Pages

Labels

Saturday, 14 December 2013

Mahasiswa dan Politik

Berbicara mahasiswa, maka tidak akan pernah usai untuk kita wacanakan. Apalagi sering kita lihat dari berbagai kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa, bagi sebagian besar mahasiswa, mengambil kegiatan organisasi intra disela-sela kesibukan berkuliah menjadi suatu kebutuhan yang penting demi menyeimbangkan kinerja otak kiri dan kanan.
Apalagi kegiatan kuliah yang cendrung lebih banyak duduk dan memikirkan teori yang diberikan dosen, kuliah sering kali membuat “mandul”otak kanan mahasiswa itu sendiri.
Ketika sebagian mahasiswa menyibukkan dirinya dengan kegiatan-kegiatan kampus seperti halnya organisasi intra kampus, terkadang apa yang menjadi tujuan utama dimana mahasiswa itu sendiri  yang sebagian besar selalu disibukkan oleh kegiatan belajar mengajar kadang lupa bahwa soft skill yang mereka dapatkan selama duduk di bangku perkulihan jika tidak diimbangi dengan kemampuan praktek di lapangan, justru akan membuat mahasiswa menjadi pasif, dan barangkali hanya menjadi konseptor tanpa mampu mengaplikasikan buah pikirannya sendiri.
Pada dasarnya semua itu benar, apabila setiap organisasi intra yang ada, dan itu wilayah kerjanya di dalam kampus, seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Dimana hal itu tidak terlepas dari perlindungan di bawah naungan perguruan tinggi tempat organisasi tersebut diberdirikan dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan kebijakan yang diberikan oleh pihak birokrasi kampus.
Selain dari itu, juga mampu memberikan kontribusi yang besar terhadap mahasiswa dimana ini merupakan hal yang baik untuk menggali potensi yang mereka miliki, oleh sebab itu mahasiswa berhak memilih organisasi yang dia ingin masuki serta mahasiswa juga berhak mengambil manfaat dari organisasi tersebut, meski masih banyak politik praktis di tubuh organisasi itu sendiri.
Terlepas dari itu penulis kira apa pandangan masyarakat akan mahasiswa sebagai sosok yang intelek mampu menambah gengsi seseorang yang gemar beraktifitas, menjadikan mahasiswa tersebut sebagai sosok pahlawan bangsa setingkat dengan para pejuang kemerdekaan dengan sebutan aktivis.
Sebenarnya ketika berbicara organisasi maka kemudian banyak hal yang perlu menjadi bahan pertimbangan, dari mulai organisasi yang begitu banyak meskipun beda ideologi namun memiliki tujuan yang kurang lebih sama.
Dan tentunya salah satu tujuan utama dari setiap organisasi adalah berusaha menyebarkan pengaruh dan pesona dari masing-masing organisasi agar mampu diterima oleh seluruh mahasiswa baru, hal itu terbukti ketika para senior mencoba melakukan aksinya dan berlomba-lomba dengan organisasi lainnya untuk mencari generasi penerus yang mumpuni agar semangat “aktivis mahasiswa” yang telah di tumbuhkan selama ini tidak menghilang begitu saja.
Namun hal itu menjadi wajar tatkala semua organisasi yang ada mengajak sebagian mahasiswa baru untuk ikut serta dalam organisasi tersebut meski banyak terjadi tindakan politik praktis (dan bahkan berwujung anarkis) dari organisasi yang satu dengan yang lainnya.
Karena itulah kemudian masalah-masalah yang disebabkan karena adanya politik praktis, dan salah satunya adalah dari setiap organisasi intra ketika melakukan misi-misinya untuk mengajak mahasiswa baru dengan ideologinya yang barangkali menjelek-jelekkan organisasi yang lain, itulah kemudian yang menjadi polemik di setiap kubu organisasi intra, karena tidak adanya keterbukaan dan paradigma yang searah.
Terkadang organisasi intra memang sebenarnya untuk mendidik mental agar tidak lembek dan selalu mengajarkan untuk menyusun strategi bagaimana untuk memberikan warna tersendiri dalam kampus.
Namun di sisi lain itu hanya merupakan tujuan yang terakhir dari misinya.
Sebab hal yang utama untuk memperbanyak suara yang maksimal ketika ada Pemilihan Presiden Mahasiswa (Presma) yang secara kebetulan calon tersebut dari anggota organisasi itu sendiri.
Maka kemudian ketika politik praktis itu sudah dijalankan harapan yang paling penting tidak lain ialah untuk memenangkan pemilihan tersebut.
Dan itu merupakan mekanisme yang sudah menyetubuh di setiap organisasi yang ada.
Bahkan di perguruan tinggi manapun ketika berbicara organisasi, baik organisasi intra maupun ekstra.
Hal yang tidak bisa dihilangkan adalah mengenai politik praktisnya, dan itu sudah menjadi konsepsi dari setiap organisasi.
Penulis kira, dengan apa yang sering terjadi mengenai politik praktis, maka yang timbul adalah saling menyalahkan satu sama lain dan organisasi yang di tempati itu yang paling benar.
Sejauh ini, penulis pikir itu merupakan tindakan yang kurang etis. Sebab munculnya organisasi di perguruan tinggi, idealnya tidak lagi sebagai kelompok yang hanya bisa mengkafirkan organisasi yang lain dan membenarkan organisasinya sendiri.
Padahal tujuan utama berdirinya organisasi yaitu mengembangkan soft kill yang ada, selain hanya berpangku tangan pada teori-teori yang sering di khotbahkan oleh dosen, tapi juga bersama-sama mengawal kepicikan yang seringkali dilakukan sang penguasa dan tidak berpihak terhadap kebijakan yang seharusnya bisa di rasakan bersama.

Bangkalan, 13 November 2013
Dafir Falah


Friday, 13 December 2013

Mengenang Inspirator

Kau tak membuatku berhenti melangkah.
Detik itu, sebuah episode tentang kegigihanmu, sekarang kau sudah pergi jauh,” aku tahu itu”. Perpisahan yang telah membawa kita pada kesepian yang nyata, hanya do’a - do’a yang terangkai panjang dalam sujud rinduku. Jika tangis bersiap diri menyapa salam, harusnya kau paham - aku sekedar mencoba untuk tegar.” (Guru, Sang Inspirator).
Perpisahan masa yang memang sudah lama terjadi. Namun, banyangnya yang tidak membuat saya lusuh untuk mengabadikan semuanya.
Saya masih ingat betul pada waktu yang lelap itu, “sekitar jam 02.00 Wib dini hari”, desiran angin yang semakin kencang berhembus, suara anak malam terus berkhidmat dalam duka.
Menyaksikan kegelisahan yang tak disengaja penuh dengan tangisan. Harapan hanya menjadi debu yang terseret angin.
Keringat emosi mulai tak terkendali, menunggu kabar seorang  “guru” yang sebelumnya sudah terkena penyakit. Kemudian daun-daun terus berjatuhan, meng-iyakan dugaan kepastian akan firasat tentang guru saya: “KH.Mustofa”.

Pada saat itu saya merasa masih tidak percaya, sebab setahu saya beliau masih baik-baik saja.
Setiap kali saya pulang dari perantauan, biasanya saya sering melihat beliau meluangkan waktunya bercengkrama di pagi hari, menikamati sejuknya embun pagi menabur aroma bak mentari yang bersinar indah – dengan memakai sarung putih, kaos putih dan peci putih menjadikan ciri khas warna favoritnya untuk selalu menyisir lorong berjalan penuh semangat.
Kebiasaan itu memang sering dilakukan oleh beliau, meski sibuk berikrar setiap waktu yang kerap menjadi rutinitas sehari-hari. Namun, tak membuat sang Inspirator rengkuh pada kepasrahan untuk menyerah terhadap tanggung jawabnya.

Bahasa daun yang terus mengitari rasa penasaran akan kondisi beliau yang sesungguhnya, sehingga keingintahuan saya terus berlanjut pada tanya, mencari jawaban sederhana atas kegelisahan.
Akhirnya, saya baru tahu semenjak pulang kampung. Iya,  saya dengar kabar itu dari ibu saya sendiri. Ibu saya memanggil saya, “Nak! Gurumu sekarang sedang sakit, beliau sudah lumayan lama dirawat di rumah sakit, sakit apa bu?, Sahutku” –  ibu saya cuma menggeleng-gelengkan kepala, baru kali ini ibu saya terlihat tidak seperti biasanya, saya mengira ada rahasia yang ditutup-tutupi oleh ibu saya, sebab dari raut wajahnya terlihat kaku (pikirku penuh curiga), pasti ada sesuatu yang disembunyikan mengenai kesehatan “guru” saya.
Ibu saya hanya berpesan, “nak, setiap kali kamu sholat – ingat! do’akan gurumu yang sudah banyak mengajarimu semenjak kamu kelas empat SD, supaya ia lekas sembuh dari penyakitnya. Amin.”

Dua hari sudah berlalu, sebuah tanya yang tetap angkuh. Entah apa yang terbesit dibenakknya, kecurigaan saya semakin mendera dalam hati, rasa penasaran untuk ingin tahu kabar seorang “guru” yang selama ini sudah banyak mengajari saya tentang arti kehidupan, (tanyaku dalam hati), "Jangan-jangan beliau terkena penyakit parah?
Ternyata dugaanku benar, kalau beliau memang terkena penyakit parah. Saya tidak bisa memastikan penyakit apa yang diderita beliau, karena saya sendiri belum tahu sebenarnya, cuma ada salah satu teman kampung yang kebetulan memberitahu saya mengenai kondisi beliau.

Hemmmm, saya sempat berfikir: kucurigaan saya pasti benar, meskipun saya bukan peramal yang bisa menebak hari esok, dengan segala kesombongannya dan pura-pura tahu atas dalih bisa menjawab persoalan kehidupan.
Tapi, saya yakin bahwa firasat ini semakin mendebu-debu menyakinkan kepastian dugaan saya.
Akhirnya tidak lama kemudian, bahwa ada kabar tentang beliau: kalau beliau sudah perjalanan pulang dari rumah sakit dr. SOETOMO Surabaya menuju Madura. Sejenak “terlintas” di kepala saya, pasti beliau sudah sembuh total, mungkin cuma butuh istirahat atau rawat rumah.

Ah, membias dalam sesaat, semua palsu. Angan-angan untuk melihat beliau sembuh, ternyata hanya harapan. Dengan berpasrah hati, menerima takdir bahwa beliau sudah MENINGGAL. 
Kabar ini, memang tidak sedap. Saya pun merasa, jika ini rencana Tuhan: mengapa beliau yang diambil, “tanyaku emosi.
Saya percaya mengenai “KEMATIAN” bahwa hal ini merupakan perihal keniscayaan. Pasti terjadi. Tidak satu pun makhluk bernyawa bisa menghindar darinya. Dan, tidak pula sanggup mencegahnya.

Gemuruh tangis terdengar di anak malam. Kehilangan sudah pasti, rencana bahagia mulai patah satu per-satu.
Keinginan untuk bermanja-manja dalam mendengarkan petuah agama sudah tinggal kenangan. Setali tiga uang dengan kematian, ”kenangan” pun dominan dalam menguasai ”bangunan ingatan”.
Saya teringat petuah Étienne Bonnot de Condillac (1715-1780). Kita dilahirkan di tengah-tengah labirin, katanya, dengan seribu kelokan yang dibuat hanya untuk satu tujuan: menyesatkan kita.
Seperti itulah kenangan. Kalaupun terlihat ada ”jalan keluar” menuju kemerdekaan pikiran dari ”penjajahan kenangan”, jalan itu tidak lapang dan tidak bisa langsung terlihat.Keinginan untuk bersama-sama beliau, gugur sudah.
Bukan hanya dambaan saya untuk melihat beliau lebih lama. Namun, banyak orang-orang disekitarnya yang tak merelakan beliau berangkat ke surga lebih dulu.
Sisa tangis yang tersendu-sendu, masih membekas dalam hangatnya suasana duka. Kepergian beliau merupakan kuasa Tuhan yang tak satupun manusia bisa menyimpulkannya, saya berharap Tuhan memberikan tempat yang setimpal dengan perjuangannya menegakkan siar Islam.

Saya yakin – sebagai wujud pertapaan pengabdian saya pada kehidupan, biarlah sang Inspirator telah pergi menemui Tuhan.
Di satu sisi,  saya memang sadar- bahwa tidak semua manusia bisa ikhlas menerima segala bentuk sekenario Tuhan.
Di sini, bersama nasehat dan spiritual yang membawa saya terus melaju menentang impian,  yakin pada suatu titik- hidup terus berlanjut, tinggal bagaimana kita memolesnya.

“Selamat Jalan Sang Inspirator, Hiduplah dengan Damai di Alam Sana,”


Dafir Falah
Bangkalan, 19 Nopember 2013

P i l k a d e s

terjamah ramainya kampung
penuh sikat-sikut
melihat jeda merubah
sorak gemuruh
terbakar angkuh

pilkades;
sebuah lingkaran kecil
yang tak mengenal lelah
semua mengatasnamakan “pesta rakyat”
peduli desa, benahi kesejahteraan

itu”
janji diam tanpa suara
fatwa sampah
masih wajahmu suci tanpa dosa
berdusta diketiak busukmu

itu”
keserakahan
yang kau beberkan


Muara, 23 Juni 2013
Dafir Falah

Bingung

bingung melebur membiru
sepekat jiwa t’berdarah
bergumam dalam khayal
entah dimana; serasa hidupku penuh sandiwara
tak bisa berbagi
rasanya ingin berarti

letih sudah mulai merangkak
merongrong naluri nalar,
sendiri dalam puisi
mencari tahu langkah-langkah yang bijak
demi cipta anak negeri

namun tetap saja riang gembira bingung dalam gelap
menyapa selembar kertas putih
hanya sesekali berdamai lepas


Bangkalan, 02 April 2012
Dafir Falah




B o c a h

lihat wajah lusuh
dua bocah sibuk berspekulasi
melihat karya belum usai
tertantang melawan fajar

hey,
semangat terus  bernafas
harimu nyata;
bila belenggu melanda
saatnya waktu untuk ramah

larut malam tercium baunya
mengingkari rumus kodrati
hasil adalah impian


Universitas SM, Maret 2013
Dafir Falah


Malam Yang Diam

sunyi terbiasa rapuh
aku bertanya pada pena
lihat jendela mengintip semu
lampu-lampu perkasa
mengerikan nafas panjang

suara sayup.
melawan detak semangat biru, ataukah diam!


Bangkalan, 03 Maret 2013
Dafir



Sampai Pagi

jenuh melihat senja
barulah tiba di waktu pagi
aku berdiri;
tersenyum, tidaklah mengerti
apa itu masa?

hari semakin memudar
tak tahu
seperti rindu bermesra

namun,
aku linglai dalam kabut
sepertinya rindu bukanlah abadi


Dafir
Bangkalan, 15 April 2013



Monday, 30 September 2013

Bahasa "MADURA" Menjadi Asing di Daerahnya Sendiri


Globalisasi merupakan suatu manifestasi yang sangat berpengaruh dalam perkembangan perubahan dunia, khususnya di pulau Madura. Pengaruh globalisasi bukan lagi sebagai bahan yang tidak penting untuk dibicarakan, apalagi sampai dianggap hanya celutusan ramuan-ramuan yang mudah hilang. Sekarang atau bahkan nanti, hal ini akan menjadi problematika sosio-kultural yang paling mengancam pulau Madura. 

Jika ditarik kembali pemahaman globalisasi rasanya masih membekas dibenak kita, semenjak jadi siswa yang konon terbilang tidak tahu apa-apa. Guru-guru kita seringkali menyampaikan setiap masuk kelas pada murid-muridnya, “lestarikan budaya pulau madura, jangan sampai luntur terkikis dan menjadi asing di daerahnya sendiri”. 

Hal demikian, bukanlah sesuatu yang jarang untuk kita dengar apalagi sampai dilupakan begitu saja. Virus globalisasi ada yang bilang itu merupakan perspektif baru tentang konsep “Dunia Tanpa Batas” yang saat ini menjadi porno public di seluruh manca Negara, dan sangat mengancam keberadaanya atau bisa jadi membawa perubahan kultur baru. Jika melirik apa yang disampaikan SELO SOEMARDJAN, Globalisasi adalah terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi antar masyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah yang sama. 

Madura dengan kondisi potensi budaya yang beranekaragam sangatlah menjadi modal besar untuk tetap bertahan dan mengembangkan kekayaan budaya lokal yang ada, selain itu juga kita bisa memperkenalkan budaya Madura pada daerah-daerah yang ada di Indonesia, sebab ditinjau dari kekayaan budaya madura yang dimilikinya tidak kalah hebatnya dengan daerah-daerah lainnya, seperti halnya Bali, Yogyakarta. Namun, hanya saja banyak masyarakat Madura yang tidak bangga dengan hasil karyanya sendiri. Maka tidak heran, jika perang budaya sudah dimulai kembali. Sejarah mencatat, pada tahun 1994, misalnya 18 dari 23 peperangan yang terjadi di dunia diakibatkan oleh sentiment-sentimen budaya, agama dan etnis. 

Ironi sekali, jika pada akhirnya pulau Madura menjadi salah satu kandidat yang akan mengalami kejadian tersebut. Dilihat dari pengamatan dan penafsiran-penafsiran mengenai Madura tanpa disadari atau tidak, budaya Madura perlahan-perlahan akan segera punah. Kita tidak usah terlalu jauh-jauh mengambil sebuah contoh, sebut saja “Bahasa Madura”. Bahasa nenek moyang yang telah lama menjadi bagian dari identitas masyarakat madura, sekarang kita jarang mendengarnya. Entah apa penyebabnya! Namun yang jelas ini merupakan fakta yang tidak bisa kita hindari. 

Bahasa madura mulai ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri, bahasa ibu yang dulunya menjadi kebanggaan masyarakat madura, sekarang sudah tinggal kenangan dan tak akan lama lagi nyaris punah. Menurut “Adrian Pawitra” penulis lengkap kamus bahasa Madura, bahasa Madura adalah bahasa paling besar ke empat di negara Indonesia. 

Jika melihat demikian, maka seharusnya masyarakat Madura memiliki rasa tanggung jawab dalam melestarikan bahasa tersebut, dan lebih mengedepankan bahasa ibu sebagai bahasa daerah yang sepantasnya kita jaga. Akan tetapi, sejauh ini bahasa Madura seakan-akan telah dihegemoni oleh bahasa-bahasa lain, seperti halnya bahasa gaul dan bahasa alay yang saat ini seringkali kita mendengarnya. Mengerikan sekali ketika kita membayangkan bahasa ibu sudah diperkosa telanjang tak berdaya, nasionalisme hanya menjadi sebuah jargon tanpa adanya aplikasi dalam bentuk yang nyata, bahasa ibu hanya menyisahkan penderitaan yang dihadiahkan pada nenek moyang kita sendiri. Secara tidak langsung kita sudah membunuh sebuah bahasa, yang berarti kita juga sudah membunuh suatu budaya. 

Bahasa Madura sudah dianggap tidak relevan lagi, terkadang banyak diantara masyarakat Madura yang dalam berkomunikasi sehari-hari, memakai bahasa Indonesia atau yang lebih parah lagi menggunakan bahasa Asing. Penulis pikir boleh-boleh saja menggunakan bahasa tersebut, namun ada waktu dan tempat dimana kita harus menggunakannya. Jika di tempat resmi atau menuntut kita untuk berkomunikasi yang demikian, maka sepantasnya kita menggunakan tanpa harus melupakan bahasa daerah kita sendiri. Sebab kekayaan budaya yang dimiliki negara Indonesia, salah satunya dengan banyaknya suku, etnis dan bahasa daerah yang ada. 

Oleh karena itu, kekayaan daerah tidak lagi dijadikan sebagai acuan yang paling berharga di derahnya sendiri. Sesuatu yang tidak mustahil, persoalan semacam ini sebenarnya merupakan tantangan yang sangat urgen untuk kita kaji bersama-bersama, dan mencari solusi cerdas adalah tanggung jawab kita sebagai warga masyarakat Madura.


Bangkalan, Januari 2012

Dafir

Saturday, 28 September 2013

hujan

aku
suara yang sumbang,
melihat hujan
seperti indah melangkah para jiwa;
letih menunggu bak rumah
seperti; tumpukan batu melingkar pesona
suara itu,
seakan sunyi dalam dusta

ah…
rumput menghijau
mengakar lebih sempurna dari musim


Bangkalan, 29 Oktober 2012
Dafir




(Mahasiswa) A p a t i s


Suatu momen yang kerapkali menjadi pembicaraan selayaknya birokrasi yang sering muncul di telivisi, aku mulai bingung tidak mengerti, jangankan mendengar nama yang maha itu, menulis cerita dimana pena yang suci harus mengabadikan orang-orang yang tidak mau menyisahkan rasa kepeduliannya pada orang lain, dan tidak mau berfikir untuk saudara-saudara yang tak sama nasibnya dengan kita, sedangkan identitas itu selalu disandang disetiap Almamater kebanggaan yang congkak. Kenapa harus senyum bahagia dan tidak mau peduli, padahal banyak tangis, derita dan penindasan semenjak negeri ini berdiri. 

Apa jangan-jangan hidup memang dituntut untuk memperkaya dirinya sendiri tanpa harus melihat bagaimana orang-orang disekitarnya, tidak ada keinginan untuk menanamkan kebersamaan untuk membela penindasan, penderitaan yang seringkali terjadi terhadap kaum-kaum minoritas atau sudah lupa dengan nama yang dimilikinya sebagai manusia bermakhluq sosial. Dimana letak identitas sosial kalian?. Sedangkan kalian tidak pernah mengaplikasikan sebagian kecil subtansi diri kalian sebagai agen of change, apalagi sampai menganalisa fenomina social yang kerapkali diabaikan, sehingga tidaklah pantas kau berkata kebenaran. Sekali kau berkata kebenaran, aku diamkan mulutmu dengan tangan yang penuh darah. 

Tubuh serasa ingin mendekap dalam setiap sentuhan, aku bukan kamu. Jika hari ini, ditempat sederhana kita bermukim diperantauan tuk mencari sesuap butir kebenaran demi masa depan. Membela kaum yang lemah itulah tanggung jawab kita, bukan lagi lari dalam kemunafikan yang kita punya. Aku, kalian dan mereka sama saja! Tidak ada yang membedakan, kecuali sudahkah kita berbuat baik sesama? Hubungan manusia dengan Tuhannya tidak hanya dipahami sebagai kewajiban mengabdi padanYa, melainkan seberapa sering kita memberi, apapun itu bentuknya. Manusia (mahasiswa) bukan lagi dilahirkan seorang diri, “aku tahu itu”. Sederhanya kita tidak hidup di alam mimpi, sekarang hidup bukanlah di dunia khayal. Mengapa harus ada orang-orang apatis, dan tidak mau tahu tentang kehidupan yang menikam saudara-saudara kita, dirampas haknya. Sungguh tak bermanusiawi kau ini, manusia-manusia berwajah kapitalis. Kata anjing; yang pantas bagi mahasiswa yang selalu mengedepankan dan memprioritaskan mindsetnya untuk dirinya sendiri, tanpa harus berbagi pada orang lain. 

Mahasiswa yang katanya sebagai wadah perubahan, tidak lain dan tidak bukan ini akan menjadi tolak ukur sejatinya diri mahasiswa. sebab mengapa? Karena mahasiswa disamping sebagai olok-olokkan perubahan, disamping itu pula sebagai gardah paling terdepan ditengah-tengah simpang siurnya kekacauan negeri ini, hal itulah buang jauh-jauh paradigma miring yang hanya untuk dirinya sendiri. Mulai dan biasakan ulurkan tangan kita untuk lebih melihat kebawah, merelakan sisa Almamater yang disandangnya sebagai bukti perwujudan tanggung jawab. 

Bangkalan, Bantal Guling, Januari 2012
Dafir Falah