Sebaik-baik hidup adalah berhubungan baik
dengan makhluk lain. Soal bertopeng
dan memasang wajah polos; itu hanya kombinasi perihal benar dan lancung. Tapi
untuk melintasi batasan-batasan yang kerap menjadi rutinitas dan kepercayaan—butuh pemanis dan rayuan
kreativitas.
Hari ini—berhubungan baik pada orang lain menjadi peradaban baru untuk menutupi
noktah yang asli. Sebab tak ada, apalagi manusia memiliki pengalaman sejarah
yang panjang. Meski terkadang manusia mengandung paras dan kelam. Seperti dalam
Interaksionisme Simbolik Blumer—setiap manusia memiliki cara
pandang sendiri dalam urusan berinteraksi.
Seperti saya yang sedang menyusun laku untuk bermuka baik. Karena menjaga reputasi dan membangun citra
diri adalah cara manusia dengan pesonanya—dan hal itu wajar. Asalkan kembali seperti se-adanya.
Karena pada hakikatnya manusia memang kerap menampilkan citra dan
eksistensi. Apalagi mahasiswa di kampus saya yang sedang krisis pengakuan dan
nama. Di luar keterbatasan yang tak lagi dipersoalkan dan karena saya tidak
punya urusan apa pun mengenai identitas diri mahasiswa—apalagi menyoalnya. Kecuali berkaitan dengan
hal-hal yang dianggap berdosa kepada orang banyak.
Saya sangat memafhumi—karena
sejatinya mahasiswa di kampus saya sedang dalam mencari wadah untuk
memuncratkan ide dan bla-bla. Kesesuaian antara keinginan yang membeludak
dengan kepastian yang sering menjadi wacana. Dengan angan-angan yang tak
terkendali akan memunculkan percikan-percikan yang menyulut pada pemikiran anarki.
Maka tentu pihak kampus semestinya tidak hanya bergeming di dalam ruangan yang
ber-AC. Perlu kiranya menempatkan segala sesuatunya yang tidak bersifat niskala—dengan catatan berani bersikap terbuka dan
membuang kebiasaan buruk.
Bukan malah mengambil
jalan pintas dengan memberdayakan penyebaran informasi yang berpura-pura dan
palsu. Biar kelihatan keren—dan menutupi segala tipu daya dengan berdalih
bahwa seakan-akan baik-baik saja. Tanpa melalui deretan panjang untuk berkisah
dengan bukti-bukti konkrit.
Saya jadi ingat—sekitar beberapa hari yang lalu.
Memang pada saat itu matahari sedang pucat dan terik. Lalu, saya dan
teman saya berteduh di tempat yang sudah dianggap milik sendiri. Sambil melanjutkan
obrolan yang tadinya sempat terpotong. Analogi yang sering menjadi bahan
diskusi adalah keberadaan kampus—meskipun
terkadang nihil dan sangat tidak mungkin. Maklum saja—karena kampus saya adalah koservatif yang setia.
Sepanjang menekuni diskusi yang mulai larut. Kini
perhatian
saya tertuju pada ‘humas atau Puclic Relation’. Dalam hal ini saya
terkesan seperti mendapatkan ilham untuk sedikit membicarakannya. Satu perkara
yang tak henti-hentinya saya lupakan, dan selalu menyimpan curiga yang dalam.
Bagi saya humas memang sering bersikap baik dengan public, kedekatan humas memang sangat dijaga dan bahkan selalu
melimpahkan turah. Apalagi saya menganggap pekerjaan humas adalah pekerjaan
yang indah dan spesial. Kebiasaan humas yang sering menebarkan pesona lewat
informasi konsumtif—membuat saya
semakin bergairah untuk menelanjanginya. Tapi biasanya pekerjaan humas sering menyulap sesuatu menjadi absah. Bukahnkah
begitu? Atau hanya pikiran saya yang sedang klenik.
Mereka yang pandir. Seketika terkesima dengan keberadaan humas. Sebab
humas telah mampu membuat satu statmen menjadi satu kesimpulan yang benar.
Menjelaskan logika hipokrit kepada public
sebagai bentuk rutinitas dan ruh dalam tubuh humas. Kita selalu mendengar
derunya informasi lewat apologi yang bergegas di luar kesadaran diri manusia
pada umumnya.
Siapa yang tidak percaya pada humas? Mengapa setiap perusahan,
organisasi, instansi, perguruan tinggi dan bahkan warung kopi—butuh tangan ajaib humas?
Atau mungkin keberadaan saya di kampus ini—ada sangkut pautnya dengan tangan ajaib humas.
Sementara, mungkin saya sedang menduga-duga.
Tapi, pikiran saya sangat piawai dalam mengingat masa lalu. Kecelakaan
saya berada di kampus ini murni karena kesalahan saya, bukan karena brosur yang
disulap oleh humas. Dan saya masih ingat dengan jelas—dalam melihat brosur mata saya sedang sehat
tanpa ada gangguan sedikit pun.
Pada waktu itu sekitar tiga tahun yang lalu—saya mendapati brosur yang cukup memiliki kisah
romantis, hingga akhirnya saya berada di kampus ini. Dan saya sangat sadar,
jika ini adalah kesalahan saya. Saya telah dibutakan dengan pemanis dan racikan masif yang ada di
sela-sela kalimat di brosur dengan di sertai gambar yang cukup membuat saya
tertegun dan tergiur. Apalagi dengan beberapa banyak pernyataan fasilitas yang dihidangkan
dan penuh kesesatan—semakin sempurnalah kepandiran saya. Tapi, saya selalu percaya. Karena
kesalahan yang terbaik adalah sebuah kesadaran lalu sabar mengintip hidup
selanjutnya.
Saya pikir awalnya kampus ini seperti di gambar yang ada di brosur. Maklum
saja waktu itu muka saya masih polos dan imut. Jadi memikirkan yang aneh-aneh
belum cukup umur—apalagi sampai berfikir jauh jika hal ini adalah ulah tangan ajaib
humas. Segalanya yang tidak mungkin bisa terjadi, karena humas memiliki jurus jitu
dalam urusan mempercantik realitas. Ia bisa menyulap sesuatu bisa nyata dan
ada.
Dalam batin saya; saya sangat salut dengan keberadaan humas hari ini. Ia
berani menanam seberkas informasi dan menyebarkan kabar-kabar dengkul. Dalam
momen tertentu ia juga bersikap seperti banci. Tidak berjenis dan masih
abu-abu.
Kadang-kadang saya merasa; mengapa fakta yang sifatnya kepentingan public selalu disuguhkan dengan yang
baik-baik saja? Tidakkah ada yang bernyali menyampaikan sesuatu yang
sebenarnya. Bukannya setiap institusi selalu ada corong yang dikerumuni
tikus-tikus genit, misalnya. Tikus yang tidak semestinya di hormati dan
disanjung-sanjung. Dan menurut kitab pribadi saya ‘wajib’ kita mengencingi
tikus itu dalam upaya apa pun.
Tapi saya sadar, bila sejarah humas akan tetap selamanya menjadi banci—banci yang di bentuk, di
buat, di arahkan dan sesekali menghamba pada atasan. Setelah beberapa tahun saya menjalani layaknya sebagai mahasiswa—rasa jengkel dan gusar selalu saya tuduhkan pada humas. Bukan berarti saya
menyimpan dendam dan tuah yang berkepanjangan. Tapi karena sebagai bentuk
kepedulian dan rasa sayang saya pada humas hari ini.
Sejatinya, saya tidak ingin para
pekerja di humas masuk neraka karena dosa yang tidak di sadari. Saya ingin membantu menyelamatkan dan mau membuka
hati untuk sekedar ingat—jika yang dilakukan selama ini adalah
kebohongan-kebohongan. Saya akan
memposisikan sebagai manusia yang selalu membuka pintu maaf pada humas.
Memang sangat tidak mungkin. Kalau pun punya nyali—paling ia akan berfikir—besok saya mau makan apa?
Betapa benar dan saya sangat mengerti. Humas hari ini lahir dari dorongan yang
tidak bisa menyatakan keaslian realitas dan bersikap. Ketidakberanian untuk mengungkapkan yang ada dan
sebenar-benarnya—memang menjadi konstruksi untuk keberadaan humas. Menolak kebohongan dan
kemunafikan adalah anomali yang bias bagi humas.
Dalam hati; saya sedang dihantui cemas—meski perhatian saya sedikit hiperbolik pada
humas. Paling tidak kepedulian saya
memberikan secarik ide dan emosi untuk tidak membohongi banyak orang dengan
dalih yang sangat akut—mulai
berbenah. Humas adalah pekerjaan mengabdi bukan untuk mendengkul.
Karena itu—saya jadi ingat dengan humas
di kampus saya. Humas yang selalu saya kenal lewat berita-berita seputar kampus
dan juga dengan sikapnya yang sering memolek tubuh kampus hingga luput dari
celah. Tak pelak membuat saya gusar—sebab humas di kampus saya sangat baik dan lebih mengedepankan
originalitas fakta. Buktinya, tiap bulan selalu menghadirkan berita-berita
objektif dan informatif. Seakan-akan pada tiap kata, adalah jujur. Semoga
kecurigaan saya cukup kepada humas yang lain.
Bangkalan, Desember 2014
Dafir Falah



0 comments:
Post a Comment