Pages

Labels

Monday, 30 September 2013

Bahasa "MADURA" Menjadi Asing di Daerahnya Sendiri


Globalisasi merupakan suatu manifestasi yang sangat berpengaruh dalam perkembangan perubahan dunia, khususnya di pulau Madura. Pengaruh globalisasi bukan lagi sebagai bahan yang tidak penting untuk dibicarakan, apalagi sampai dianggap hanya celutusan ramuan-ramuan yang mudah hilang. Sekarang atau bahkan nanti, hal ini akan menjadi problematika sosio-kultural yang paling mengancam pulau Madura. 

Jika ditarik kembali pemahaman globalisasi rasanya masih membekas dibenak kita, semenjak jadi siswa yang konon terbilang tidak tahu apa-apa. Guru-guru kita seringkali menyampaikan setiap masuk kelas pada murid-muridnya, “lestarikan budaya pulau madura, jangan sampai luntur terkikis dan menjadi asing di daerahnya sendiri”. 

Hal demikian, bukanlah sesuatu yang jarang untuk kita dengar apalagi sampai dilupakan begitu saja. Virus globalisasi ada yang bilang itu merupakan perspektif baru tentang konsep “Dunia Tanpa Batas” yang saat ini menjadi porno public di seluruh manca Negara, dan sangat mengancam keberadaanya atau bisa jadi membawa perubahan kultur baru. Jika melirik apa yang disampaikan SELO SOEMARDJAN, Globalisasi adalah terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi antar masyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah yang sama. 

Madura dengan kondisi potensi budaya yang beranekaragam sangatlah menjadi modal besar untuk tetap bertahan dan mengembangkan kekayaan budaya lokal yang ada, selain itu juga kita bisa memperkenalkan budaya Madura pada daerah-daerah yang ada di Indonesia, sebab ditinjau dari kekayaan budaya madura yang dimilikinya tidak kalah hebatnya dengan daerah-daerah lainnya, seperti halnya Bali, Yogyakarta. Namun, hanya saja banyak masyarakat Madura yang tidak bangga dengan hasil karyanya sendiri. Maka tidak heran, jika perang budaya sudah dimulai kembali. Sejarah mencatat, pada tahun 1994, misalnya 18 dari 23 peperangan yang terjadi di dunia diakibatkan oleh sentiment-sentimen budaya, agama dan etnis. 

Ironi sekali, jika pada akhirnya pulau Madura menjadi salah satu kandidat yang akan mengalami kejadian tersebut. Dilihat dari pengamatan dan penafsiran-penafsiran mengenai Madura tanpa disadari atau tidak, budaya Madura perlahan-perlahan akan segera punah. Kita tidak usah terlalu jauh-jauh mengambil sebuah contoh, sebut saja “Bahasa Madura”. Bahasa nenek moyang yang telah lama menjadi bagian dari identitas masyarakat madura, sekarang kita jarang mendengarnya. Entah apa penyebabnya! Namun yang jelas ini merupakan fakta yang tidak bisa kita hindari. 

Bahasa madura mulai ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri, bahasa ibu yang dulunya menjadi kebanggaan masyarakat madura, sekarang sudah tinggal kenangan dan tak akan lama lagi nyaris punah. Menurut “Adrian Pawitra” penulis lengkap kamus bahasa Madura, bahasa Madura adalah bahasa paling besar ke empat di negara Indonesia. 

Jika melihat demikian, maka seharusnya masyarakat Madura memiliki rasa tanggung jawab dalam melestarikan bahasa tersebut, dan lebih mengedepankan bahasa ibu sebagai bahasa daerah yang sepantasnya kita jaga. Akan tetapi, sejauh ini bahasa Madura seakan-akan telah dihegemoni oleh bahasa-bahasa lain, seperti halnya bahasa gaul dan bahasa alay yang saat ini seringkali kita mendengarnya. Mengerikan sekali ketika kita membayangkan bahasa ibu sudah diperkosa telanjang tak berdaya, nasionalisme hanya menjadi sebuah jargon tanpa adanya aplikasi dalam bentuk yang nyata, bahasa ibu hanya menyisahkan penderitaan yang dihadiahkan pada nenek moyang kita sendiri. Secara tidak langsung kita sudah membunuh sebuah bahasa, yang berarti kita juga sudah membunuh suatu budaya. 

Bahasa Madura sudah dianggap tidak relevan lagi, terkadang banyak diantara masyarakat Madura yang dalam berkomunikasi sehari-hari, memakai bahasa Indonesia atau yang lebih parah lagi menggunakan bahasa Asing. Penulis pikir boleh-boleh saja menggunakan bahasa tersebut, namun ada waktu dan tempat dimana kita harus menggunakannya. Jika di tempat resmi atau menuntut kita untuk berkomunikasi yang demikian, maka sepantasnya kita menggunakan tanpa harus melupakan bahasa daerah kita sendiri. Sebab kekayaan budaya yang dimiliki negara Indonesia, salah satunya dengan banyaknya suku, etnis dan bahasa daerah yang ada. 

Oleh karena itu, kekayaan daerah tidak lagi dijadikan sebagai acuan yang paling berharga di derahnya sendiri. Sesuatu yang tidak mustahil, persoalan semacam ini sebenarnya merupakan tantangan yang sangat urgen untuk kita kaji bersama-bersama, dan mencari solusi cerdas adalah tanggung jawab kita sebagai warga masyarakat Madura.


Bangkalan, Januari 2012

Dafir

Saturday, 28 September 2013

hujan

aku
suara yang sumbang,
melihat hujan
seperti indah melangkah para jiwa;
letih menunggu bak rumah
seperti; tumpukan batu melingkar pesona
suara itu,
seakan sunyi dalam dusta

ah…
rumput menghijau
mengakar lebih sempurna dari musim


Bangkalan, 29 Oktober 2012
Dafir




(Mahasiswa) A p a t i s


Suatu momen yang kerapkali menjadi pembicaraan selayaknya birokrasi yang sering muncul di telivisi, aku mulai bingung tidak mengerti, jangankan mendengar nama yang maha itu, menulis cerita dimana pena yang suci harus mengabadikan orang-orang yang tidak mau menyisahkan rasa kepeduliannya pada orang lain, dan tidak mau berfikir untuk saudara-saudara yang tak sama nasibnya dengan kita, sedangkan identitas itu selalu disandang disetiap Almamater kebanggaan yang congkak. Kenapa harus senyum bahagia dan tidak mau peduli, padahal banyak tangis, derita dan penindasan semenjak negeri ini berdiri. 

Apa jangan-jangan hidup memang dituntut untuk memperkaya dirinya sendiri tanpa harus melihat bagaimana orang-orang disekitarnya, tidak ada keinginan untuk menanamkan kebersamaan untuk membela penindasan, penderitaan yang seringkali terjadi terhadap kaum-kaum minoritas atau sudah lupa dengan nama yang dimilikinya sebagai manusia bermakhluq sosial. Dimana letak identitas sosial kalian?. Sedangkan kalian tidak pernah mengaplikasikan sebagian kecil subtansi diri kalian sebagai agen of change, apalagi sampai menganalisa fenomina social yang kerapkali diabaikan, sehingga tidaklah pantas kau berkata kebenaran. Sekali kau berkata kebenaran, aku diamkan mulutmu dengan tangan yang penuh darah. 

Tubuh serasa ingin mendekap dalam setiap sentuhan, aku bukan kamu. Jika hari ini, ditempat sederhana kita bermukim diperantauan tuk mencari sesuap butir kebenaran demi masa depan. Membela kaum yang lemah itulah tanggung jawab kita, bukan lagi lari dalam kemunafikan yang kita punya. Aku, kalian dan mereka sama saja! Tidak ada yang membedakan, kecuali sudahkah kita berbuat baik sesama? Hubungan manusia dengan Tuhannya tidak hanya dipahami sebagai kewajiban mengabdi padanYa, melainkan seberapa sering kita memberi, apapun itu bentuknya. Manusia (mahasiswa) bukan lagi dilahirkan seorang diri, “aku tahu itu”. Sederhanya kita tidak hidup di alam mimpi, sekarang hidup bukanlah di dunia khayal. Mengapa harus ada orang-orang apatis, dan tidak mau tahu tentang kehidupan yang menikam saudara-saudara kita, dirampas haknya. Sungguh tak bermanusiawi kau ini, manusia-manusia berwajah kapitalis. Kata anjing; yang pantas bagi mahasiswa yang selalu mengedepankan dan memprioritaskan mindsetnya untuk dirinya sendiri, tanpa harus berbagi pada orang lain. 

Mahasiswa yang katanya sebagai wadah perubahan, tidak lain dan tidak bukan ini akan menjadi tolak ukur sejatinya diri mahasiswa. sebab mengapa? Karena mahasiswa disamping sebagai olok-olokkan perubahan, disamping itu pula sebagai gardah paling terdepan ditengah-tengah simpang siurnya kekacauan negeri ini, hal itulah buang jauh-jauh paradigma miring yang hanya untuk dirinya sendiri. Mulai dan biasakan ulurkan tangan kita untuk lebih melihat kebawah, merelakan sisa Almamater yang disandangnya sebagai bukti perwujudan tanggung jawab. 

Bangkalan, Bantal Guling, Januari 2012
Dafir Falah