Suatu momen yang kerapkali menjadi pembicaraan selayaknya birokrasi yang sering muncul di telivisi, aku mulai bingung tidak mengerti, jangankan mendengar nama yang maha itu, menulis cerita dimana pena yang suci harus mengabadikan orang-orang yang tidak mau menyisahkan rasa kepeduliannya pada orang lain, dan tidak mau berfikir untuk saudara-saudara yang tak sama nasibnya dengan kita, sedangkan identitas itu selalu disandang disetiap Almamater kebanggaan yang congkak. Kenapa harus senyum bahagia dan tidak mau peduli, padahal banyak tangis, derita dan penindasan semenjak negeri ini berdiri.
Apa jangan-jangan hidup memang dituntut untuk memperkaya dirinya sendiri tanpa harus melihat bagaimana orang-orang disekitarnya, tidak ada keinginan untuk menanamkan kebersamaan untuk membela penindasan, penderitaan yang seringkali terjadi terhadap kaum-kaum minoritas atau sudah lupa dengan nama yang dimilikinya sebagai manusia bermakhluq sosial. Dimana letak identitas sosial kalian?. Sedangkan kalian tidak pernah mengaplikasikan sebagian kecil subtansi diri kalian sebagai agen of change, apalagi sampai menganalisa fenomina social yang kerapkali diabaikan, sehingga tidaklah pantas kau berkata kebenaran. Sekali kau berkata kebenaran, aku diamkan mulutmu dengan tangan yang penuh darah.
Tubuh serasa ingin mendekap dalam setiap sentuhan, aku bukan kamu. Jika hari ini, ditempat sederhana kita bermukim diperantauan tuk mencari sesuap butir kebenaran demi masa depan. Membela kaum yang lemah itulah tanggung jawab kita, bukan lagi lari dalam kemunafikan yang kita punya. Aku, kalian dan mereka sama saja! Tidak ada yang membedakan, kecuali sudahkah kita berbuat baik sesama? Hubungan manusia dengan Tuhannya tidak hanya dipahami sebagai kewajiban mengabdi padanYa, melainkan seberapa sering kita memberi, apapun itu bentuknya.
Manusia (mahasiswa) bukan lagi dilahirkan seorang diri, “aku tahu itu”. Sederhanya kita tidak hidup di alam mimpi, sekarang hidup bukanlah di dunia khayal. Mengapa harus ada orang-orang apatis, dan tidak mau tahu tentang kehidupan yang menikam saudara-saudara kita, dirampas haknya.
Sungguh tak bermanusiawi kau ini, manusia-manusia berwajah kapitalis. Kata anjing; yang pantas bagi mahasiswa yang selalu mengedepankan dan memprioritaskan mindsetnya untuk dirinya sendiri, tanpa harus berbagi pada orang lain.
Mahasiswa yang katanya sebagai wadah perubahan, tidak lain dan tidak bukan ini akan menjadi tolak ukur sejatinya diri mahasiswa. sebab mengapa? Karena mahasiswa disamping sebagai olok-olokkan perubahan, disamping itu pula sebagai gardah paling terdepan ditengah-tengah simpang siurnya kekacauan negeri ini, hal itulah buang jauh-jauh paradigma miring yang hanya untuk dirinya sendiri. Mulai dan biasakan ulurkan tangan kita untuk lebih melihat kebawah, merelakan sisa Almamater yang disandangnya sebagai bukti perwujudan tanggung jawab.
Bangkalan,
Bantal Guling, Januari 2012
Dafir Falah
Dafir Falah



0 comments:
Post a Comment