Pages

Labels

Friday, 13 December 2013

Mengenang Inspirator

Kau tak membuatku berhenti melangkah.
Detik itu, sebuah episode tentang kegigihanmu, sekarang kau sudah pergi jauh,” aku tahu itu”. Perpisahan yang telah membawa kita pada kesepian yang nyata, hanya do’a - do’a yang terangkai panjang dalam sujud rinduku. Jika tangis bersiap diri menyapa salam, harusnya kau paham - aku sekedar mencoba untuk tegar.” (Guru, Sang Inspirator).
Perpisahan masa yang memang sudah lama terjadi. Namun, banyangnya yang tidak membuat saya lusuh untuk mengabadikan semuanya.
Saya masih ingat betul pada waktu yang lelap itu, “sekitar jam 02.00 Wib dini hari”, desiran angin yang semakin kencang berhembus, suara anak malam terus berkhidmat dalam duka.
Menyaksikan kegelisahan yang tak disengaja penuh dengan tangisan. Harapan hanya menjadi debu yang terseret angin.
Keringat emosi mulai tak terkendali, menunggu kabar seorang  “guru” yang sebelumnya sudah terkena penyakit. Kemudian daun-daun terus berjatuhan, meng-iyakan dugaan kepastian akan firasat tentang guru saya: “KH.Mustofa”.

Pada saat itu saya merasa masih tidak percaya, sebab setahu saya beliau masih baik-baik saja.
Setiap kali saya pulang dari perantauan, biasanya saya sering melihat beliau meluangkan waktunya bercengkrama di pagi hari, menikamati sejuknya embun pagi menabur aroma bak mentari yang bersinar indah – dengan memakai sarung putih, kaos putih dan peci putih menjadikan ciri khas warna favoritnya untuk selalu menyisir lorong berjalan penuh semangat.
Kebiasaan itu memang sering dilakukan oleh beliau, meski sibuk berikrar setiap waktu yang kerap menjadi rutinitas sehari-hari. Namun, tak membuat sang Inspirator rengkuh pada kepasrahan untuk menyerah terhadap tanggung jawabnya.

Bahasa daun yang terus mengitari rasa penasaran akan kondisi beliau yang sesungguhnya, sehingga keingintahuan saya terus berlanjut pada tanya, mencari jawaban sederhana atas kegelisahan.
Akhirnya, saya baru tahu semenjak pulang kampung. Iya,  saya dengar kabar itu dari ibu saya sendiri. Ibu saya memanggil saya, “Nak! Gurumu sekarang sedang sakit, beliau sudah lumayan lama dirawat di rumah sakit, sakit apa bu?, Sahutku” –  ibu saya cuma menggeleng-gelengkan kepala, baru kali ini ibu saya terlihat tidak seperti biasanya, saya mengira ada rahasia yang ditutup-tutupi oleh ibu saya, sebab dari raut wajahnya terlihat kaku (pikirku penuh curiga), pasti ada sesuatu yang disembunyikan mengenai kesehatan “guru” saya.
Ibu saya hanya berpesan, “nak, setiap kali kamu sholat – ingat! do’akan gurumu yang sudah banyak mengajarimu semenjak kamu kelas empat SD, supaya ia lekas sembuh dari penyakitnya. Amin.”

Dua hari sudah berlalu, sebuah tanya yang tetap angkuh. Entah apa yang terbesit dibenakknya, kecurigaan saya semakin mendera dalam hati, rasa penasaran untuk ingin tahu kabar seorang “guru” yang selama ini sudah banyak mengajari saya tentang arti kehidupan, (tanyaku dalam hati), "Jangan-jangan beliau terkena penyakit parah?
Ternyata dugaanku benar, kalau beliau memang terkena penyakit parah. Saya tidak bisa memastikan penyakit apa yang diderita beliau, karena saya sendiri belum tahu sebenarnya, cuma ada salah satu teman kampung yang kebetulan memberitahu saya mengenai kondisi beliau.

Hemmmm, saya sempat berfikir: kucurigaan saya pasti benar, meskipun saya bukan peramal yang bisa menebak hari esok, dengan segala kesombongannya dan pura-pura tahu atas dalih bisa menjawab persoalan kehidupan.
Tapi, saya yakin bahwa firasat ini semakin mendebu-debu menyakinkan kepastian dugaan saya.
Akhirnya tidak lama kemudian, bahwa ada kabar tentang beliau: kalau beliau sudah perjalanan pulang dari rumah sakit dr. SOETOMO Surabaya menuju Madura. Sejenak “terlintas” di kepala saya, pasti beliau sudah sembuh total, mungkin cuma butuh istirahat atau rawat rumah.

Ah, membias dalam sesaat, semua palsu. Angan-angan untuk melihat beliau sembuh, ternyata hanya harapan. Dengan berpasrah hati, menerima takdir bahwa beliau sudah MENINGGAL. 
Kabar ini, memang tidak sedap. Saya pun merasa, jika ini rencana Tuhan: mengapa beliau yang diambil, “tanyaku emosi.
Saya percaya mengenai “KEMATIAN” bahwa hal ini merupakan perihal keniscayaan. Pasti terjadi. Tidak satu pun makhluk bernyawa bisa menghindar darinya. Dan, tidak pula sanggup mencegahnya.

Gemuruh tangis terdengar di anak malam. Kehilangan sudah pasti, rencana bahagia mulai patah satu per-satu.
Keinginan untuk bermanja-manja dalam mendengarkan petuah agama sudah tinggal kenangan. Setali tiga uang dengan kematian, ”kenangan” pun dominan dalam menguasai ”bangunan ingatan”.
Saya teringat petuah Étienne Bonnot de Condillac (1715-1780). Kita dilahirkan di tengah-tengah labirin, katanya, dengan seribu kelokan yang dibuat hanya untuk satu tujuan: menyesatkan kita.
Seperti itulah kenangan. Kalaupun terlihat ada ”jalan keluar” menuju kemerdekaan pikiran dari ”penjajahan kenangan”, jalan itu tidak lapang dan tidak bisa langsung terlihat.Keinginan untuk bersama-sama beliau, gugur sudah.
Bukan hanya dambaan saya untuk melihat beliau lebih lama. Namun, banyak orang-orang disekitarnya yang tak merelakan beliau berangkat ke surga lebih dulu.
Sisa tangis yang tersendu-sendu, masih membekas dalam hangatnya suasana duka. Kepergian beliau merupakan kuasa Tuhan yang tak satupun manusia bisa menyimpulkannya, saya berharap Tuhan memberikan tempat yang setimpal dengan perjuangannya menegakkan siar Islam.

Saya yakin – sebagai wujud pertapaan pengabdian saya pada kehidupan, biarlah sang Inspirator telah pergi menemui Tuhan.
Di satu sisi,  saya memang sadar- bahwa tidak semua manusia bisa ikhlas menerima segala bentuk sekenario Tuhan.
Di sini, bersama nasehat dan spiritual yang membawa saya terus melaju menentang impian,  yakin pada suatu titik- hidup terus berlanjut, tinggal bagaimana kita memolesnya.

“Selamat Jalan Sang Inspirator, Hiduplah dengan Damai di Alam Sana,”


Dafir Falah
Bangkalan, 19 Nopember 2013

0 comments: