Pages

Labels

Friday, 21 March 2014

SALAH JALAN

 Berbagi kesepian adalah cara yang paling jitu dalam bertindak dan berbuat. Saat semuanya girang pada kekuasaan dan jabatan, mungkin bahasa asese melengkapi tujuan dari pada dikehendakinya 

Seketika hanya bercanda dengan waktu, dan kehidupan kampus yang terus membias dalam  diri saya. Berhari-hari disuguhi aktivitas klasik, dan itu-itu saja. 
      Mengerikan sekali saat mata dipaksa melihat kegiatan-kegiatan ulah. Tapi tidak tahu kenapa, saya tetap terima begitu saja.
Pikirku, sampai kapan aktivitas kaku ini berlanjut? Serius saya sudah muak, atau mungkin hanya perasaan saya yang salah, semoga saja saya tidak lagi gila.
Kali ini, saya tidak sedang marah. Mungkin hanya pikiran saya yang agak klenik. Dalam kepala saya, saya percaya bahwa proses tidak pernah bohong.
Kebanyakan mahasiswa, mungkin kampus merupakan prioritas utama untuk berproses.
Tapi, akhir-akhir ini saya dipenuhi ketidak-percayaan dan tentu saja kekhawatiran. Sebab, ada masalah besar yang mendorong saya untuk berpikir dan berprasangka buruk pada hunian kampus.
Sedikit saya mengalami kecurigaan, awalnya saya ingin berniat baik pada hunian kampus. Entah kenapa seketika, kepala saya nyaris tidak kuat dan nyeri, jika setiap hari saya harus mendengarkan petuah dosen, itu yang saya rasakan bertahun-tahun sampai hari ini.
Saya sadari ini kecelakaan yang saya buat atas nama kontrak jahiliyah. Masak iya, saya harus belajar teori dari orang yang sudah mati, menghamba pada pemikiran-pemikiran yang absurd.
Bagaimana mungkin, saya harus percaya betul, sedangkan saya belum tau si-tokoh warna kulitnya apa?
Tapi, tak perlu saya merasa berdosa dan rasuah, cukuplah dosen capcus menanggung semuanya, dan saya ucapkan  terimakasih telah membikin banyak manusia sesat dan bermimpi.
Di sisi lain, jujur saya kadang merasa eksklusif juga, berada di kampus peradaban. Kampus yang katanya sebagai wadah pengetahuan, yang mampu mencetak manusia-manusia  berkualitas.
Ah, omong kosong. Stigma yang terlalu overdosis kali. Tapi nggak apa-apalah, jika banyak orang menuakan pandangan tersebut. Terus terang saya agak cemas, melihat pemikiran mahasiswa hari ini.
Iya kadang emosi juga, [maaf mungkin pikiran saya lagi kotor dan terlalu berprasangka buruk].
Saya menyarankan tidak usah diambil hati apalagi sampai heboh. Saya cuma lagi ingin bermimpi, membayangkan kehidupan kampus yang dihuni mahasiswa masa depan pejuang revolusi, “katanya begitu.
Saya sengaja membiarkan waktu ini dan hari-hari saya berlalu cepat. Karena saya tidak mau lama-lama disini. Mungkin tempat ini, saya anggap musibah yang pernah saya lakukan.
Saya tidak ingin mengulang kembali. Iya, beginilah kehidupan akademisi zaman sekarang.
Tidak butuh masa yang lama, saya memang percaya; bahwa kampus hari ini banyak diminati oleh banyak orang dan laku sekali, alih-alih konon mampu mencetak generasi bangsa yang amatir, “lagi-lagi kata teman saya waktu ngopi dulu.
Tapi tidak salah juga, jika sebagian besar dari mereka masih berfantasi menjadi raja dan jagoan, sekalian jadi superhero juga nggak masalah.
Barangkali memang kampus sebagai pilihan yang paling tepat untuk merubah diri menjadi manusia perbawa.
Bagi saya, ya silahkan saja, asalkan jangan jadi tikus berdasi. Sebab setahu saya, orang besar dan peduli pada orang lain tidak harus dari kampus.
Pak becak, bu warung kopi depan kampus dan sekawannya, tidak butuh sijil untuk memperlakukan dirinya menjadi hirau. Saya pikir, mungkin cuma orang bebal yang terlalu pongah mengukur kebaikan.
Terus terang, saya mulai jenuh dengan kondisi kampus yang belakangan ini mirip kamar mandi, atau cuma pikiran saya yang konslet.
Saya tidak lagi membual, saya benar-benar menemukan titik gelisah di tempat ini  tempat yang seharusnya lebih peduli pada sesama, menguji keseriusan akan banyak hal; memperlakukan dirinya sebagai suluh solutif untuk orang lain.
Bukan berarti saya tidak yakin, selama ini saya selalu berdo’a. Semoga orang yang ada di tempat ini tidak kesurupan dan kembali pada jalan yang benar. Paling tidak mereka lebih punya empati pada kesengsaraan, memiliki kesadaran dan membangun kesahajaan.
Saya tidak memandang diri saya paling baik dan paling benar, saya hanya tidak menduga beberapa hari ini mengempik setelah kepicikan-kepicikan dibuat dalam kondisi sadar dan pura-pura blagu.
Saya tidak bisa menyebutnya satu persatu, mungkin belum ada bukti tertulis sekaligus rekaman video, dan saya juga tidak berani menyampaikan nama siapa saja yang berlakon.
Tapi, saya meyakini bahwa hal tersebut sesuat yang brengsek (cabul). Dan tidak laik dilakukan seorang “intelek” yang digadang-gadang sebagai pintu perubahan dan pembela kebenaran.
Lalu, pada saat itu saya merenung ulang. Saya mengalami rasa jengah dan gusar — sesekali ingin menukik kelakuannya. Para hunian kampus yang tidak ubahnya makhluk-makhluk setengah kerbau dicucuk hidung bermuka nabi. Semua lini tidak ada bedanya apalagi bersikap bersih, calon-calon pemimpi dan petinggi kekuasaan sama saja  sama-sama cabul. Padahal, perguruaan tinggi adalah peradaban pendidikan yang dianggap paling terhormat.
Sehingga tidak salah, jika sebagian dari mereka; menganggap sebagai pembenahan diri menuju kebajikan.
Dan seharusnya, kalaupun saat sekarang kita memposisikan diri sebagai manusia yang paling intelek (mahasiswa), yang memiliki kecendrungan untuk memahami dan mengerti kelaikan berprilaku bersih dan acuh pada sesama.
Semestinya, menyadari betul; bahwa peran dan tanggung jawab yang disandang merupakan bentuk perjuangan sosial yang mesti dilakoni.
Berharap “kini atau nanti” tentang kesadaran dan kebaikan, dan yang lalu adalah palsu.

Tengah Malam
Bangkalan, 22 Maret 2014


0 comments: