“Kau tak membuatku
berhenti melangkah.
Detik itu, sebuah episode
tentang kegigihanmu, sekarang kau sudah pergi jauh,” aku tahu itu”. Perpisahan
yang telah membawa kita pada kesepian yang nyata, hanya do’a - do’a yang
terangkai panjang dalam sujud rinduku. Jika tangis bersiap diri menyapa salam,
harusnya kau paham - aku sekedar mencoba untuk tegar.” (Guru, Sang Inspirator).
Perpisahan masa yang memang
sudah lama terjadi. Namun, banyangnya yang tidak membuat saya lusuh untuk
mengabadikan semuanya.
Saya masih ingat betul pada
waktu yang lelap itu, “sekitar jam 02.00 Wib dini hari”, desiran angin yang
semakin kencang berhembus, suara anak malam terus berkhidmat dalam duka.
Menyaksikan kegelisahan yang
tak disengaja penuh dengan tangisan. Harapan hanya menjadi debu yang terseret
angin.
Keringat emosi mulai tak
terkendali, menunggu kabar seorang “guru” yang sebelumnya sudah terkena
penyakit. Kemudian daun-daun terus berjatuhan, meng-iyakan dugaan kepastian
akan firasat tentang guru saya: “KH.Mustofa”.
Pada saat itu saya merasa
masih tidak percaya, sebab setahu saya beliau masih baik-baik saja.
Setiap kali saya pulang dari
perantauan, biasanya saya sering melihat beliau meluangkan waktunya
bercengkrama di pagi hari, menikamati sejuknya embun pagi menabur aroma bak
mentari yang bersinar indah – dengan memakai sarung putih, kaos putih dan peci
putih menjadikan ciri khas warna favoritnya untuk selalu menyisir lorong
berjalan penuh semangat.
Kebiasaan itu memang sering
dilakukan oleh beliau, meski sibuk berikrar setiap waktu yang kerap menjadi
rutinitas sehari-hari. Namun, tak membuat sang Inspirator rengkuh pada
kepasrahan untuk menyerah terhadap tanggung jawabnya.
Bahasa daun yang terus
mengitari rasa penasaran akan kondisi beliau yang sesungguhnya, sehingga
keingintahuan saya terus berlanjut pada tanya, mencari jawaban sederhana atas
kegelisahan.
Akhirnya, saya baru tahu
semenjak pulang kampung. Iya, saya dengar kabar itu dari ibu saya
sendiri. Ibu saya memanggil saya, “Nak! Gurumu sekarang sedang sakit, beliau
sudah lumayan lama dirawat di rumah sakit, sakit apa bu?, Sahutku” – ibu saya cuma menggeleng-gelengkan kepala,
baru kali ini ibu saya terlihat tidak seperti biasanya, saya mengira ada
rahasia yang ditutup-tutupi oleh ibu saya, sebab dari raut wajahnya terlihat
kaku (pikirku penuh curiga), pasti ada sesuatu yang disembunyikan mengenai
kesehatan “guru” saya.
Ibu saya hanya berpesan,
“nak, setiap kali kamu sholat – ingat! do’akan gurumu yang sudah banyak
mengajarimu semenjak kamu kelas empat SD, supaya ia lekas sembuh dari
penyakitnya. Amin.”
Dua hari sudah berlalu,
sebuah tanya yang tetap angkuh. Entah apa yang terbesit dibenakknya, kecurigaan
saya semakin mendera dalam hati, rasa penasaran untuk ingin tahu kabar seorang
“guru” yang selama ini sudah banyak mengajari saya tentang arti kehidupan,
(tanyaku dalam hati), "Jangan-jangan beliau terkena penyakit parah?
Ternyata dugaanku benar,
kalau beliau memang terkena penyakit parah. Saya tidak bisa memastikan penyakit
apa yang diderita beliau, karena saya sendiri belum tahu sebenarnya, cuma ada salah
satu teman kampung yang kebetulan memberitahu saya mengenai kondisi beliau.
Hemmmm, saya sempat berfikir:
kucurigaan saya pasti benar, meskipun saya bukan peramal yang bisa menebak hari
esok, dengan segala kesombongannya dan pura-pura tahu atas dalih bisa menjawab
persoalan kehidupan.
Tapi, saya yakin bahwa
firasat ini semakin mendebu-debu menyakinkan kepastian dugaan saya.
Akhirnya tidak lama kemudian,
bahwa ada kabar tentang beliau: kalau beliau sudah perjalanan pulang dari rumah
sakit dr. SOETOMO Surabaya
menuju Madura. Sejenak “terlintas” di kepala saya, pasti beliau sudah sembuh
total, mungkin cuma butuh istirahat atau rawat rumah.
Ah, membias dalam sesaat,
semua palsu. Angan-angan untuk melihat beliau sembuh, ternyata hanya harapan.
Dengan berpasrah hati, menerima takdir bahwa beliau sudah MENINGGAL.
Kabar ini, memang tidak
sedap. Saya pun merasa, jika ini rencana Tuhan: mengapa beliau yang diambil,
“tanyaku emosi.
Saya percaya mengenai “KEMATIAN” bahwa hal
ini merupakan perihal keniscayaan. Pasti terjadi. Tidak satu pun makhluk
bernyawa bisa menghindar darinya. Dan, tidak pula sanggup mencegahnya.
Gemuruh tangis terdengar di
anak malam. Kehilangan sudah pasti, rencana bahagia mulai patah satu per-satu.
Keinginan untuk
bermanja-manja dalam mendengarkan petuah agama sudah tinggal kenangan. Setali
tiga uang dengan kematian, ”kenangan” pun dominan dalam menguasai ”bangunan
ingatan”.
Saya teringat petuah Étienne
Bonnot de Condillac (1715-1780). Kita dilahirkan di tengah-tengah labirin,
katanya, dengan seribu kelokan yang dibuat hanya untuk satu tujuan: menyesatkan
kita.
Seperti itulah kenangan.
Kalaupun terlihat ada ”jalan keluar” menuju kemerdekaan pikiran dari
”penjajahan kenangan”, jalan itu tidak lapang dan tidak bisa langsung terlihat. Keinginan
untuk bersama-sama beliau, gugur sudah.
Bukan hanya dambaan saya
untuk melihat beliau lebih lama. Namun, banyak orang-orang disekitarnya yang
tak merelakan beliau berangkat ke surga lebih dulu.
Sisa tangis yang
tersendu-sendu, masih membekas dalam hangatnya suasana duka. Kepergian beliau
merupakan kuasa Tuhan yang tak satupun manusia bisa menyimpulkannya, saya
berharap Tuhan memberikan tempat yang setimpal dengan perjuangannya menegakkan
siar Islam.
Saya yakin – sebagai wujud
pertapaan pengabdian saya pada kehidupan, biarlah sang Inspirator telah pergi
menemui Tuhan.
Di satu sisi, saya
memang sadar- bahwa tidak semua manusia bisa ikhlas menerima segala bentuk
sekenario Tuhan.
Di sini, bersama nasehat dan
spiritual yang membawa saya terus melaju menentang impian, yakin pada
suatu titik- hidup terus berlanjut, tinggal bagaimana kita memolesnya.
“Selamat
Jalan Sang Inspirator, Hiduplah dengan Damai di Alam Sana,”
Dafir
Falah
Bangkalan,
19 Nopember 2013



0 comments:
Post a Comment