami pergulatan batin yang membuat waktu saya tersita.
Namun, sebagai bentuk rasa hormat terhadap pahlawan yang telah banyak berkorban, tak ada salahnya jika kalimat terimakasih saya haturkan untuk beliau. Sebab, atas keberanian dan pengabdiannya pada negeri ini akhirnya Indonesia bisa tegak berdiri mengkibarkan bendera merah putih di tanah nusantara.  

Pahlawan Itu Dulu
Itu dulu, ketika sang pahlawan serius mengawal kemerdekaan dan merelakan nyawanya untuk bangsa. Kini wajah Indonesia yang sebenarnya sudah saya anggap banci kehormatan dan kere.
Meski saya tahu – bahwa Indonesia adalah bagian dari diri saya.  Dan saya pikir,  semenjak bangsa ini menyatakan merdeka, seharusnya sisa kemerdekaan ini menjadi barometer untuk bangsa Indonesia lebih baik dan lebih mandiri.
Namun, di usia yang hampir 70 tahun, sudah berbuat apa pemerintah negeri ini? Miskin, tetaplah miskin. Pemerintah tetaplah dewa kebijakan.
Tapi, adakah pemerintah memikirkan kebijakan yang bisa mensejahterakan bangsa ini dengan serius. Buang-buang waktu saja, mending memperkaya diri sendiri dan menikmati hasil KKN, bukankah begitu!, “ujar tukang becak saat ngopi bareng di depan kampus.
Sejenak memikirkan Indonesia memang terkadang membuat saya putus asa. Apalagi semboyan nasionalisme kita sering terima mentah-mentah sejak tahun 1945. Saya tidak tahu apa arti sesungguhnya merdeka itu.
Namun, saya masih ingat betul pada waktu kecil dulu; ketika saya berusia 16 tahun, saat itu saya kebagian membacakan teks proklamasi waktu acara upacara seninan- bahwa Soekarno dan Hatta telah menyatakan kemerdekaan Indonesia, “bunyinya.
Saya hanya bisa tersenyum membacakan teks proklamasi tersebut, sebab pada waktu itu saya pikir ini tidak akan mempengaruhi kehidupan saya apalagi keluarga saya.
Ibu saya tetap saja membuat kopi di pagi hari untuk ayah saya yang sedang mau berangkat kerja. Saya pun juga ikut dimanjakan dengan kasih sayang ibu saya.
Apa yang mau dibanggakan dari bangsa ini, bukannya bangsa Indonesia telah berada di titik nadir martabatnya.
Sebab apa yang diperjuangkan pahlawan terdahulu, hanya tinggal teks-teks warisan sejarah. Miris melihat negeri ini yang tidak lagi memiliki identitas kebangsaan.
Bangsa kita sudah tidak punya rasa malu, bayangkan ini hanya sebagian kecil dimana tenaga kerja rendahan yang diusir dari Negeri Jiran dan Arab Saudi, dengan jumlah ribuan, sama sekali tidak menyinggung harga diri bangsa Indonesia. Bahkan yang lebih parah lagi, kita malah mintak diperkerjakan kembali.
Dipikir-pikir, saya kok risih mendengar pernyataan seperti itu. Padahal sangat jelas, seakan-akan harga diri kita diinjak dan direndahkan, apa memang pemerintah sudah benar-benar tidak punya nyali.
Sehingga tidak ada niat untuk menata Indonesia lebih martabat dan dihargai. Rakyat kecil hanya menjalani hidup di bumi Indonesia, pemimpinlah yang harus berbicara, menentukan negeri dan bangsa ini ke depan.
Rakyat kecil sudah capek hidup dalam kemunafikan, kemiskinan dan ketidakadilan. Mereka hanya butuh ketenangan, kesejahteraan tanpa harus menjadi TKI di negeri orang untuk menopang hidup sementara.

Bangkalan, 14 Februari 2014
Dafir Falah

0 comments: