Di tempat ini; tempat yang jauh dari kampungku dan
halamanku. Mengingat bulan puasa kemaren aku bermanja diri di rumah sampai lupa
pada nama-nama kota yang mesti aku bertandang. Sepintas, di bulan puasa yang
sama dengan tahun yang berbeda, aku menjumpai dan bertempat tinggal di suatu
desa yang memiliki kultur yang berbeda dengan desa-desa lain.
Aku belajar banyak hal tentang rangkuman yang cukup menyisahkan
pori-pori kehidupan yang harus aku titi. “Desa Tlangoh”, sebuah desa yang unik
menurutku. Meski kedatanganku tidak cukup sehaluan dengan suasana hati dan
pikiran yang masih mempertanyakan esensi pengabdian.
Katakanlah “kuliah kerja norak (KKN)”, dimana
pengabdian semacam ini – aku menyaksikan sendiri bahwa hal tersebut sangat dijunjung
tinggi banyak mahasiswa dan bahkan program ini menjadi sorotan paling digemari.
Sebelum akhirnya aku harus terlibat di dalamnya, dan melakukan hal bodoh
sama-sama.
Aku sudah menduga jauh-jauh hari. Fase ini memang
harus dilewati, walau pun harus melawan nurani. Aku kadang berpikir dan merasa
malu untuk menatap wajahku sendiri.
LPPM yang dianggap sebagai dewa – telah mampu membikin
linglung badut-badut mahasiswa. Seperti kehilangan akal sehat yang terjerumus
pada godaan menyesatkan. Sederhana sekali pertanyaan itu sering muncul dalam
pikiranku; mengapa bentuk ‘pengabdian’
harus diprogram?
Dan sampai saat ini, mahasiswa seakan-akan dibuai oleh
rayuan maut LPPM. Kita dibuat tak sadarkan diri dan mengamini apa yang keluar
dari mulut LPPM, menerima dan patuh sebagai bentuk penistaan terhadap identitas
mahasiswa. Bukankah begitu, kawan?
Aku semakin tidak mengerti, mengapa peradaban pendidikan
semakin lama – semakin di luar nalar? Dan memang sangat miris sistem pendidikan
hari ini, entah sampai kapan kita akan diperbudak oleh bisnisman pendidikan.
Mungkin saatnya konspirasi mulai diminati sampai harus
melibatkan dunia pendidikan. “Bukankah
mengabdi adalah cara seseorang untuk melakukan sesuatu yang cukup dirasakan
sendiri, tidak perlu diprogram apalagi dipamer-pamerkan”.
Dan yang lebih menjengkelkan dan membuatku gusar, mengapa
wacana ini tidak pernah disentuh oleh mahasiswa yang jelas-jelas sebagai kaum
intelek? Semestinya pengabdian semacam ini diurungkan dan bahkan ditiadakan
kalau perlu.
Paling tidak, kita wajib menolak perbudakan yang
berindikasi pada pembunuhan langkah seseorang dalam menterjamahkan pengabdian
dan kebaikan. Melakukan sesuatu bukan karena siapa-siapa, tapi berangkat dari
hati dan keikhlasan.
Kemudian, lenyapnya nilai dan ketulusan didasari pada
prilaku yang absurd dan hyperrealitas yang dilakoni mahasiswa. Bukti yang
paling porno dan goblok adalah mahasiswa dijadikan alat LPPM demi mengaut
sumber-sumber kekayaan pribadi dan kelompok tertentu yang berindikasi pada
keserakahan.
Dengan dalih mahasiswa disuruh bikin ini itu yang konon katanya menyentuh langsung kepada
masyarkat. Padahal posisi kita ini siapa? Kita punya waktu dan berani bayar
berapa untuk melibatkan masyarakat ikut andil dalam program gila kita?
Memangnya kita punya apa yang mau diberikan kepada
masyarakat? Mau menggurui mereka, mentang-mentang kita punya segudang teori
yang sok-sok-an itu. Lantas mau mengajarin mereka bertani yang baik seperti
apa, atau mengajari menangkap ikan yang benar seperti apa?
Bikin aku mules saja melihat pendidikan hari ini. Memandang
realitas hidup secara sempit, dan tidak mau membuka lebar tentang pengetahuan masyarakat
yang jelas-jelas tidak sama dengan masyarakat tempo dulu. Masyarakat sekarang
sudah mengerti dan bahkan lebih pintar dari kita, kawan. “kok seperti pahlawan
kesiangan saja”, geramku.
Ayolah, lekas sadar dan kembali pada yang benar. Masak
masih mau ditipu oleh LPPM, dan semestinya kita sudah dewasa memandang itu. Apalagi kita
digadang-gadang sebagai kaum pemikir. Dan sangat tidak gapah, jika
produk-produk LPPM diamini segampang itu tanpa adanya perundingan kembali
mengenai hakikat “kuliah kerja norak (KKN)”.
Di akui atau tidak, LPPM sudah membuat otak waras kita
mandul. Padahal tujuan dari segalanya adalah
proyek. Sekilas kita harus sadar
betul dan jangan mau dibodoh-bodohin. Mengapa kita masih nurut saja? Tolong segera
dikencingi rumah dinas LPPM dan mahasiswa pula yang menganggap LPPM adalah
jembatan pembelajaran.
Selamat mengabdi
untuk badut-badut mahasiswa “Kuliah Kerja Norak” (KKN),
Selamat menjadi
orang mayak,
Selamat pula
untuk menjadi babu LPPM,
Dan, selamat
untuk LPPM yang sudah berhasil membikin mahasiswa lupa diri.
Tlangoh, 13 Juli 2014
Dafir Falah


