Berbicara mahasiswa, maka
tidak akan pernah usai untuk kita wacanakan. Apalagi sering kita lihat dari
berbagai kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa, bagi sebagian besar mahasiswa,
mengambil kegiatan organisasi intra disela-sela kesibukan berkuliah menjadi
suatu kebutuhan yang penting demi menyeimbangkan kinerja otak kiri dan kanan.
Apalagi kegiatan kuliah yang
cendrung lebih banyak duduk dan memikirkan teori yang diberikan dosen, kuliah
sering kali membuat “mandul”otak kanan mahasiswa itu sendiri.
Ketika sebagian mahasiswa
menyibukkan dirinya dengan kegiatan-kegiatan kampus seperti halnya organisasi
intra kampus, terkadang apa yang menjadi tujuan utama dimana mahasiswa itu
sendiri yang sebagian besar selalu disibukkan oleh kegiatan belajar
mengajar kadang lupa bahwa soft skill
yang mereka dapatkan selama duduk di bangku perkulihan jika tidak diimbangi
dengan kemampuan praktek di lapangan, justru akan membuat mahasiswa menjadi
pasif, dan barangkali hanya menjadi konseptor tanpa mampu mengaplikasikan buah pikirannya
sendiri.
Pada dasarnya semua itu
benar, apabila setiap organisasi intra yang ada, dan itu wilayah kerjanya di
dalam kampus, seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Badan Eksekutif
Mahasiswa (BEM).
Dimana hal itu tidak terlepas
dari perlindungan di bawah naungan perguruan tinggi tempat organisasi tersebut
diberdirikan dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan kebijakan yang diberikan
oleh pihak birokrasi kampus.
Selain dari itu, juga mampu
memberikan kontribusi yang besar terhadap mahasiswa dimana ini merupakan hal
yang baik untuk menggali potensi yang mereka miliki, oleh sebab itu mahasiswa
berhak memilih organisasi yang dia ingin masuki serta mahasiswa juga berhak
mengambil manfaat dari organisasi tersebut, meski masih banyak politik praktis
di tubuh organisasi itu sendiri.
Terlepas dari itu penulis
kira apa pandangan masyarakat akan mahasiswa sebagai sosok yang intelek mampu
menambah gengsi seseorang yang gemar beraktifitas, menjadikan mahasiswa
tersebut sebagai sosok pahlawan bangsa setingkat dengan para pejuang
kemerdekaan dengan sebutan aktivis.
Sebenarnya ketika berbicara
organisasi maka kemudian banyak hal yang perlu menjadi bahan pertimbangan, dari
mulai organisasi yang begitu banyak meskipun beda ideologi namun memiliki
tujuan yang kurang lebih sama.
Dan tentunya salah satu
tujuan utama dari setiap organisasi adalah berusaha menyebarkan pengaruh dan
pesona dari masing-masing organisasi agar mampu diterima oleh seluruh mahasiswa
baru, hal itu terbukti ketika para senior mencoba melakukan aksinya dan
berlomba-lomba dengan organisasi lainnya untuk mencari generasi penerus yang
mumpuni agar semangat “aktivis mahasiswa” yang telah di tumbuhkan selama ini
tidak menghilang begitu saja.
Namun hal itu menjadi wajar
tatkala semua organisasi yang ada mengajak sebagian mahasiswa baru untuk ikut
serta dalam organisasi tersebut meski banyak terjadi tindakan politik praktis
(dan bahkan berwujung anarkis) dari organisasi yang satu dengan yang lainnya.
Karena itulah kemudian
masalah-masalah yang disebabkan karena adanya politik praktis, dan salah
satunya adalah dari setiap organisasi intra ketika melakukan misi-misinya untuk
mengajak mahasiswa baru dengan ideologinya yang barangkali menjelek-jelekkan
organisasi yang lain, itulah kemudian yang menjadi polemik di setiap kubu
organisasi intra, karena tidak adanya keterbukaan dan paradigma yang searah.
Terkadang organisasi intra
memang sebenarnya untuk mendidik mental agar tidak lembek dan selalu
mengajarkan untuk menyusun strategi bagaimana untuk memberikan warna tersendiri
dalam kampus.
Namun di sisi lain itu hanya
merupakan tujuan yang terakhir dari misinya.
Sebab hal yang utama untuk
memperbanyak suara yang maksimal ketika ada Pemilihan Presiden Mahasiswa
(Presma) yang secara kebetulan calon tersebut dari anggota organisasi itu
sendiri.
Maka kemudian ketika politik
praktis itu sudah dijalankan harapan yang paling penting tidak lain ialah untuk
memenangkan pemilihan tersebut.
Dan itu merupakan mekanisme
yang sudah menyetubuh di setiap organisasi yang ada.
Bahkan di perguruan tinggi
manapun ketika berbicara organisasi, baik organisasi intra maupun ekstra.
Hal yang tidak bisa
dihilangkan adalah mengenai politik praktisnya, dan itu sudah menjadi konsepsi
dari setiap organisasi.
Penulis kira, dengan apa yang
sering terjadi mengenai politik praktis, maka yang timbul adalah saling
menyalahkan satu sama lain dan organisasi yang di tempati itu yang paling benar.
Sejauh ini, penulis pikir itu
merupakan tindakan yang kurang etis. Sebab munculnya organisasi di perguruan
tinggi, idealnya tidak lagi sebagai kelompok yang hanya bisa mengkafirkan
organisasi yang lain dan membenarkan organisasinya sendiri.
Padahal tujuan utama
berdirinya organisasi yaitu mengembangkan soft
kill yang ada, selain hanya berpangku tangan pada teori-teori yang sering
di khotbahkan oleh dosen, tapi juga bersama-sama mengawal kepicikan yang
seringkali dilakukan sang penguasa dan tidak berpihak terhadap kebijakan yang
seharusnya bisa di rasakan bersama.
Bangkalan, 13 November 2013
Dafir Falah



0 comments:
Post a Comment