Pages

Labels

Saturday, 14 June 2014

Kampret itu ‘Demokrasi’

Sejarah negeri ini memang kelam, dik. “kata penyair Madura yang waktu itu saya habiskan rokoknya di warung kopi.
Persoalan budaya, ekonomi dan bahkan politik menjadi tontonan paling sedap bagi bangsa Indonesia. Demokrasi yang digadang-gadang sebagai senjata paling ampuh untuk mengubah negeri ini lebih baik dan mengurangi angka-angka. Yang saya maksud angka adalah kemiskinan, diskriminasi dan ketidak-adilan yang semakin bertambah, dan bisa saja bertambahnya angka koruptor-koruptor baru. Semoga saja lekas sadar.
Tentu hanya sekedar bualan praktis para elit penguasa yang gelojoh. Sisa kemerdekaan telah membuat penghuni negeri ini menaruh mimpi dan harapan palsu. Apalagi transisi demokrasi yang selalu disinggung soal reformasi politik, yang konon katanya telah berhasil menggulingkan kontruksi politik rezim lama.
Dan hari ini, setelah beberapa batang rokok saya hisap. Saya ingat tentang pemilu demokrasi yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Gemuruh dan hiruk pikuk kampanye politik telah membuat mata dan pendengaran saya serasa di hujani janji-janji.
Awalnya saya ingin berprasangka baik, tapi saya masih tidak lupa dengan janji yang diamanahkan itu. Kalau pun kepercayaan rakyat Indonesia tentang pesta demokrasi dianggap sebagai keberlangsungan masa depan bangsa Indonesia selama satu priode. 
Apalagi dengan anekdot yang berkembang dan menggiurkan; “satu suara menentukan nasib bangsa Indonesia selama lima tahun ke depan”. Itu kan cuma anekdot, dik. “lagi-lagi kata penyair sekaligus mas senior.
Kemudian, hak-hak politik rakyat dan partisipasi politik yang sangat memiliki kontribusi besar, disulut kembali untuk momentum diselenggaranya pemilihan calon presiden dan wakil presiden. Meski semuanya bersumber kepentingan-kepentingan yang terus terang bukan rahasia umum lagi.
“Tukang ojek dan penjual nasi pecel kalau ditanya mengenai Indonesia – jawabannya sangat simpel, ya tentu ‘korupsi’. Jawaban yang sangat sederhana, tapi mengalami regresif kepercayaan yang mendera bangsa kita. Seharusnya bangsa Indonesia merasa jengah dengan situasi yang semakin menyedihkan. 
Kalau pun organisasi politik sebagai medium menuju pemikiran yang demokratis, yang pada akhirnya partai politik ditempatkan sebagai institusi paling penting dalam percaturan demokrasi.
Saya sih iya-iya saja, tapi jangan sampai dipaksa untuk mempercayai itu, apalagi dijadikan rujukan harga mati untuk terlibat dalam perebutan kekuasaan. Bagi saya ‘demokrasi’ sudah mati.
Lantas, masih berartikah demokrasi di negeri ini?
Kalau pun segala macam cara partai politik memainkan taringnya untuk meraih dan mencapai tujuan yang akan dikehendakinya. Mungkin indikasi berkiprahnya partai politik yang paling akrab didengar adalah demi tujuan perubahan. Mungkin saja saya bisa percaya dan mungkin saja saya juga tidak percaya. Tapi untuk kali ini, kepercayaan saya sudah habis di makan waktu.
Jika saya bersikap seperti itu – dianggap telah menghianati undang-undang; di senayan sana, dan di gedung terhormat yang kata orang sebagai penyambung lidah rakyat. Bukan hanya menghianati undang-undang – tapi kitab suci yang ditaruk di atas kepalanya, hanya dijadikan seremonial yang tidak memiliki pengaruh apa-apa. 
Padahal, jika ditarik dalam kamus besar bahasa guyonan di warung-warung kopi – berani amat si-botak itu bersumpah alih-alih ingin mengemban amanah, nggak takut disambar petir kali biar tahu rasanya.
Perubahan kampreeet. Legitimasi panggung kekuasaan sebagai bentuk oligarki demi capaian-capaian yang akan mengkerucut pada kekuatan imperium kekuasaan yang bisa melanggengkan.
Bukan tidak mungkin dan karena itulah, kepercayaan masyarakat terhadap partai politik dan politikus akan mengalami kebencian yang sampai saat ini belum bisa dijawab dengan rumus-rumus politik. 
Kemudian, banyaknya daftar nama yang menyeret petinggi-petinggi berdasi yang tersandung korupsi, maka tidak cukup untuk mengembalikan restorasi kepercayaan masyarakat kembali seperti semula, apalagi saya.

Sekret_SM, 14 Juni 2014
Dafir falah







0 comments: