Globalisasi merupakan suatu manifestasi yang sangat berpengaruh dalam perkembangan perubahan dunia, khususnya di pulau Madura. Pengaruh globalisasi bukan lagi sebagai bahan yang tidak penting untuk dibicarakan, apalagi sampai dianggap hanya celutusan ramuan-ramuan yang mudah hilang. Sekarang atau bahkan nanti, hal ini akan menjadi problematika sosio-kultural yang paling mengancam pulau Madura.
Jika ditarik kembali pemahaman globalisasi rasanya masih membekas dibenak kita, semenjak jadi siswa yang konon terbilang tidak tahu apa-apa. Guru-guru kita seringkali menyampaikan setiap masuk kelas pada murid-muridnya, “lestarikan budaya pulau madura, jangan sampai luntur terkikis dan menjadi asing di daerahnya sendiri”.
Hal demikian, bukanlah sesuatu yang jarang untuk kita dengar apalagi sampai dilupakan begitu saja. Virus globalisasi ada yang bilang itu merupakan perspektif baru tentang konsep “Dunia Tanpa Batas” yang saat ini menjadi porno public di seluruh manca Negara, dan sangat mengancam keberadaanya atau bisa jadi membawa perubahan kultur baru. Jika melirik apa yang disampaikan SELO SOEMARDJAN, Globalisasi adalah terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi antar masyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah yang sama.
Madura dengan kondisi potensi budaya yang beranekaragam sangatlah menjadi modal besar untuk tetap bertahan dan mengembangkan kekayaan budaya lokal yang ada, selain itu juga kita bisa memperkenalkan budaya Madura pada daerah-daerah yang ada di Indonesia, sebab ditinjau dari kekayaan budaya madura yang dimilikinya tidak kalah hebatnya dengan daerah-daerah lainnya, seperti halnya Bali, Yogyakarta. Namun, hanya saja banyak masyarakat Madura yang tidak bangga dengan hasil karyanya sendiri. Maka tidak heran, jika perang budaya sudah dimulai kembali. Sejarah mencatat, pada tahun 1994, misalnya 18 dari 23 peperangan yang terjadi di dunia diakibatkan oleh sentiment-sentimen budaya, agama dan etnis.
Ironi sekali, jika pada akhirnya pulau Madura menjadi salah satu kandidat yang akan mengalami kejadian tersebut. Dilihat dari pengamatan dan penafsiran-penafsiran mengenai Madura tanpa disadari atau tidak, budaya Madura perlahan-perlahan akan segera punah. Kita tidak usah terlalu jauh-jauh mengambil sebuah contoh, sebut saja “Bahasa Madura”. Bahasa nenek moyang yang telah lama menjadi bagian dari identitas masyarakat madura, sekarang kita jarang mendengarnya. Entah apa penyebabnya! Namun yang jelas ini merupakan fakta yang tidak bisa kita hindari.
Bahasa madura mulai ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri, bahasa ibu yang dulunya menjadi kebanggaan masyarakat madura, sekarang sudah tinggal kenangan dan tak akan lama lagi nyaris punah. Menurut “Adrian Pawitra” penulis lengkap kamus bahasa Madura, bahasa Madura adalah bahasa paling besar ke empat di negara Indonesia.
Jika melihat demikian, maka seharusnya masyarakat Madura memiliki rasa tanggung jawab dalam melestarikan bahasa tersebut, dan lebih mengedepankan bahasa ibu sebagai bahasa daerah yang sepantasnya kita jaga. Akan tetapi, sejauh ini bahasa Madura seakan-akan telah dihegemoni oleh bahasa-bahasa lain, seperti halnya bahasa gaul dan bahasa alay yang saat ini seringkali kita mendengarnya. Mengerikan sekali ketika kita membayangkan bahasa ibu sudah diperkosa telanjang tak berdaya, nasionalisme hanya menjadi sebuah jargon tanpa adanya aplikasi dalam bentuk yang nyata, bahasa ibu hanya menyisahkan penderitaan yang dihadiahkan pada nenek moyang kita sendiri. Secara tidak langsung kita sudah membunuh sebuah bahasa, yang berarti kita juga sudah membunuh suatu budaya.
Bahasa Madura sudah dianggap tidak relevan lagi, terkadang banyak diantara masyarakat Madura yang dalam berkomunikasi sehari-hari, memakai bahasa Indonesia atau yang lebih parah lagi menggunakan bahasa Asing. Penulis pikir boleh-boleh saja menggunakan bahasa tersebut, namun ada waktu dan tempat dimana kita harus menggunakannya. Jika di tempat resmi atau menuntut kita untuk berkomunikasi yang demikian, maka sepantasnya kita menggunakan tanpa harus melupakan bahasa daerah kita sendiri. Sebab kekayaan budaya yang dimiliki negara Indonesia, salah satunya dengan banyaknya suku, etnis dan bahasa daerah yang ada.
Oleh karena itu, kekayaan daerah tidak lagi dijadikan sebagai acuan yang paling berharga di derahnya sendiri. Sesuatu yang tidak mustahil, persoalan semacam ini sebenarnya merupakan tantangan yang sangat urgen untuk kita kaji bersama-bersama, dan mencari solusi cerdas adalah tanggung jawab kita sebagai warga masyarakat Madura.
Bangkalan, Januari 2012
Dafir


