— Berbagi kesepian adalah cara yang
paling jitu dalam bertindak dan berbuat. Saat semuanya girang pada kekuasaan dan jabatan, mungkin bahasa asese
melengkapi tujuan dari pada dikehendakinya —
Seketika hanya bercanda dengan waktu, dan kehidupan kampus yang terus membias dalam diri
saya. Berhari-hari
disuguhi aktivitas klasik, dan itu-itu saja.
Mengerikan sekali saat mata dipaksa melihat kegiatan-kegiatan ulah. Tapi tidak tahu kenapa, saya tetap terima begitu saja.
Pikirku,
sampai kapan aktivitas kaku ini berlanjut? Serius saya sudah muak, atau mungkin
hanya perasaan saya yang salah, semoga saja saya tidak lagi gila.
Kali
ini, saya tidak sedang marah. Mungkin hanya pikiran saya yang agak klenik.
Dalam kepala saya, saya percaya bahwa proses tidak pernah bohong.
Kebanyakan
mahasiswa, mungkin kampus merupakan prioritas utama untuk berproses.
Tapi,
akhir-akhir ini saya dipenuhi ketidak-percayaan dan tentu saja kekhawatiran.
Sebab, ada masalah besar yang mendorong saya untuk berpikir dan berprasangka
buruk pada hunian kampus.
Sedikit
saya mengalami kecurigaan, awalnya saya ingin berniat baik pada hunian kampus.
Entah kenapa seketika, kepala saya nyaris tidak kuat dan nyeri, jika setiap
hari saya harus mendengarkan petuah dosen, itu yang saya rasakan bertahun-tahun
sampai hari ini.
Saya
sadari ini kecelakaan yang saya buat atas nama kontrak jahiliyah. Masak iya,
saya harus belajar teori dari orang yang sudah mati, menghamba pada
pemikiran-pemikiran yang absurd.
Bagaimana
mungkin, saya harus percaya betul, sedangkan saya belum tau si-tokoh warna
kulitnya apa?
Tapi,
tak perlu saya merasa berdosa dan rasuah, cukuplah dosen capcus menanggung
semuanya, dan saya ucapkan terimakasih telah membikin banyak manusia
sesat dan bermimpi.
Di
sisi lain, jujur saya kadang merasa eksklusif juga, berada di kampus peradaban.
Kampus yang katanya sebagai wadah pengetahuan, yang mampu mencetak
manusia-manusia berkualitas.
Ah,
omong kosong. Stigma yang terlalu overdosis kali. Tapi nggak apa-apalah, jika
banyak orang menuakan pandangan tersebut. Terus terang saya agak cemas, melihat
pemikiran mahasiswa hari ini.
Iya
kadang emosi juga, [maaf mungkin pikiran saya lagi kotor dan terlalu
berprasangka buruk].
Saya
menyarankan tidak usah diambil hati apalagi sampai heboh. Saya cuma lagi ingin
bermimpi, membayangkan kehidupan kampus yang dihuni mahasiswa masa depan
pejuang revolusi, “katanya begitu.
Saya
sengaja membiarkan waktu ini dan hari-hari saya berlalu cepat. Karena saya
tidak mau lama-lama disini. Mungkin tempat ini, saya anggap musibah yang pernah
saya lakukan.
Saya
tidak ingin mengulang kembali. Iya, beginilah kehidupan akademisi zaman
sekarang.
Tidak
butuh masa yang lama, saya memang percaya; bahwa kampus hari ini banyak
diminati oleh banyak orang dan laku sekali, alih-alih konon mampu mencetak
generasi bangsa yang amatir, “lagi-lagi kata teman saya waktu ngopi dulu.
Tapi
tidak salah juga, jika sebagian besar dari mereka masih berfantasi menjadi raja
dan jagoan, sekalian jadi superhero juga nggak masalah.
Barangkali
memang kampus sebagai pilihan yang paling tepat untuk merubah diri menjadi
manusia perbawa.
Bagi
saya, ya silahkan saja, asalkan jangan jadi tikus berdasi. Sebab setahu saya,
orang besar dan peduli pada orang lain tidak harus dari kampus.
Pak
becak, bu warung kopi depan kampus dan sekawannya, tidak butuh sijil untuk
memperlakukan dirinya menjadi hirau. Saya pikir, mungkin cuma orang bebal yang
terlalu pongah mengukur kebaikan.
Terus
terang, saya mulai jenuh dengan kondisi kampus yang belakangan ini mirip kamar
mandi, atau cuma pikiran saya yang konslet.
Saya
tidak lagi membual, saya benar-benar menemukan titik gelisah di tempat ini — tempat
yang seharusnya lebih peduli pada sesama, menguji keseriusan akan banyak hal;
memperlakukan dirinya sebagai suluh solutif untuk orang lain.
Bukan
berarti saya tidak yakin, selama ini saya selalu berdo’a. Semoga orang yang ada
di tempat ini tidak kesurupan dan kembali pada jalan yang benar. Paling tidak
mereka lebih punya empati pada kesengsaraan, memiliki kesadaran dan membangun
kesahajaan.
Saya
tidak memandang diri saya paling baik dan paling benar, saya hanya tidak
menduga beberapa hari ini mengempik setelah kepicikan-kepicikan dibuat dalam
kondisi sadar dan pura-pura blagu.
Saya
tidak bisa menyebutnya satu persatu, mungkin belum ada bukti tertulis sekaligus
rekaman video, dan saya juga tidak berani menyampaikan nama siapa saja yang
berlakon.
Tapi,
saya meyakini bahwa hal tersebut sesuat yang brengsek (cabul). Dan tidak laik
dilakukan seorang “intelek” yang digadang-gadang sebagai pintu perubahan dan
pembela kebenaran.
Lalu,
pada saat itu saya merenung ulang. Saya mengalami rasa jengah dan gusar — sesekali ingin menukik
kelakuannya. Para hunian kampus yang tidak ubahnya makhluk-makhluk setengah
kerbau dicucuk hidung bermuka nabi. Semua lini tidak ada bedanya apalagi
bersikap bersih, calon-calon pemimpi dan petinggi kekuasaan sama saja — sama-sama
cabul. Padahal, perguruaan tinggi adalah peradaban pendidikan yang dianggap
paling terhormat.
Sehingga
tidak salah, jika sebagian dari mereka; menganggap sebagai pembenahan diri
menuju kebajikan.
Dan
seharusnya, kalaupun saat sekarang kita memposisikan diri sebagai manusia yang
paling intelek (mahasiswa), yang memiliki kecendrungan untuk memahami dan
mengerti kelaikan berprilaku bersih dan acuh pada sesama.
Semestinya,
menyadari betul; bahwa peran dan tanggung jawab yang disandang merupakan bentuk
perjuangan sosial yang mesti dilakoni.
Berharap
“kini atau nanti” tentang kesadaran dan kebaikan, dan yang lalu adalah palsu.
Tengah Malam
Bangkalan, 22 Maret 2014



0 comments:
Post a Comment