Pages

Labels

Saturday, 17 January 2015

Kemolekan Tubuh Humas Yang Membanci


Sebaik-baik hidup adalah berhubungan baik dengan makhluk lain. Soal bertopeng dan memasang wajah polos; itu hanya kombinasi perihal benar dan lancung. Tapi untuk melintasi batasan-batasan yang kerap menjadi rutinitas dan kepercayaanbutuh pemanis dan rayuan kreativitas.
Hari iniberhubungan baik pada orang lain menjadi peradaban baru untuk menutupi noktah yang asli. Sebab tak ada, apalagi manusia memiliki pengalaman sejarah yang panjang. Meski terkadang manusia mengandung paras dan kelam. Seperti dalam Interaksionisme Simbolik Blumersetiap manusia memiliki cara pandang sendiri dalam urusan berinteraksi.
Seperti saya yang sedang menyusun laku untuk bermuka baik.  Karena menjaga reputasi dan membangun citra diri adalah cara manusia dengan pesonanyadan hal itu wajar. Asalkan kembali seperti se-adanya.
Karena pada hakikatnya manusia memang kerap menampilkan citra dan eksistensi. Apalagi mahasiswa di kampus saya yang sedang krisis pengakuan dan nama. Di luar keterbatasan yang tak lagi dipersoalkan dan karena saya tidak punya urusan apa pun mengenai identitas diri mahasiswaapalagi menyoalnya. Kecuali berkaitan dengan hal-hal yang dianggap berdosa kepada orang banyak.
Saya sangat memafhumikarena sejatinya mahasiswa di kampus saya sedang dalam mencari wadah untuk memuncratkan ide dan bla-bla. Kesesuaian antara keinginan yang membeludak dengan kepastian yang sering menjadi wacana. Dengan angan-angan yang tak terkendali akan memunculkan percikan-percikan yang menyulut pada pemikiran anarki. Maka tentu pihak kampus semestinya tidak hanya bergeming di dalam ruangan yang ber-AC. Perlu kiranya menempatkan segala sesuatunya yang tidak bersifat niskaladengan catatan berani bersikap terbuka dan membuang kebiasaan buruk.
Bukan malah mengambil jalan pintas dengan memberdayakan penyebaran informasi yang berpura-pura dan palsu. Biar kelihatan kerendan menutupi segala tipu daya dengan berdalih bahwa seakan-akan baik-baik saja. Tanpa melalui deretan panjang untuk berkisah dengan bukti-bukti konkrit.  
Saya jadi ingatsekitar beberapa hari yang lalu.  Memang pada saat itu matahari sedang pucat dan terik. Lalu, saya dan teman saya berteduh di tempat yang sudah dianggap milik sendiri. Sambil melanjutkan obrolan yang tadinya sempat terpotong. Analogi yang sering menjadi bahan diskusi adalah keberadaan kampusmeskipun terkadang nihil dan sangat tidak mungkin. Maklum sajakarena kampus saya adalah koservatif yang setia. 
Sepanjang menekuni diskusi yang mulai larut. Kini perhatian saya tertuju pada humas atau Puclic Relation’. Dalam hal ini saya terkesan seperti mendapatkan ilham untuk sedikit membicarakannya. Satu perkara yang tak henti-hentinya saya lupakan, dan selalu menyimpan curiga yang dalam.
Bagi saya humas memang sering bersikap baik dengan public, kedekatan humas memang sangat dijaga dan bahkan selalu melimpahkan turah. Apalagi saya menganggap pekerjaan humas adalah pekerjaan yang indah dan spesial. Kebiasaan humas yang sering menebarkan pesona lewat informasi konsumtifmembuat saya semakin bergairah untuk menelanjanginya. Tapi biasanya pekerjaan humas sering menyulap sesuatu menjadi absah. Bukahnkah begitu? Atau hanya pikiran saya yang sedang klenik.
Mereka yang pandir. Seketika terkesima dengan keberadaan humas. Sebab humas telah mampu membuat satu statmen menjadi satu kesimpulan yang benar. Menjelaskan logika hipokrit kepada public sebagai bentuk rutinitas dan ruh dalam tubuh humas. Kita selalu mendengar derunya informasi lewat apologi yang bergegas di luar kesadaran diri manusia pada umumnya.
Siapa yang tidak percaya pada humas? Mengapa setiap perusahan, organisasi, instansi, perguruan tinggi dan bahkan warung kopibutuh tangan ajaib humas? Atau mungkin keberadaan saya di kampus iniada sangkut pautnya dengan tangan ajaib humas. Sementara, mungkin saya sedang menduga-duga.
Tapi, pikiran saya sangat piawai dalam mengingat masa lalu. Kecelakaan saya berada di kampus ini murni karena kesalahan saya, bukan karena brosur yang disulap oleh humas. Dan saya masih ingat dengan jelasdalam melihat brosur mata saya sedang sehat tanpa ada gangguan sedikit pun.
Pada waktu itu sekitar tiga tahun yang lalusaya mendapati brosur yang cukup memiliki kisah romantis, hingga akhirnya saya berada di kampus ini. Dan saya sangat sadar, jika ini adalah kesalahan saya. Saya telah dibutakan dengan pemanis dan racikan masif yang ada di sela-sela kalimat di brosur dengan di sertai gambar yang cukup membuat saya tertegun dan tergiur. Apalagi dengan beberapa banyak pernyataan fasilitas yang dihidangkan dan penuh kesesatansemakin sempurnalah kepandiran saya. Tapi, saya selalu percaya. Karena kesalahan yang terbaik adalah sebuah kesadaran lalu sabar mengintip hidup selanjutnya.
Saya pikir awalnya kampus ini seperti di gambar yang ada di brosur. Maklum saja waktu itu muka saya masih polos dan imut. Jadi memikirkan yang aneh-aneh belum cukup umurapalagi sampai berfikir jauh jika hal ini adalah ulah tangan ajaib humas. Segalanya yang tidak mungkin bisa terjadi, karena humas memiliki jurus jitu dalam urusan mempercantik realitas. Ia bisa menyulap sesuatu bisa nyata dan ada.
Dalam batin saya; saya sangat salut dengan keberadaan humas hari ini. Ia berani menanam seberkas informasi dan menyebarkan kabar-kabar dengkul. Dalam momen tertentu ia juga bersikap seperti banci. Tidak berjenis dan masih abu-abu.
Kadang-kadang saya merasa; mengapa fakta yang sifatnya kepentingan public selalu disuguhkan dengan yang baik-baik saja? Tidakkah ada yang bernyali menyampaikan sesuatu yang sebenarnya. Bukannya setiap institusi selalu ada corong yang dikerumuni tikus-tikus genit, misalnya. Tikus yang tidak semestinya di hormati dan disanjung-sanjung. Dan menurut kitab pribadi saya ‘wajib’ kita mengencingi tikus itu dalam upaya apa pun.
Tapi saya sadar, bila sejarah humas akan tetap selamanya menjadi bancibanci yang di bentuk, di buat, di arahkan dan sesekali menghamba pada atasan. Setelah beberapa tahun saya menjalani layaknya sebagai mahasiswa—rasa jengkel dan gusar selalu saya tuduhkan pada humas. Bukan berarti saya menyimpan dendam dan tuah yang berkepanjangan. Tapi karena sebagai bentuk kepedulian dan rasa sayang saya pada humas hari ini.
Sejatinya, saya tidak ingin para pekerja di humas masuk neraka karena dosa yang tidak di sadari. Saya ingin membantu menyelamatkan dan mau membuka hati untuk sekedar ingat—jika yang dilakukan selama ini adalah kebohongan-kebohongan. Saya akan memposisikan sebagai manusia yang selalu membuka pintu maaf pada humas.
Memang sangat tidak mungkin. Kalau pun punya nyalipaling ia akan berfikirbesok saya mau makan apa? Betapa benar dan saya sangat mengerti. Humas hari ini lahir dari dorongan yang tidak bisa menyatakan keaslian realitas dan bersikap. Ketidakberanian untuk mengungkapkan yang ada dan sebenar-benarnya—memang menjadi konstruksi untuk keberadaan humas. Menolak kebohongan dan kemunafikan adalah anomali yang bias bagi humas.
Dalam hati; saya sedang dihantui cemas—meski perhatian saya sedikit hiperbolik pada humas. Paling tidak kepedulian saya memberikan secarik ide dan emosi untuk tidak membohongi banyak orang dengan dalih yang sangat akutmulai berbenah. Humas adalah pekerjaan mengabdi bukan untuk mendengkul.
Karena itusaya jadi ingat dengan humas di kampus saya. Humas yang selalu saya kenal lewat berita-berita seputar kampus dan juga dengan sikapnya yang sering memolek tubuh kampus hingga luput dari celah. Tak pelak membuat saya gusarsebab humas di kampus saya sangat baik dan lebih mengedepankan originalitas fakta. Buktinya, tiap bulan selalu menghadirkan berita-berita objektif dan informatif. Seakan-akan pada tiap kata, adalah jujur. Semoga kecurigaan saya cukup kepada humas yang lain.

Bangkalan, Desember 2014
Dafir Falah

0 comments: